12 Ways To Die

Wangi Gitaswara
Chapter #13

The Life Before Alara

ALARA

March 2026

Setelah membaca kisah Iris, Alara tidak langsung membuka lembar berikutnya. Ia justru mulai mengubah cara ia memandang semua catatan yang selama ini memenuhi ruang praktiknya.

Pada awalnya, ia mengira lembaran-lembaran itu hanya menyimpan kisah tentang kematian. Namun semakin banyak yang ia baca, semakin ia merasa bahwa ada sesuatu yang lebih besar tersembunyi di antara nama-nama tersebut.

Setiap kehidupan memiliki cerita yang berbeda, kesalahan yang berbeda, bahkan cara kematian yang berbeda, tetapi selalu ada bagian dari masa lalu mereka yang terasa samar, seolah ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar mereka ketahui tentang diri sendiri.

Alara mulai mencatat semuanya.

Nama, tanggal lahir, keluarga, pekerjaan, hubungan, sampai detail kecil yang mungkin tidak berarti apa-apa. Ia tidak tahu apa yang sedang dicari, tetapi ia terbiasa memperhatikan hal-hal yang tidak cocok.

Dalam pekerjaannya sebagai psikolog, satu perubahan kecil dalam cerita seseorang sering kali lebih penting daripada pengakuan yang panjang. Karena itu, ia mulai membaca kembali catatan-catatan tersebut bukan sebagai kisah, melainkan sebagai pola.

Beberapa hari berlalu tanpa menemukan sesuatu yang berarti. Sampai suatu malam, ketika ia sedang membaca salah satu lembar lama, sebuah kalimat membuatnya berhenti.

Ia selalu merasa hidupnya dimulai sebelum ia mengingatnya.

Alara membaca kalimat itu dua kali.

Entah kenapa, kalimat sederhana tersebut terasa terlalu dekat.

Ia menutup lembaran itu dan bersandar di kursinya. Untuk beberapa saat, ia mencoba mengingat masa kecilnya sendiri. Ingatan paling awal yang muncul hanyalah potongan-potongan kecil: kamar dengan dinding berwarna pucat, suara ibunya memanggil dari dapur, tangan ayahnya ketika mengajarinya mengikat tali sepatu, dan aroma minyak kayu putih yang selalu memenuhi kamar ketika ia sakit.

Semuanya terasa nyata.

Semuanya terasa miliknya.

Namun ketika Alara mencoba mengingat sesuatu dari masa ketika ia masih bayi, tidak ada apa-apa.

Tentu saja itu normal. Tidak ada orang yang benar-benar mengingat masa bayi mereka.

Ia tahu itu.

Tetapi pikiran tersebut tetap tinggal di kepalanya.

Keesokan harinya, tanpa alasan yang jelas, Alara mulai membereskan dokumen-dokumen keluarganya.

Ayahnya selalu menyimpan dokumen penting dengan sangat rapi. Akta rumah, ijazah, sertifikat, kartu keluarga lama, bahkan surat-surat yang sebenarnya sudah tidak diperlukan masih tersusun dalam beberapa map berdasarkan tahun. Alara menemukan semuanya dengan mudah.

Kecuali satu.

Akta kelahirannya.

Ia mencari sekali lagi.

Kemudian memeriksa map lain.

Tidak ada.

Alara tidak langsung merasa curiga. Mungkin dokumen itu disimpan ibunya. Mungkin ada di tempat lain. Mungkin pernah digunakan untuk suatu keperluan dan belum dikembalikan.

Malamnya, ketika ibunya sedang memotong buah di dapur, Alara bertanya dengan santai.

“Bu, akta kelahiranku di mana?”

Pisau di tangan ibunya berhenti.

Hanya sebentar.

Sangat sebentar.

Namun Alara melihatnya.

“Untuk apa?”

“Enggak apa-apa. Aku tadi cari dokumen.”

Ibunya kembali memotong buah.

“Sepertinya di lemari Ayahmu.”

“Sudah aku cari.”

“Coba cari lagi.”

Alara tersenyum kecil.

“Ibu tahu aku paling enggak suka kalau disuruh cari sesuatu yang sebenarnya enggak ada.”

Ibunya tertawa pelan, tetapi tidak menjawab.

Percakapan itu berakhir begitu saja.

Seharusnya tidak ada yang aneh.

Namun malam itu Alara kembali memeriksa lemari ayahnya.

Akta kelahirannya tetap tidak ada.

Yang ia temukan justru sebuah buku kecil dengan sampul biru tua.

Buku kesehatan bayi.

Alara membukanya.

Di dalamnya terdapat catatan pemeriksaan, berat badan, tinggi badan, jadwal imunisasi, serta beberapa tulisan tangan ibunya. Semuanya tampak biasa. Bahkan beberapa halaman membuat Alara tersenyum ketika membaca catatan kecil tentang dirinya yang sering menangis setiap kali dimandikan.

Ia hampir menutup buku tersebut ketika melihat halaman terakhir.

Ada tulisan tangan ibunya.

Dibawa pulang tanggal 21.

Alara berhenti.

Ia menghitung.

Ia lahir tanggal 17.

Empat hari di rumah sakit bukan sesuatu yang aneh. Bayi bisa saja harus menjalani observasi sebelum diperbolehkan pulang.

Tidak ada alasan untuk mencurigainya.

Lihat selengkapnya