12 Ways To Die

Wangi Gitaswara
Chapter #16

The Girl Who Believed

BELLE - The Dreamer

Belle selalu menyukai sesuatu yang tidak benar-benar ada.

Ia menyukai putri yang menunggu di menara, hutan yang menyimpan rahasia, gaun indah yang hanya muncul sekali dalam sebuah pesta, dan lelaki yang datang pada waktu yang tepat untuk membawa seorang perempuan keluar dari kehidupan yang biasa-biasa saja.

Ia tahu dongeng tidak pernah benar-benar terjadi seperti itu, tetapi sejak kecil Belle memiliki kebiasaan mengubah kehidupan sehari-hari menjadi sesuatu yang lebih indah di dalam kepalanya.

Ia kemudian menjadi penjahit.

Bukan karena ia ingin membuat pakaian mahal, melainkan karena ia menyukai perubahan kecil yang bisa dilakukan sehelai kain. Seorang perempuan datang dengan pakaian sederhana, lalu beberapa jam kemudian berdiri di depan cermin dengan punggung lebih tegak dan senyum yang berbeda. Belle menyukai bagian itu. Baginya, pakaian bukan sekadar sesuatu yang dikenakan. Pakaian bisa membuat seseorang merasa seperti dirinya yang selama ini ingin ia temukan.

Ia bekerja di sebuah rumah jahit kecil yang menerima pesanan gaun, kebaya, pakaian pesta, dan sesekali pakaian pengantin.

Di sela-sela pekerjaannya, Belle sering membaca buku. Tangannya bisa terus bergerak menjahit sementara pikirannya berjalan di tempat lain, di antara kerajaan, kutukan, dan akhir bahagia yang selalu datang tepat sebelum halaman terakhir.

Hans pertama kali melihatnya pada suatu sore ketika hujan turun deras.

Ia adalah seorang pedagang yang sedang dalam perjalanan menuju penginapan setelah menyelesaikan urusan dagang di kota itu. Dagangannya bermacam-macam, mulai dari kain impor, parfum, perhiasan kecil, hingga barang-barang rumah tangga yang ia bawa dari kota ke kota. Ia tidak mengenal Belle dan tidak memiliki alasan khusus untuk datang ke rumah jahit itu.

Ia hanya mencari tempat berteduh.

Belle sedang menjahit ketika Hans masuk.

“Maaf. Boleh saya menunggu hujan reda?”

Belle mengangguk.

Hans berdiri di dekat pintu sambil memperhatikan ruangan. Matanya kemudian berhenti pada sebuah gaun yang tergantung di dekat jendela.

“Indah.”

Belle menoleh.

“Belum selesai.”

“Yang saya maksud desainnya.”

Belle tersenyum.

“Untuk siapa?”

“Belum tahu.”

Hans tertawa kecil.

“Kalau begitu, Anda membuat pakaian untuk orang yang belum ada?”

“Kurang lebih.”

Hans mendekati gaun itu tanpa menyentuhnya.

“Seperti gaun seorang putri.”

Belle tertawa.

“Saya memang suka membuat pakaian seperti itu.”

“Berarti Anda percaya pada putri?”

Belle berhenti menjahit.

“Saya percaya ada perempuan yang ingin merasa seperti putri.”

Hans menatapnya beberapa detik.

“Dan Anda?”

Belle tersenyum malu.

“Mungkin.”

Percakapan itu sederhana.

Namun Hans mengingatnya.

Ia kembali beberapa hari kemudian.

Kali ini membawa sepotong kain yang dibelinya dalam perjalanan.

“Saya pikir ini cocok untuk Anda.”

Belle mengernyit.

“Untuk saya?”

“Untuk gaun.”

Kain itu berwarna lembut, dengan tekstur halus yang jarang ia lihat.

Belle menyentuhnya dengan hati-hati.

“Indah sekali.”

“Kalau begitu saya tidak salah membelinya.”

Sejak saat itu, Hans mulai datang lebih sering.

Awalnya hanya untuk urusan kain. Kemudian mereka berbicara tentang pekerjaan. Belle bercerita tentang buku yang sedang dibacanya. Hans bercerita tentang kota-kota yang pernah ia kunjungi dan orang-orang yang ditemuinya selama berdagang.

Belle menyukai cerita-cerita itu.

Hans pernah pergi ke tempat-tempat yang hanya ia kenal dari buku.

Ia membawa pulang kain dari negeri yang belum pernah Belle lihat, parfum dari kota yang namanya sulit ia ucapkan, dan kisah-kisah tentang kehidupan yang jauh lebih besar daripada ruangan kecil tempat Belle bekerja.

Hans membuat dunia terasa luas.

Belle membuat Hans merasa dikagumi.

Mereka saling mengisi kebutuhan yang berbeda.

Hans perlahan memahami bahwa Belle mudah tersentuh oleh perhatian kecil. Ia tahu Belle senang dipuji karena pekerjaannya. Ia tahu Belle takut mengecewakan orang lain. Ia tahu Belle selalu berusaha melihat sisi baik seseorang, bahkan ketika orang tersebut tidak layak mendapatkannya.

Namun Belle tidak pernah berpikir bahwa Hans sedang mempelajarinya.

Ia mengira lelaki itu sedang mengenalnya.

Itulah perbedaan yang baru ia pahami setelah semuanya terlambat.

Hans melamarnya dengan cara yang sederhana.

Tidak ada pesta besar.

Ia hanya datang ke rumah jahit pada malam hari, ketika Belle sedang membereskan benang.

“Aku ingin kamu ikut denganku.”

“Ke mana?”

“Ke mana pun.”

Belle tertawa.

“Itu bukan jawaban.”

Hans menggenggam tangannya.

“Kalau begitu, ke mana pun selama kamu bersamaku.”

Belle menangis malam itu.

Bukan karena kalimat tersebut begitu indah.

Melainkan karena ia telah menunggu sepanjang hidup untuk mendengar sesuatu seperti itu.

Mereka menikah beberapa bulan kemudian.

Pernikahan mereka sederhana, tetapi semua orang yang hadir mengatakan mereka terlihat bahagia. Belle mengenakan gaun buatannya sendiri. Hans berdiri di sampingnya dengan senyum tenang.

Lihat selengkapnya