12 Ways To Die

Wangi Gitaswara
Chapter #8

Why Did They Die?

ALARA

26 Maret 2026

Malam itu, Alara kembali membuka laci tua yang ditemukan beberapa minggu sebelumnya di ruang praktiknya.

Awalnya ia mengira catatan-catatan di dalamnya hanyalah arsip lama milik psikolog yang pernah menggunakan ruangan itu. Beberapa halaman bahkan ditulis dengan bahasa yang terasa klinis, mencatat kebiasaan, pola emosi, ketakutan, dan perubahan perilaku seseorang dari waktu ke waktu.

Sebagai psikolog, Alara tahu catatan semacam itu bukan sesuatu yang aneh.

Yang aneh adalah apa yang tertulis di dalamnya.

Terlalu banyak detail.

Semakin banyak halaman yang ia baca, semakin sulit baginya menganggap semua itu sebagai catatan pasien biasa.

Karena penulisnya tidak hanya mencatat apa yang mereka katakan di ruang praktik. Ia tahu apa yang mereka lakukan setelah keluar. Ia tahu percakapan yang tidak mungkin didengarnya. Ia tahu pilihan-pilihan yang mereka buat ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi. Bahkan ia tahu bagaimana kehidupan mereka berakhir.

Alara menatap kelima berkas di atas meja.

Alma. Sora. Cleo. Liora. Freya.

Masing-masing memiliki kelemahan yang perlahan menguasai hidup mereka. Dan entah bagaimana, kelemahan itu selalu membawa mereka menuju akhir. Yang membuat Alara gelisah bukan pola tersebut. Melainkan orang yang mencatatnya.

Bagaimana seseorang bisa mengetahui semuanya?

Ia mulai mencari.

Awalnya ia hanya mencari nama mereka. Kemudian tempat tinggal, pekerjaan, rumah sakit, berita lama, dan orang-orang yang pernah disebut dalam catatan. Ia menghabiskan malam demi malam berpindah dari satu arsip digital ke arsip lainnya, membuka halaman yang sudah lama tidak diperbarui dan forum yang sebagian besar bahkan sudah tidak bisa diakses.

Hampir tidak ada hasil.

Beberapa nama terlalu umum. Beberapa alamat sudah tidak ada. Beberapa catatan bertentangan dengan apa yang tertulis di buku.

Semakin jauh Alara mencari, semakin ia merasa seperti sedang mengikuti jejak seseorang yang sengaja berjalan mundur agar tidak ditemukan.

Sampai suatu malam ia menyadari bahwa ia mungkin mencari dari arah yang salah. Ia berhenti mencari kelima perempuan itu. Ia mulai mencari catatan tentang mereka.

Ia membandingkan halaman-halaman yang dimilikinya, memperhatikan tanggal, nomor katalog, dan tanda kecil yang sebelumnya tidak pernah ia pedulikan. Di sudut bawah beberapa halaman terdapat simbol yang sama.

Sebuah tanda sederhana seperti huruf R.

Alara memperbesar foto simbol itu.

Ia menemukan bahwa tanda tersebut digunakan dalam sistem katalog sebuah koleksi arsip pribadi.

Koleksi yang pernah berpindah tangan beberapa kali.

Jejak terakhirnya membawanya ke sebuah perpustakaan tua.

Dan di sana, untuk pertama kalinya, muncul sebuah nama.

Rendra.

Alara tidak tahu siapa dia.

Ia hanya tahu bahwa Rendra adalah orang yang saat ini bertanggung jawab atas koleksi tersebut.

Keesokan sore, ia pergi ke alamat yang ditemukan. Ruang arsip itu berada di bagian belakang perpustakaan. Tidak ada sesuatu yang menyeramkan di sana. Hanya rak-rak kayu, kotak dokumen, lampu kuning, dan bau kertas lama.

Seorang lelaki sedang duduk di belakang meja sambil menulis sesuatu.

“Permisi.”

Lelaki itu mengangkat kepala.

“Ya?”

“Saya mencari Rendra.”

“Aku Rendra.”

Alara mengeluarkan beberapa lembar hasil pencariannya.

“Saya menemukan nama Anda dalam katalog koleksi ini.”

Rendra melihat dokumen itu.

“Kenapa kamu mencarinya?”

“Saya menemukan beberapa catatan yang sepertinya berasal dari sini.”

“Catatan tentang siapa?”

Alara tidak langsung menjawab.

Ia menyebut lima nama itu satu per satu.

Lihat selengkapnya