CLEO — THE DOUBTFUL
Waktu memiliki banyak cara untuk mengingatkan manusia bahwa ia sedang berjalan. Lonceng gereja berdentang setiap pagi, kereta kuda melintasi jalan berbatu, dan dari bangunan-bangunan tua terdengar bunyi jam yang terus bekerja, bahkan ketika orang-orang di dalamnya sudah tidur.
Di lantai dua sebuah rumah lelang milik Wiryo, puluhan jam tua memenuhi dinding dan rak kayu jati. Ada jam meja dengan ukiran bunga, jam saku yang pernah menjadi milik pejabat Belanda, dan jam dinding besar yang suaranya dapat terdengar sampai ke halaman. Sebagian masih berdetak dengan teratur, sementara yang lain telah berhenti bertahun-tahun lalu.
Cleo menyukai tempat itu.
Baginya, suara tik-tik dari puluhan jam terdengar seperti banyak kehidupan yang berjalan dalam waktunya masing-masing. Ia sering membayangkan bahwa setiap jam menyimpan cerita yang tidak diketahui siapa pun, dan mungkin itulah sebabnya ia betah bekerja di antara benda-benda yang telah melewati begitu banyak tangan.
Nama lengkapnya Clara, tetapi hampir semua orang memanggilnya Cleo. Ia bekerja sebagai tukang reparasi jam dan benda mekanik antik di rumah lelang tersebut. Tangannya terampil dan matanya sangat teliti. Ia bisa mengenali logam yang pernah diganti, menemukan bekas pembongkaran yang hampir tidak terlihat, bahkan mengetahui ketika seseorang mencoba membuat sebuah benda terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya.
Namun ketelitian bukan satu-satunya alasan pekerjaannya sering membutuhkan waktu lebih lama daripada orang lain.
Cleo selalu ragu.
“Menurutmu jam ini asli?” tanya Wiryo suatu pagi.
Cleo membalik sebuah jam saku di tangannya, mengamati ukiran pada penutup belakang sebelum memeriksa bagian dalamnya.
“Kurasa.”
Wiryo menatapnya.
“Kurasa?”
Cleo mengangkat bahu. “Aku belum bisa memastikan.”
“Kamu sudah memeriksanya setengah jam.”
“Aku tahu.”
“Jadi?”
Cleo kembali menatap jam itu. “Masih ada kemungkinan aku salah.”
Wiryo menghela napas. “Kalau begitu, kapan kamu akan yakin?”
Cleo tersenyum tipis.
“Mungkin setelah menemukan cukup bukti.”
“Dan kalau bukti itu tidak pernah cukup?”
Pertanyaan itu membuatnya terdiam.
Cleo tidak pernah menganggap keraguannya sebagai masalah. Baginya, keraguan berarti ia berhati-hati. Ia hanya tidak menyadari bahwa ada perbedaan antara berhati-hati dan tidak mampu mempercayai keputusan sendiri.
Sejak kecil, ia selalu seperti itu. Ketika harus memilih sesuatu, ia akan mempertimbangkan kemungkinan terburuk. Setelah memilih, ia akan bertanya apakah pilihan lain mungkin lebih baik. Bahkan ketika orang lain sudah melangkah jauh, Cleo masih bisa berdiri di tempat yang sama sambil memikirkan apa yang mungkin terjadi jika ia mengambil jalan berbeda.
Sifat itu membuatnya sangat teliti dalam pekerjaannya.
Namun di luar pekerjaannya, sifat yang sama membuatnya sulit mempercayai siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
Suatu siang, seorang lelaki datang membawa sebuah jam besar yang dibungkus kain putih.
Namanya Raden Arya Wiratama, seorang kolektor dan pengelola benda-benda bersejarah yang cukup dikenal di kalangan orang-orang yang berkecimpung dalam barang antik. Ia memiliki rumah yang penuh dengan buku, surat, lukisan, peta, dan benda-benda tua yang dikumpulkannya dari berbagai tempat.
Cleo membuka kain pembungkus dan mengamati jam tersebut. Kayunya berwarna gelap, ukiran bunganya mulai aus, kacanya retak di satu sudut, sementara jarumnya berhenti pada pukul empat lewat tujuh belas menit.
“Sudah lama berhenti?” tanya Cleo.
“Cukup lama.”
“Anda ingin diperbaiki?”
Arya tersenyum. “Saya ingin tahu apakah ia masih mau berjalan.”
Cleo menatapnya sejenak sebelum kembali melihat jam itu.
“Aku bisa memperbaikinya.”
“Kamu yakin?”
Pertanyaan itu membuat Cleo berhenti.
Ia sebenarnya ingin mengatakan ya, tetapi kebiasaan membuatnya menahan jawaban.
“Aku rasa bisa.”
Arya tersenyum lebih lebar.
“Bagus. Berarti kamu akan memeriksanya dengan hati-hati.”
Jam itu kemudian menjadi pekerjaan yang terus menghantui pikirannya.
Cleo menemukan bahwa beberapa bagian mekanismenya telah diganti. Pegasnya tidak sesuai dengan model aslinya, salah satu roda gigi tampak berasal dari periode yang lebih baru, dan porosnya pernah dibongkar berkali-kali. Setiap kali ia menemukan sesuatu, muncul pertanyaan baru yang membuatnya kembali membongkar bagian lain.
Ia mulai membuat catatan.