ALMA - The Controller
Alma bekerja dengan kemungkinan buruk.
Setiap pagi, sebelum orang-orang di kantornya mulai membuka laptop dan memikirkan kopi pertama mereka, Alma sudah lebih dulu membaca laporan tentang hal-hal yang mungkin tidak akan pernah terjadi. Kebocoran data, kecelakaan kerja, kesalahan manusia, kegagalan sistem. Ia dibayar untuk membayangkan bagaimana sesuatu bisa hancur, lalu memastikan hal itu tidak pernah benar-benar terjadi.
Pekerjaannya sebagai risk and crisis consultant membuatnya sangat dihargai.
Orang-orang datang kepadanya ketika mereka membutuhkan seseorang yang mampu melihat celah di antara hal-hal yang tampak sempurna. Alma bisa menemukan pintu darurat yang tidak berfungsi hanya dengan membaca denah gedung. Ia bisa mengetahui bahwa sebuah proyek akan bermasalah berbulan-bulan sebelum orang lain menyadarinya.
Ia menyukai pekerjaan itu karena pekerjaan itu memberikan sesuatu yang tidak pernah diberikan kehidupan kepadanya.
Kepastian.
“Kalau sesuatu bisa salah,” katanya suatu kali kepada rekan kerjanya, “kenapa menunggu sampai benar-benar salah?”
Ia mengucapkannya sambil terus membaca laporan, seolah kalimat itu hanya bagian dari pekerjaannya.
Padahal kalimat itu sebenarnya adalah cara Alma menjalani hidup.
Di rumah pun ia memiliki sistem sendiri.
Pintu diperiksa dua kali sebelum tidur. Kompor dua kali. Alarm tiga kali. Bukan karena ia menganggap apartemennya berbahaya, melainkan karena Alma tidak pernah percaya pada kata seharusnya. Pintu seharusnya sudah terkunci. Kompor seharusnya sudah mati. Alarm seharusnya berbunyi.
Seharusnya tidak pernah cukup baginya.
Suatu malam, ketika Alma sedang memeriksa pintu untuk kedua kalinya, Mira berdiri di belakangnya sambil menggosok mata.
“Mama sudah cek tadi.”
Alma menoleh. “Mama tahu.”
“Terus kenapa dicek lagi?”
Alma tersenyum kecil. “Karena memastikan itu tidak ada salahnya.”
Mira memandang pintu, kemudian ibunya.
“Kalau Mama sudah yakin, kenapa harus memastikan?”
Alma tidak langsung menjawab.
Ada pertanyaan-pertanyaan yang terdengar terlalu sederhana sampai kita menyadari bahwa jawabannya tidak sesederhana itu.
“Karena Mama suka semuanya aman,” katanya akhirnya.
Mira mengangguk dan berjalan kembali ke kamarnya.
Alma menatap pintu beberapa detik sebelum mematikan lampu.
Ia tidak mengatakan bahwa yang sebenarnya ia sukai bukan keamanan.
Ia menyukai kendali.
Alma membesarkan Mira dengan cara yang sama seperti ia mengelola pekerjaannya: hati-hati, terencana, dan sedikit berlebihan.
Mira memiliki jadwal belajar, jadwal bermain, bahkan daftar kecil berisi barang-barang yang harus dibawa setiap kali pergi. Ketika anak itu mulai pulang sendiri dari kelas tambahan, Alma menjemputnya lagi. Ketika Mira berteman dengan seorang anak yang menurut Alma terlalu kasar, ia berbicara kepada gurunya. Ketika Mira ingin mengikuti perjalanan sekolah selama dua minggu, jawaban Alma bahkan tidak membutuhkan waktu untuk dipikirkan.
“Tidak.”
Mira yang sedang makan berhenti mengunyah.
“Kenapa?”
“Karena dua minggu terlalu lama.”
“Aku bisa jaga diri.”
“Mama tahu.”
“Terus?”
Alma meletakkan sendoknya.
“Mama bilang tidak.”
Mira menatapnya cukup lama. “Mama nggak percaya aku.”
Kalimat itu membuat sesuatu bergerak di dalam dada Alma.
Bukan rasa bersalah.
Belum.
Lebih seperti kemarahan yang muncul ketika seseorang menyentuh bagian dirinya yang selama ini ia lindungi.
“Aku cuma ingin kamu aman.”
“Aku juga.”
“Kalau begitu dengarkan Mama.”
Mira menunduk dan kembali makan.
Percakapan itu selesai, tetapi Alma tahu sebenarnya belum selesai.
Ia hanya berhasil membuat dirinya menang.
Dan entah mengapa, kemenangan itu terasa seperti kehilangan sesuatu.
Kael adalah satu-satunya orang yang tidak pernah benar-benar tunduk pada sistem Alma.
Ia bisa datang terlambat tanpa merasa bersalah, mengubah rencana makan malam beberapa menit sebelum mereka berangkat, atau membawa Mira ke taman ketika Alma sudah merencanakan sore mereka di rumah.
“Dia cuma main lumpur,” kata Kael ketika Alma melihat sepatu Mira yang penuh tanah.
“Sepatunya baru.”
“Sekarang sudah punya cerita.”
Alma menatapnya.
“Kamu selalu punya jawaban.”
“Karena kamu selalu punya pertanyaan.”
Mira tertawa dari belakang mereka.
Alma mencoba menahan senyum.
Itulah yang membuat Kael berbeda. Ia tidak mencoba mengalahkan Alma. Ia hanya menolak bermain dengan aturan yang dibuat Alma.
Mungkin itu juga alasan Alma menyukainya.
Kael mengingatkannya bahwa hidup tidak selalu perlu dipersiapkan.
Namun semakin ia mencintai laki-laki itu, semakin besar pula ketakutan yang tidak ingin ia akui.
Bagaimana jika sesuatu terjadi?
Bagaimana jika Kael pergi?
Bagaimana jika Mira suatu hari tidak membutuhkannya?
Bagaimana jika semua hal yang selama ini berhasil ia jaga akhirnya tetap hilang?
Maka Alma melakukan satu-satunya hal yang ia tahu.
Ia mencoba mengendalikan semuanya lebih keras.