12 Ways To Die

Wangi Gitaswara
Chapter #4

The Forgotten Book

ALARA

19 Maret 2026

Alara terbiasa mendengarkan orang lain bercerita tentang hal-hal yang tidak sanggup mereka katakan kepada siapa pun.

Selama beberapa tahun bekerja sebagai psikolog di sebuah klinik swasta, ia belajar bahwa manusia jarang datang membawa masalah yang sebenarnya. Mereka datang membawa gejalanya: sulit tidur, kecemasan, hubungan yang berantakan, kemarahan yang tidak mereka mengerti. Di balik semuanya biasanya ada sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, dan jauh lebih sulit disentuh.

Alara menyukai bagian itu.

Ia percaya hampir semua hal memiliki sebab. Dan selama seseorang bersedia mencari cukup lama, sebab itu pada akhirnya akan ditemukan.

Mungkin keyakinan itulah yang membuatnya menjadi psikolog yang baik.

Mungkin juga itu adalah kelemahan terbesarnya.

Sore itu, seorang pasien perempuan duduk di hadapannya dengan kedua tangan saling menggenggam.

“Kalau saya tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi,” katanya pelan, “setidaknya saya harus tahu kenapa itu terjadi.”

Alara terdiam.

Kalimat itu terasa terlalu dekat.

“Menurutmu,” tanyanya, “kalau kamu tahu alasannya, apakah semuanya akan terasa lebih mudah?”

Perempuan itu mengangguk.

Alara hampir menjelaskan tentang kebutuhan manusia untuk mencari kepastian. Ia hampir mengatakan bahwa memahami alasan seseorang tidak selalu mengubah hasil akhirnya.

Namun kali ini ia berhenti.

“Mungkin kita tidak selalu perlu tahu.”

Pasien itu menatapnya.

Alara sendiri sedikit terkejut mendengar jawabannya.

Ia tidak tahu dari mana kalimat itu datang.

Beberapa minggu kemudian, Alara mengalami sesuatu yang sebenarnya kecil, tetapi terus mengganggunya.

Seorang pasien lama mengatakan ingin menghentikan terapinya.

Alara merasa keputusan itu terlalu cepat. Masih ada banyak hal yang belum selesai, banyak pola yang belum mereka pahami. Ia mencoba meyakinkan pasien tersebut untuk melanjutkan beberapa sesi lagi.

Namun setelah pasien itu pergi, supervisornya memanggil Alara.

“Kamu tahu pasien berhak berhenti.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu?”

“Aku hanya merasa dia belum siap.”

“Belum siap menurut siapa?”

Alara terdiam.

Supervisor-nya tidak sedang memarahinya.

Justru itu yang membuat pertanyaan tersebut terasa lebih berat.

“Tugas kita bukan menentukan hidup mereka, Alara,” lanjutnya. “Kita membantu mereka mengambil keputusan sendiri.”

Alara membawa kalimat itu pulang.

Tidak lama setelah itu, Alara memutuskan meninggalkan klinik.

Bukan karena konflik besar.

Bukan karena ia dipecat.

Lihat selengkapnya