Alara tidak langsung pulang setelah menyelesaikan kisah Belle.
Ia tetap duduk di ruang praktik sampai lampu-lampu di gedung sebelah mulai padam satu per satu. Berkas itu sudah tertutup di hadapannya, tetapi beberapa bagian dari kisah Belle masih terasa hidup di kepalanya. Bukan hanya tentang Hans, bukan pula tentang bagaimana seorang perempuan perlahan kehilangan dirinya di dalam sebuah pernikahan.
Ada sesuatu yang jauh lebih mengganggunya.
Belle terasa terlalu dekat.
Bukan karena Alara pernah mengalami hal yang sama, melainkan karena beberapa bagian dari kisah itu terasa seperti sesuatu yang pernah ia dengar sebelumnya.
Ia menutup mata.
Sekilas, ia melihat seorang perempuan duduk di dekat jendela sambil menjahit. Ada suara kain bergesekan, aroma melati, dan suara lembut yang sedang membacakan sesuatu.
Kemudian semuanya menghilang.
Alara membuka mata dengan napas berat.
Ia mulai lelah menganggap semua itu sebagai kebetulan.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak menemukan berkas-berkas tersebut, ia memutuskan untuk pulang bukan untuk mencari jawaban dari catatan, melainkan dari orang-orang yang selama ini membesarkannya.
Dari orangtuanya.
Ibunya sedang berada di dapur ketika Alara tiba.
Perempuan itu sedang menyiapkan teh, seperti yang selalu dilakukannya setiap kali Alara datang terlambat. Rumah terasa sama seperti yang selalu ia kenal. Lampu ruang tengah yang kekuningan, suara jam dinding, aroma makanan dari dapur.
Semuanya begitu biasa.
Justru karena itulah Alara merasa semakin sulit memulai.
“Ibu belum tidur?”
Ibunya menoleh dan tersenyum.
“Belum. Kamu sudah makan?”
Alara menggeleng.
“Aku mau tanya sesuatu.”
Senyum ibunya perlahan menghilang.
“Apa?”
Alara menarik kursi.
“Aku ingin tahu tentang ibu kandungku.”
Tangan ibunya berhenti. Hanya sebentar. Namun Alara melihatnya.
“Aku sudah tahu namanya,” lanjut Alara. “Ratna.”
Ibunya tidak menjawab.
“Aku juga tahu tentang Rendra.”
Cangkir di tangan ibunya diletakkan perlahan di atas meja. “Dari siapa?”
“Rendra datang ke tempat praktik.”
Ibunya menatap Alara cukup lama.
“Aku tahu suatu hari kamu akan bertanya.”
Alara menelan ludah. “Jadi benar?”
“Benar apa?”
“Aku ditinggalkan oleh ibuku?”
Ibunya menarik kursi di hadapannya.
“Tidak sesederhana itu.”
“Kalau begitu ceritakan.”
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Kemudian ayah Alara keluar dari ruang tengah. Ia berhenti ketika melihat mereka. m
“Aku pikir sudah waktunya,” katanya pelan.
Ibunya mengangguk.
Mereka duduk bertiga.
Untuk pertama kalinya, Alara merasa seperti seorang anak yang sedang menunggu orang dewasa membuka pintu menuju ruangan yang selama ini dikunci.
“Apa Ibu pernah mengenal Ratna sebelum aku lahir?”
Ibunya tersenyum tipis.
“Jauh sebelum itu.”
“Seperti apa dia?”
Pertanyaan itu membuat ibunya terdiam cukup lama.
“Ratna sangat berbeda dari apa yang mungkin kamu bayangkan.”
“Bagaimana?”
“Dia keras kepala. Sangat mandiri. Kadang sulit dipahami, tetapi dia juga orang yang paling penuh cerita yang pernah Ibu kenal.”
Alara menatap mereka.
“Cerita?”
“Iya.”
Ayah Alara ikut berbicara.
“Dia selalu punya cerita untuk segala sesuatu. Kalau sedang bahagia, dia bisa bercerita berjam-jam. Kalau sedang sedih, dia menulis. Bahkan ketika sedang marah, dia bisa mengubah semuanya menjadi cerita.”
Alara merasakan tengkuknya merinding.
“Dia menulis?”
“Banyak.”
Ibunya menatap meja.
“Setelah Rendra lahir, semuanya mulai berubah.”
Alara tidak menyela.
“Rendra?”
“Anak pertamanya,” jawab ibunya. “Lima tahun sebelum kamu lahir.”
Alara menatapnya.
Lima tahun.
“Kehamilan Ratna sebenarnya tidak mudah,” lanjut ibunya. “Setelah Rendra lahir, perubahan dalam dirinya semakin terlihat.”
“Gangguan?”
Ibunya menarik napas.
“Waktu itu kami tidak memahami banyak hal seperti sekarang. Yang kami tahu, ada saat-saat ketika Ratna seperti bukan dirinya sendiri. Cara bicaranya berubah, emosinya berubah, dan ada bagian dirinya yang sangat takut, sementara di waktu lain dia bisa sangat kuat.”
“Lalu Arman?”
Ruangan mendadak lebih sunyi.
Ayahnya menundukkan kepala.
“Arman adalah suaminya.”
“Seperti apa dia?”
Ibunya tidak langsung menjawab.
“Dia orang yang sangat pandai membuat orang lain menyukainya.”
Alara menatapnya.
“Awalnya?”
“Bahkan sampai akhir.”
Ayah Alara menghela napas.
“Arman sangat menjaga citranya. Dia ingin semua orang melihatnya sebagai suami yang sempurna, ayah yang bertanggung jawab, lelaki yang selalu tahu apa yang terbaik untuk keluarganya.”
“Dan Ratna?”
“Ratna adalah bagian penting dari citra itu.”
Alara mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Arman menyukai ketika orang memuji Ratna sebagai istrinya. Dia suka memperkenalkan dirinya sebagai suami yang sabar dan penyayang. Tetapi ketika Ratna sedang tidak baik-baik saja, semuanya berubah.”
“Dia marah?”
“Bukan hanya marah,” kata ibunya pelan. “Dia tidak tahan ketika sesuatu berada di luar kendalinya.”
Alara terdiam.
Ibunya melanjutkan,
“Arman selalu memiliki penjelasan. Kalau Ratna menangis, dia bilang Ratna terlalu emosional. Kalau Ratna marah, dia bilang Ratna tidak stabil. Kalau Ratna menolak sesuatu, dia bilang Ratna sedang tidak sadar dengan keputusannya sendiri.”
“Jadi dia menggunakan kondisinya?”
Ibunya mengangguk.
“Sedikit demi sedikit.”
Alara merasakan dadanya sesak.
“Bagaimana?”