ZARA — THE IMPOSTOR
Zara pandai menjadi orang lain.
Ia tidak pernah menganggapnya sebagai kebohongan. Baginya, manusia hanya terdiri dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa dipelajari jika seseorang cukup memperhatikan. Cara tertawa, cara berjalan, pilihan kata, bahkan cara memegang cangkir ketika gugup. Semuanya bisa ditiru.
Dan Zara selalu memperhatikan.
Ketika bekerja sebagai asisten pribadi, ia sering dipuji karena ingatannya yang tajam. Ia bisa mengingat pesanan kopi seseorang setelah mendengarnya sekali, mengenali suara langkah atasannya di lorong, bahkan mengetahui suasana hati seseorang dari cara mereka menutup pintu.
Namun ada sesuatu yang tidak pernah diketahui orang lain.
Zara senang menjadi orang yang berbeda ketika tidak ada yang mengenalinya.
Ia bisa mengubah cara berbicara ketika bertemu klien, mengganti gaya rambut sesuai lingkungan, bahkan menggunakan nama berbeda ketika memesan kamar hotel.
Bukan karena ia malu menjadi Zara.
Ia hanya merasa menjadi dirinya sendiri terlalu biasa.
Sampai ia bertemu Sienna.
Sienna adalah perempuan yang kehidupannya terlihat sempurna dari luar.
Ia tinggal di sebuah rumah tua yang luas, berasal dari keluarga terpandang, bekerja sebagai kurator sebuah galeri seni, dan selalu tampak tenang meskipun berada di tengah banyak orang.
Pertama kali Zara bertemu dengannya, ia langsung memperhatikan hal-hal kecil.
Sienna selalu memegang cangkir dengan tangan kiri.
Ia menyelipkan rambut ke belakang telinga ketika sedang berpikir.
Ia menggunakan parfum dengan aroma bunga putih yang sangat samar.
Ketika gugup, ia menyentuh cincin di jari telunjuknya.
Dan ketika seseorang memanggil namanya, Sienna selalu membutuhkan sepersekian detik sebelum menoleh, seolah pikirannya sedang berada jauh di tempat lain.
Zara mengingat semuanya.
Mereka bertemu karena pekerjaan, tetapi hubungan mereka berkembang menjadi persahabatan.
Sienna mulai mempercayainya. Ia menceritakan masalah keluarganya, membawanya ke rumah, bahkan memperkenalkannya kepada orang-orang terdekat.
Tanpa sadar, Sienna memberinya akses menuju hampir seluruh kehidupannya.
Dan Zara menyukainya.
Terlalu menyukainya.
Suatu malam, mereka duduk di balkon rumah Sienna.
Kota terlihat jauh di bawah, lampu-lampunya bergetar di antara dedaunan.
“Apa kamu pernah berharap menjadi orang lain?” tanya Zara.
Sienna tertawa kecil.
“Sering.”
“Siapa?”
Sienna berpikir sebentar.
“Tidak tahu.”
“Kamu punya kehidupan yang sempurna.”
Sienna menatapnya.
“Tidak ada kehidupan yang sempurna.”
“Kalau begitu, apa yang kamu inginkan?”
Sienna tersenyum samar.
“Kadang-kadang aku ingin tidak menjadi Sienna.”
Kalimat itu tinggal di kepala Zara lebih lama daripada seharusnya.
Beberapa bulan kemudian, Sienna mulai mengalami masalah.
Ia terlibat konflik dengan keluarganya karena urusan warisan. Di tempat kerja, seseorang menuduhnya menyalahgunakan dana galeri. Tidak ada bukti yang cukup kuat, tetapi rumor mulai menyebar.
Sienna semakin tertekan.
Zara menjadi orang yang paling sering membantunya.
Ia mengurus pesan, menjadwalkan pertemuan, membawa dokumen, bahkan menjawab telepon.
Sampai suatu hari Sienna berkata,
“Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau tidak ada kamu.”
Zara tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Namun di dalam dirinya, sesuatu bergerak.
Kalau begitu, kenapa tidak aku saja yang menjadi kamu?
Pikiran itu muncul begitu saja.
Dan setelah muncul, ia tidak pernah benar-benar pergi.
Zara mulai mencoba.
Pertama, ia membeli pakaian dengan gaya Sienna.
Kemudian parfum yang sama.
Ia mempelajari tanda tangan Sienna dari dokumen-dokumen lama.
Ia menghafalkan cara Sienna menjawab telepon.
Bahkan mulai menggunakan ungkapan-ungkapan yang sering dipakai Sienna.
Awalnya hanya untuk bersenang-senang.
Namun suatu malam, ketika Sienna tertidur setelah minum obat penenang, Zara berdiri di depan cermin kamar.
Ia mengenakan gaun milik Sienna.
Rambutnya ditata dengan cara yang sama.
Ia menggunakan parfum yang sama.
Kemudian ia menatap bayangannya sendiri.
Untuk beberapa detik, ia hampir tidak mengenali wajah itu.
“Sienna,” bisiknya.