12 Ways To Die

Wangi Gitaswara
Chapter #3

One More Thing. . .

SORA - The Inquisitive

Sora selalu kesulitan meninggalkan sesuatu yang membuatnya penasaran.

Ia bisa saja berjalan melewati sebuah rumah tua tanpa memperhatikannya. Setelah itu, rumah tersebut akan tinggal di kepalanya selama berhari-hari. Ia akan bertanya siapa yang pernah tinggal di sana, mengapa rumah itu kosong, dan apa yang mungkin masih tertinggal di dalamnya.

Itulah sebabnya pekerjaannya sebagai fotografer dokumenter sekaligus pencari lokasi terasa begitu cocok untuknya.

Ia dibayar untuk melihat.

Dan Sora suka melihat terlalu jauh.

Kanya sudah lama mengetahui kebiasaan itu.

“Kita pulang, Sora.”

“Sebentar.”

“Kamu bilang begitu dua puluh menit lalu.”

Sora masih membungkuk di depan kamera, mencoba mendapatkan sudut terakhir dari sebuah bangunan tua.

“Cahayanya bagus.”

“Besok juga ada matahari.”

“Tidak dengan cahaya yang sama.”

Kanya tertawa kecil. “Itulah masalahmu.”

Sora menoleh.

“Apa?”

“Kamu selalu merasa kalau sesuatu tidak diambil sekarang, kamu akan kehilangan kesempatan selamanya.”

Sora memandang hasil fotonya, kemudian tersenyum.

“Mungkin memang begitu.”

Kanya tidak menjawab.

Ia sudah tahu Sora tidak pernah benar-benar mengerti arti kata cukup.

Beberapa hari kemudian, seorang produser bernama Rama menawarkan proyek baru.

Mereka pernah bekerja sama beberapa kali. Rama cukup mengenal Sora untuk tidak memberikan penjelasan terlalu lengkap ketika ingin membuatnya tertarik.

Ia menggeser sebuah tablet ke hadapan Sora, menunjukkannya foto sebuah hotel tua. Bangunannya masih megah meskipun sebagian besar jendela telah pecah dan tanaman liar tumbuh di sepanjang dinding.

“Sudah berapa lama kosong?” tanya Sora.

“Hampir dua puluh tahun.”

“Kenapa?”

“Masalah kepemilikan.”

Sora memperbesar foto.

“Masih boleh masuk?”

“Secara resmi, iya.”

“Secara tidak resmi?”

Rama tersenyum.

“Itu tergantung seberapa penasaran kamu.”

Sora tertawa.

Rama menjelaskan bahwa rumah produksinya ingin menggunakan hotel itu sebagai lokasi film. Ia membutuhkan dokumentasi kondisi bangunan dan beberapa foto untuk presentasi.

“Bagian belakang jangan dimasuki sendirian,” katanya sebelum Sora pergi.

“Kenapa?”

“Lantainya rapuh.”

“Sudah pernah masuk?”

“Pernah.”

“Terus?”

Rama mengangkat bahu.

“Tidak semua tempat perlu dijelajahi sampai habis.”

Sora menatapnya sebentar.

Kemudian ia mengambil kunci.

“Aku justru suka tempat seperti itu.”

Rama tersenyum.

“Aku tahu.”

Hotel tersebut jauh lebih besar daripada yang terlihat di foto. Sora menghabiskan hampir sepanjang hari bersama Kanya untuk mendokumentasikan lantai pertama. Lobi, restoran, kamar-kamar lama. Sebagian besar ruangan tidak menawarkan apa-apa selain debu dan furnitur yang ditinggalkan.

Menjelang sore, ketika Kanya sedang mencatat kondisi sebuah lukisan tua, Sora melihat lorong sempit di belakang dapur.

“Ada pintu di sana.”

Kanya bahkan tidak menoleh.

“Jangan.”

Sora tertawa.

“Aku belum bilang mau buka.”

“Wajahmu sudah bilang.”

Mereka berjalan mendekat.

Pintunya berbeda dari pintu lain. Kayunya lebih gelap, gagangnya terbuat dari kuningan, dan tidak ada nomor ruangan di atasnya.

Sora menyentuh gagangnya.

Terkunci.

“Besok kita tanya Rama,” kata Kanya.

Sora mengangguk.

“Baik.”

Kanya menatapnya curiga.

“Aku serius.”

“Aku juga.”

Untuk kali pertama hari itu, Sora benar-benar meninggalkan pintu tersebut.

Setidaknya untuk beberapa jam.

Malamnya, Sora kembali.

Ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia hanya ingin mengambil beberapa foto tambahan. Tidak ada alasan untuk menunggu sampai besok jika ia bisa menyelesaikan pekerjaannya malam ini.

Pintu belakang ternyata tidak terkunci lagi.

Ruangan di baliknya lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Ada rak kayu, beberapa koper, dokumen lama, dan benda-benda yang tampaknya belum disentuh selama bertahun-tahun.

Sora mengangkat kameranya.

Ia mulai memotret.

Kemudian ia melihat sebuah kotak kecil di bawah rak.

Di dalamnya terdapat kamera analog.

Benda itu tampak hampir terlalu bersih dibandingkan barang-barang lain di ruangan tersebut.

Sora mengangkatnya.

Masih ada film di dalamnya.

Ia memutar kamera itu di tangannya, memperhatikan setiap detail, sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam tas.

“Kalau ini punya hotel, mereka bisa ambil lagi besok.”

“Tidak akan.”

Suara laki-laki dari belakang membuat Sora terkejut.

Ia berbalik.

Seorang laki-laki berdiri di pintu.

Tidak memakai seragam. Tidak membawa alat apa pun selain sebuah senter.

“Siapa kamu?”

“Dru.”

“Dru siapa?”

“Dru saja.”

Sora menatapnya.

Lihat selengkapnya