IRIS — THE MANIPULATIVE
Iris selalu tahu bahwa manusia lebih mudah dibaca ketika mereka sedang merasa aman.
Itulah sebabnya ia tidak pernah terburu-buru ketika seseorang duduk di hadapannya dan meminta dibacakan tarot. Ia membiarkan mereka berbicara terlebih dahulu, bahkan ketika mereka datang dengan pertanyaan yang sama sekali tidak berhubungan dengan kartu.
Ia membiarkan mereka bercerita tentang pasangan, pekerjaan, keluarga, atau keputusan yang belum berani mereka ambil. Sementara itu, Iris memperhatikan semuanya.
Cincin yang diputar berkali-kali di jari. Suara yang berubah ketika menyebut nama seseorang. Tas mahal yang dibeli setelah seseorang mengatakan sedang kesulitan keuangan. Pesan yang masuk dan buru-buru dibalikkan layarnya.
Iris tidak benar-benar membutuhkan tarot. Kartu-kartu itu hanya memberinya alasan untuk mengatakan apa yang sudah ia ketahui.
Ia bekerja sebagai pembaca tarot di sebuah studio kecil di lantai dua rumah tua. Ruangan itu selalu beraroma kayu cendana dan lilin vanila, dengan tirai tipis yang membuat cahaya sore jatuh samar di atas meja bundar tempat ia bekerja.
Di atas meja terdapat kain beludru gelap, kristal-kristal kecil, dan satu set kartu tarot yang tepinya sengaja ia buat tampak kusam.
Tidak ada yang terlihat palsu.
Itulah keahlian Iris.
Membuat sesuatu yang palsu terasa lebih meyakinkan daripada kebenaran.
Dan mungkin, tanpa pernah ia sadari, semua itu berawal dari Nola.
Mereka telah mengenal satu sama lain sejak lama.
Dulu, Iris dan Nola adalah dua gadis yang sering pulang bersama sepulang sekolah. Mereka pernah berbagi payung, bertukar buku, duduk di kantin sampai sore, bahkan saling mengetahui hal-hal yang tidak diketahui orang lain.
Namun persahabatan itu perlahan berubah ketika mereka dewasa. Nola selalu mendapatkan sesuatu tanpa terlihat berusaha terlalu keras.
Ia mudah disukai. Orang-orang mempercayainya. Ia memiliki pekerjaan yang baik, keluarga yang hangat, dan kehidupan yang dari luar tampak berjalan sebagaimana mestinya.
Iris tidak pernah mengakui bahwa ia iri. Ia hanya merasa bahwa dunia terlalu sering berpihak kepada Nola.
Yang paling menyakitkan adalah suatu kejadian bertahun-tahun sebelumnya, ketika Iris menyukai seorang lelaki bernama Yunan.
Ia tidak pernah mengatakan perasaannya kepada siapa pun.
Nola tahu.
Namun beberapa bulan kemudian, Yunan memilih Nola.
Nola tidak pernah bermaksud menyakiti Iris. Bahkan ia meminta maaf ketika akhirnya mengetahui perasaan sahabatnya.
“Aku tidak tahu kamu menyukainya.”
Iris tersenyum saat itu.
“Tidak apa-apa.”
Dan memang, ia mengatakan itu.
Tetapi sesuatu dalam dirinya tidak pernah benar-benar selesai.
Hubungan Nola dan Yunan akhirnya tidak bertahan lama. Mereka berpisah, lalu menjalani kehidupan masing-masing.
Namun bagi Iris, kejadian itu meninggalkan sesuatu yang lebih buruk daripada patah hati.
Ia mulai bertanya-tanya mengapa Nola selalu mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa perlu berjuang sekeras dirinya.
Pertanyaan itu tinggal terlalu lama.
Sampai bertahun-tahun kemudian, Iris menyadari bahwa Nola ternyata masih membawa kehidupan yang membuatnya iri.
Dan kali ini, Iris memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya dulu.
Cara untuk memengaruhi orang.
—
Nola datang ke studio Iris pada suatu sore. Ia duduk di kursi yang sama seperti klien lainnya, tetapi kedekatan mereka membuat sesi itu terasa berbeda.
“Aku sedang bingung,” katanya.
Iris mengocok kartu perlahan.
“Dalam hal apa?”
“Hubungan.”
Iris tidak bertanya lebih jauh.
Ia sudah tahu bahwa Nola sedang dekat dengan seseorang. Nola sendiri yang pernah menceritakannya beberapa minggu sebelumnya.
Namanya Armand.
Mereka sedang mempertimbangkan untuk menikah.
Iris menarik tiga kartu.
The Lovers.
The Moon.
Seven of Swords.
Ia hampir tersenyum.
Susunannya terlalu sempurna.
“Bagaimana?” tanya Nola.
Iris menatap kartu terakhir cukup lama.
“Ada sesuatu yang belum kamu ketahui.”
Wajah Nola berubah.
“Apa?”
Iris mengangkat mata.
“Jangan terburu-buru percaya pada seseorang hanya karena dia mengatakan apa yang ingin kamu dengar.”
Nola terdiam.
“Menurutmu Armand menyembunyikan sesuatu?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kartunya?”
Iris menyentuh sudut kartu dengan ujung jarinya. “Kartu hanya menunjukkan kemungkinan.”
Ia berhenti sejenak.
“Yang membuat keputusan tetap kamu.”
Itu terdengar seperti nasihat.
Bukan manipulasi.
Nola pulang malam itu dengan pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah ada dalam pikirannya. Dan Iris tahu pertanyaan itu akan tumbuh.
Beberapa hari kemudian, Nola menghubunginya.
“Aku menemukan sesuatu.”
Iris sedang menyalakan lilin ketika telepon itu masuk.
“Apa?”
“Armand sering bertemu mantannya.”