LIORA - The Caregiver
Liora selalu percaya bahwa seseorang yang sedang terluka tidak seharusnya ditinggalkan sendirian.
Kepercayaan itu tumbuh bersamanya sejak lama, tetapi baru terasa semakin kuat setelah ia menjadi perawat. Di rumah sakit, ia menemukan alasan untuk terus mempraktikkannya. Ia bisa menghabiskan waktu lebih lama di samping pasien yang takut tidur, mengingat makanan kesukaan seseorang yang sudah berhari-hari tidak mau makan, atau duduk menemani keluarga yang terlalu takut untuk masuk ke ruang rawat.
Rekan-rekannya sering mengatakan bahwa Liora terlalu mudah terikat.
“Pasien itu bukan keluarga kamu,” kata Bu Ratna suatu sore ketika mendapati Liora masih memeriksa catatan meski jam kerjanya sudah selesai.
Liora tersenyum sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam laci.
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa kamu masih di sini?”
Liora melihat ke arah kamar-kamar pasien.
“Karena masih ada yang belum tidur.”
Bu Ratna menghela napas. “Mereka akan tetap hidup kalau kamu pulang.”
Liora tertawa kecil.
“Mudah-mudahan.”
“Liora.”
“Aku bercanda.”
Tetapi keduanya tahu bahwa ada sedikit kebenaran di balik candaan itu.
Liora memang sulit pulang jika merasa seseorang masih membutuhkannya.
Salah satu pasien yang paling sulit ia tinggalkan adalah Pak Wiratno.
Lelaki itu berusia hampir tujuh puluh tahun dan dirawat setelah ditemukan sendirian di rumahnya dalam kondisi kebingungan berat. Ia memiliki gangguan mental yang sudah lama dideritanya, dengan episode ketika ingatan, persepsi, dan emosinya menjadi sulit dikendalikan. Ia dapat berbicara dengan sangat tenang pada pagi hari, kemudian beberapa jam kemudian yakin bahwa orang-orang di sekitarnya sedang berusaha mencelakainya.
Ia juga memiliki riwayat agresi.
Beberapa hari setelah masuk rumah sakit, seorang perawat pernah mengalami luka ketika Wiratno mendorongnya dalam keadaan panik. Sejak saat itu, semua staf diminta lebih berhati-hati ketika mendekatinya.
Liora tetap datang.
Ia tidak menganggap Wiratno sebagai orang berbahaya. Ia tahu ia bisa berbahaya dalam kondisi tertentu, tetapi bagi Liora, keduanya bukan hal yang sama.
Suatu pagi, ketika Liora membawakan sarapan, Wiratno menatapnya cukup lama.
“Kamu siapa?”
“Liora.”
“Kamu anak saya?”
Liora tersenyum.
“Bukan.”
“Kenapa kamu datang?”
“Karena Bapak belum sarapan.”
Wiratno memandang nampan di tangannya.
“Saya tidak lapar.”
“Tidak apa-apa. Saya duduk di sini sampai Bapak berubah pikiran.”
Lelaki tua itu mendengus.
“Kamu keras kepala.”
“Bapak juga.”
Untuk pertama kalinya hari itu, Wiratno tersenyum.
Sejak saat itu, ia mulai mengenali Liora.
Ketika pikirannya kacau, ia sering memanggil namanya. Ketika ia takut, ia meminta Liora duduk di dekatnya. Dan setiap kali itu terjadi, Liora merasa bahwa pendekatannya berhasil.
Ia tidak menyadari bahwa perasaan dibutuhkan itu perlahan menjadi sesuatu yang sulit ia lepaskan.
Eros pertama kali datang pada suatu sore ketika hujan baru saja berhenti.
Ia berdiri di depan kamar Wiratno cukup lama sebelum masuk. Liora sedang memeriksa catatan ketika melihatnya.
“Cari Pak Wiratno?”
Eros mengangguk.
“Boleh masuk.”
Lelaki itu berjalan masuk, tetapi tidak langsung mendekati tempat tidur. Ia memilih kursi yang berada di dekat pintu, posisi yang membuatnya dapat melihat Wiratno sekaligus keluar ruangan dengan mudah.
Liora memperhatikan.
“Bapak keluarga?”
“Bukan.”
“Teman?”
Eros terdiam sesaat.
“Dulu.”
Jawaban itu membuat Liora sedikit penasaran.
Namun ia tidak bertanya lagi.
Eros duduk sekitar dua puluh menit. Wiratno hampir tidak berbicara kepadanya. Ketika Eros akhirnya berdiri, Wiratno hanya menoleh dan berkata,
“Kamu datang lagi?”
Eros mengangguk.
“Besok.”
Liora melihat Wiratno mengikuti langkahnya sampai pintu tertutup.
Eros kembali keesokan harinya.
Dan hari berikutnya.
Liora mulai menyadari bahwa ia selalu datang pada waktu yang hampir sama. Ia juga selalu memilih kursi yang sama dan tidak pernah membiarkan dirinya terlalu dekat dengan Wiratno.
Suatu sore, Liora akhirnya bertanya, “Kamu takut sama dia?”
Eros menoleh.
“Tidak.”
“Kelihatannya kamu sangat berhati-hati.”
“Aku mengenalnya.”
“Seberapa kenal?”
“Cukup untuk tahu kapan harus mundur.”
Jawaban itu membuat Liora diam.
Mungkin karena ia sadar bahwa dirinya sendiri tidak pernah benar-benar tahu kapan harus mundur.
Hubungan Liora dan Eros tumbuh tanpa mereka sadari.
Mereka mulai berbicara setelah kunjungan Eros selesai. Awalnya tentang Wiratno, kemudian tentang pekerjaan, makanan di kantin rumah sakit, buku yang sedang dibaca Eros, dan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Eros tidak banyak bercerita tentang dirinya.
Liora justru menyukai itu.
Ia tidak merasa harus mengisi setiap keheningan ketika bersamanya.