12 Ways To Die

Wangi Gitaswara
Chapter #15

The One Who Never Forgot

RENDRA - The Forgotten

Beberapa hari setelah menyelesaikan kisah Rivera, Alara mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah dalam cara ia memandang catatan-catatan yang selama ini ditemukannya. Ia masih belum memahami mengapa kisah-kisah itu terasa begitu dekat, tetapi semakin lama ia membacanya, semakin sulit baginya untuk menganggap semuanya sebagai kebetulan.

Ada nama-nama tertentu yang membuatnya merasa pernah mendengarnya, kalimat-kalimat yang terasa akrab meskipun ia yakin belum pernah membacanya, dan sesekali muncul perasaan kehilangan yang tidak memiliki sumber yang jelas.

Ia tidak membicarakannya kepada siapa pun.

Sebagai psikolog, Alara tahu bahwa ingatan manusia dapat bekerja dengan cara yang aneh. Sesuatu yang pernah didengar bertahun-tahun lalu bisa muncul kembali tanpa kita menyadari dari mana asalnya, sementara mimpi dan perasaan familiar sering kali membuat sesuatu yang sebenarnya biasa terasa jauh lebih penting daripada kenyataannya.

Karena itu, ia tidak terlalu memikirkan ketika nama Rendra muncul dalam jadwal konsultasinya sore itu.

Ia mengenali nama tersebut bahkan sebelum lelaki itu memasuki ruang praktik.

Rendra adalah lelaki yang ditemuinya di perpustakaan beberapa waktu lalu, seseorang yang tampaknya mengetahui terlalu banyak tentang nama-nama yang sedang Alara cari.

Alara sempat mempertimbangkan untuk memindahkan klien itu kepada psikolog lain. Namun Rendra sendiri yang meminta agar konsultasi dilakukan dengannya, dan pada akhirnya Alara memilih untuk menerima.

Ketika pintu terbuka, Rendra masuk dengan sikap tenang yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Ia duduk setelah dipersilakan, lalu menunggu sampai Alara membuka catatannya.

“Kita pernah bertemu,” kata Alara.

“Aku ingat.”

“Di perpustakaan.”

“Iya.”

Alara mengangguk kecil sebelum kembali melihat catatannya. “Apa yang membuatmu datang?”

Rendra tidak langsung menjawab. Ia tampak mencari kata yang tepat sebelum akhirnya berkata bahwa ia sudah lama mengalami kesulitan tidur. Kadang ia terbangun dari mimpi yang sama, tentang tempat-tempat yang tidak dikenalnya dan seorang perempuan yang selalu muncul di sana.

“Siapa perempuan itu?” tanya Alara.

“Aku tidak tahu.”

“Tapi kamu selalu tahu itu orang yang sama?”

Rendra mengangguk. “Aku tidak mengenali wajahnya. Hanya perasaannya.”

Alara menatapnya sebentar. Ada sesuatu dalam jawaban itu yang membuatnya teringat pada beberapa mimpi yang belakangan muncul dalam tidurnya sendiri, tetapi ia tidak membiarkan pikirannya berjalan terlalu jauh.

Mereka berbicara beberapa menit tentang tidur, mimpi, dan hal-hal lain yang mungkin berhubungan dengan kondisi Rendra. Namun kemudian lelaki itu tiba-tiba berkata, “Sebenarnya aku datang karena kamu.”

Alara mengangkat wajah.

“Karena aku?”

“Aku sudah lama mencarimu.”

Kalimat itu membuat suasana ruangan berubah.

Alara menutup pulpennya. “Kenapa?”

Rendra menatapnya cukup lama sebelum menjawab, “Karena kita pernah saling mengenal.”

Alara mencoba mengingat wajahnya dalam konteks lain, bukan sebagai lelaki yang ditemuinya di perpustakaan, tetapi sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Tidak ada yang muncul selain potongan-potongan masa kecil yang selama ini tidak pernah ia anggap penting: halaman rumah, suara seseorang memanggil namanya, dan seorang anak laki-laki yang wajahnya selalu kabur ketika ia berusaha mengingatnya.

“Aku tidak ingat,” katanya akhirnya.

“Aku tahu.”

“Siapa kamu?”

Rendra menjawab dengan tenang, seolah kalimat itu sudah berkali-kali ia ucapkan dalam pikirannya sendiri.

“Aku kakakmu.”

Alara tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap lelaki di depannya, mencoba menemukan sesuatu yang mungkin membuktikan bahwa pernyataan itu masuk akal. Anehnya, ia tidak merasa Rendra sedang berbohong. Justru ada sesuatu yang terasa benar, meskipun pikirannya belum mampu menemukan alasannya.

Rendra kemudian mengeluarkan sebuah foto lama dari dompetnya.

Di dalam foto itu ada tiga orang. Seorang perempuan muda duduk sambil memeluk seorang bayi perempuan kecil, sementara seorang anak laki-laki berdiri di samping mereka. Alara mengenali dirinya sendiri pada anak perempuan itu bahkan sebelum Rendra menunjukkannya.

“Ini aku,” katanya pelan.

“Iya.”

“Dan kamu?”

Lihat selengkapnya