Kotak pemberian Rendra masih terbuka di atas meja, sementara lima berkas yang selama beberapa minggu terakhir memenuhi pikirannya tersusun di hadapannya: Alma, Sora, Cleo, Liora, dan Freya.
Lima perempuan.
Lima kehidupan.
Lima akhir yang terasa berbeda, tetapi entah bagaimana selalu meninggalkan perasaan yang sama.
Alara membaca halaman terakhir Freya sekali lagi, lalu menutup berkas itu.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin mencari tahu bagaimana mereka berakhir.
Ia ingin tahu apakah semuanya bisa berakhir berbeda.
Mungkin Alma bisa memilih untuk tidak mempertahankan sesuatu yang sudah menghancurkannya.
Mungkin Sora bisa melepaskan apa yang terlalu lama ia genggam.
Mungkin Cleo bisa mengatakan kebenaran sebelum rahasianya mengambil alih hidupnya.
Mungkin Liora bisa pergi ketika seseorang memintanya untuk tetap tinggal.
Mungkin Freya bisa berhenti mempercayai ketakutannya sebelum ketakutan itu menjadi kenyataan.
Alara menatap kelima nama tersebut.
Mereka semua melakukan kesalahan.
Tetapi apakah mereka benar-benar memilihnya?
Pertanyaan itu terasa semakin penting ketika Alara mengingat setiap kisah.
Tidak satu pun dari mereka yang bangun suatu pagi dan memutuskan, hari ini aku akan menghancurkan hidupku sendiri.
Mereka hanya membuat satu pilihan kecil.
Lalu pilihan lain.
Lalu satu lagi.
Sampai akhirnya tidak ada jalan kembali.
Alara menarik napas panjang.
“Mereka bisa memilih berbeda,” bisiknya.
Ruangan tetap sunyi. Lalu terdengar suara kertas bergeser. Alara menoleh.
Ia yakin tidak menyentuh apa pun.
Sebuah lembar yang sebelumnya berada di bawah berkas Freya kini terlihat.
Ia menariknya perlahan.
Bukan catatan tentang Freya.
Bukan pula catatan yang pernah ia lihat sebelumnya.
Hanya lima nama.
IRIS