12 Ways To Die

Wangi Gitaswara
Chapter #18

The Water Between Us

ASHA

Asha tidak pernah membenci kehamilan pertamanya. Ia hanya takut tidak akan mampu menjadi ibu yang baik. Kehamilan kedua berbeda. Ketika dua garis merah muncul di alat tes yang ia simpan diam-diam di kamar mandi, hal pertama yang ia rasakan bukan bahagia, melainkan keinginan agar semuanya tidak pernah terjadi.

Anak pertamanya baru mulai mandiri. Ia sudah bisa bermain sendiri, pergi ke sekolah, dan tidur tanpa harus selalu ditemani. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Asha merasa memiliki sedikit ruang untuk dirinya sendiri. Ia mulai kembali bekerja dan menyimpan kabar tersebut selama beberapa hari.

Bukan karena tidak tahu harus mengatakannya kepada Danu, tetapi karena ia sudah tahu apa yang akan dijawab lelaki itu.

Ketika akhirnya ia mengatakan bahwa dirinya hamil, Danu hanya tersenyum.

“Bagus.”

Asha menatapnya.

“Aku tidak merasa begitu.”

Senyumnya hilang.

“Kamu serius?”

“Aku baru mulai bisa mengatur hidupku lagi.”

Danu menghela napas seperti seseorang yang sedang menghadapi masalah yang seharusnya tidak perlu ada.

“Ini anak kita, Asha.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu bicara seperti ini?”

“Karena aku tidak ingin hamil lagi.”

Danu diam cukup lama sebelum berkata, “Kita sudah punya satu anak. Tidak mungkin kita berhenti hanya karena kamu sedang merasa lelah.”

Asha menatapnya.

“Kalau aku benar-benar tidak mau?”

Danu tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya berkata, “Kamu akan berubah pikiran.”

Kalimat sederhana itu justru membuat Asha sadar bahwa dalam pernikahan mereka, keinginannya tidak pernah benar-benar dianggap sebagai keputusan.

Danu selalu percaya bahwa ia tahu apa yang terbaik. Padahal hampir tidak ada satu pun hal dalam hidup mereka yang benar-benar ia tanggung sendiri.

Ia tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia sering berganti usaha, memulai sesuatu dengan penuh keyakinan lalu meninggalkannya ketika tidak segera menghasilkan uang.

Ia menggunakan sebagian tabungan Asha, meminjam dari keluarganya, dan beberapa kali berutang kepada orang lain. Setiap kali Asha bertanya, Danu selalu memiliki alasan.

Ia sedang mencari peluang.

Ia sedang membangun sesuatu.

Ia hanya membutuhkan waktu.

Asha terus mempercayainya karena ia ingin percaya bahwa lelaki yang dinikahinya masih memiliki niat untuk berubah. Namun semakin lama, Asha mulai memahami bahwa Danu bukan sedang gagal. Ia memang tidak pernah benar-benar berusaha. Ia hanya pandai membuat kegagalannya terdengar seperti sebuah proses.


Selama berbulan-bulan, Asha diam-diam mencari cara untuk mengakhiri kehamilannya.

Ia membaca berbagai informasi, bertanya kepada orang yang menurutnya mungkin bisa membantu, bahkan beberapa kali berdiri di depan tempat yang ia pikir dapat memberinya jalan keluar. Namun setiap kali sudah sampai pada titik untuk benar-benar bertindak, ketakutan menghentikannya.

Ia takut mati.

Ia takut ketahuan.

Ia takut menyesal.

Dan yang paling mengganggunya adalah anak pertamanya.

Setiap kali melihat wajah anak itu, Asha merasa tidak sanggup membuat keputusan yang mungkin mengubah hidup mereka selamanya.

Ia akhirnya tidak melakukan apa pun.

Kehamilan terus berjalan.

Danu semakin santai karena menurutnya masalah sudah selesai.

“Aku sudah bilang, nanti kamu juga terbiasa.”

Asha tidak pernah menjawab.

Ia mulai merasa bahwa Danu bahkan tidak melihat kehamilan itu sebagai sesuatu yang terjadi pada tubuhnya. Bagi lelaki itu, bayi tersebut hanyalah bagian dari keluarga yang menurutnya memang seharusnya ada.

Ketika pemeriksaan menunjukkan bahwa bayinya perempuan, Danu hanya mengangguk.

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Anak perempuan biasanya lebih dekat dengan ibunya.”

Asha menatapnya.

“Dia bukan dilahirkan untuk mengurusku.”

Danu tertawa kecil.

“Kamu terlalu serius.”

“Tidak. Aku hanya tidak ingin dia tumbuh seperti kita.”

Danu tidak memahami maksudnya.

Atau mungkin tidak mau.


Semakin besar kandungannya, semakin sering Asha membayangkan hidup setelah persalinan.

Ia membayangkan rumah yang semakin sempit, uang yang semakin sedikit, dan dua anak yang membutuhkan perhatian. Ia membayangkan dirinya berhenti bekerja karena Danu tidak mungkin menjaga anak-anak sendirian. Ia membayangkan kembali menjadi seseorang yang seluruh waktunya digunakan untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Yang paling menakutkan adalah ia mulai membayangkan bagaimana rasanya jika bayinya tidak pernah lahir.

Pikiran itu datang tanpa diundang.

Kemudian muncul lagi.

Dan lagi.

Asha membencinya.

Namun ia juga tidak mampu menghilangkannya.

Lihat selengkapnya