RIVERA
Rivera tidak pernah benar-benar tinggal di satu tempat. Ia berpindah dari kota ke kota dengan sebuah koper tua, beberapa pakaian, buku sketsa, dan kotak cat yang selalu berantakan.
Sebagai seniman, ia tidak memiliki studio tetap. Kadang ia menyewa ruangan kecil di belakang kafe, kadang bekerja di loteng rumah orang, kadang melukis di tempat terbuka selama beberapa minggu sebelum merasa bosan dan pergi begitu saja.
Baginya, hidup yang terlalu teratur adalah bentuk lain dari penjara. Ia menyukai perjalanan tanpa tujuan, percakapan dengan orang asing, malam-malam panjang di kota yang belum pernah dikunjunginya, dan keputusan-keputusan spontan yang membuat hidup terasa tidak dapat ditebak.
Rivera percaya bahwa manusia terlalu sering menghabiskan hidup untuk memenuhi harapan orang lain. Ia tidak ingin menjadi seperti itu. Ia tidak ingin memiliki jadwal yang mengikat, pekerjaan yang mengharuskannya datang pada jam tertentu, atau hubungan yang membuatnya harus menjelaskan ke mana ia pergi.
Ketika seseorang bertanya mengapa ia selalu berpindah, Rivera hanya tertawa dan berkata, “Kalau aku sudah tahu di mana aku akan berada enam bulan lagi, berarti ada yang salah dengan hidupku.”
Orang-orang menyukai cara berpikirnya. Rivera menyenangkan, berani, spontan, dan selalu punya cerita baru. Ia bisa mengajak seseorang naik kereta malam hanya karena melihat sebuah kota di peta dan merasa penasaran. Ia bisa berhenti melukis selama seminggu untuk mengikuti festival kecil di kota lain, lalu kembali membawa puluhan sketsa baru. Baginya, pengalaman jauh lebih berharga daripada kepastian.
Namun ada satu sisi Rivera yang tidak terlalu banyak dilihat orang. Ia sangat tidak suka terlibat dalam masalah orang lain.
Bukan karena ia tidak memiliki empati. Justru sebaliknya, Rivera bisa sangat mudah tersentuh oleh penderitaan seseorang, selama penderitaan itu tidak menuntutnya untuk tinggal terlalu lama.
Ia bisa memberikan uang kepada orang asing yang membutuhkan, membeli makanan untuk seseorang di jalan, atau membuat karya untuk penggalangan dana tanpa banyak berpikir. Tetapi ketika seseorang benar-benar membutuhkan dirinya untuk mengambil keputusan atau berdiri di samping mereka ketika keadaan menjadi sulit, Rivera akan mulai mencari jalan keluar.
Ia selalu punya alasan.
“Aku tidak tahu seluruh ceritanya.”
“Aku tidak mau ikut campur.”
“Mungkin mereka bisa menyelesaikannya sendiri.”
Rivera menganggap semua itu sebagai bentuk menghormati kebebasan orang lain.
Ia tidak menyadari bahwa terkadang, seseorang membutuhkan pertolongan justru karena mereka sudah tidak memiliki kebebasan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Rivera menyewa sebuah studio di lantai dua sebuah bangunan tua. Tempat itu tidak indah, tetapi memiliki jendela besar yang menghadap ke jalan dan cahaya sore yang bagus untuk melukis. Di lantai bawah tinggal sepasang suami istri bernama Elise dan Dean. Rivera tidak terlalu mengenal mereka. Ia hanya tahu bahwa Elise memiliki toko bunga kecil tidak jauh dari sana, sedangkan Dean lebih sering bekerja dari rumah.
Awalnya mereka tampak seperti pasangan biasa. Kadang Rivera melihat mereka membeli makanan bersama. Kadang Elise menyapanya ketika membawa bunga dari toko. Mereka tidak pernah terlalu dekat, tetapi Elise sesekali memberikan bunga yang tidak terjual kepadanya.
“Untuk studiomu,” katanya suatu sore.
Rivera tertawa.
“Bunganya lebih hidup daripada lukisanku.”
“Berarti kamu harus lebih sering melukis.”
“Berarti kamu harus lebih sering memberi bunga.”
Hubungan mereka sederhana. Tidak ada yang istimewa.
Sampai suatu malam Rivera sedang bekerja ketika mendengar suara benda pecah dari lantai bawah.
Kuasnya berhenti.
Kemudian terdengar suara Elise.
Tidak jelas, tetapi cukup keras untuk membuatnya mengerti bahwa perempuan itu sedang menangis.
Disusul suara Dean.
Lebih keras.
Rivera berdiri dan berjalan menuju pintu studio. Ia membukanya sedikit. Suara itu terdengar lebih jelas dari lorong.
“Aku bilang jangan pergi!”
Kemudian sesuatu jatuh.
Rivera menggenggam ponselnya.
Ia bisa menelepon seseorang.
Bisa turun.
Bisa mengetuk pintu.
Namun pikirannya segera menemukan alasan untuk berhenti.
Mungkin mereka hanya bertengkar.
Mungkin ia salah memahami.
Mungkin ikut campur hanya akan membuat keadaan semakin buruk.
Ia menutup pintu.
Malam itu ia kembali melukis.
Beberapa hari kemudian, Elise datang ke studionya membawa sekotak makanan. Wajahnya terlihat lelah. Ada memar samar di dekat tulang pipinya.
Rivera memperhatikannya.
“Kamu baik-baik saja?”
Elise tersenyum.
“Iya.”
“Kamu yakin?”
“Iya.”
Rivera tahu jawaban itu tidak benar.
Tetapi ia tidak bertanya lagi.
Elise duduk di lantai dan melihat lukisan yang sedang dikerjakannya.
“Kamu mau pindah lagi?”
“Mungkin.”
“Kamu selalu bilang begitu.”
“Aku bosan kalau terlalu lama di satu tempat.”
Elise tersenyum tipis.
“Enak ya.”
“Apa?”
“Bisa pergi kapan saja.”
Rivera menatapnya.