RATNA: The Writer
Aku tidak pernah menulis kisah-kisah itu karena ingin menjadi penulis.
Itu selalu terdengar seperti kebohongan yang rapi jika diucapkan keras-keras.
Aku menulis karena ada terlalu banyak hal di dalam kepalaku yang tidak pernah bisa keluar dengan cara yang “benar”. Dan semakin lama aku mencoba menahannya, semakin aku tidak yakin mana yang benar-benar terjadi, mana yang hanya tinggal di dalam diriku, dan mana yang mungkin… tidak pernah terjadi sama sekali.
Aku adalah satu-satunya orang yang tahu porsi kebenaran di setiap cerita itu.
Dan bahkan itu pun tidak selalu stabil.
Ketika aku masih merasa “utuh”, aku mengamati manusia seperti seseorang yang sedang mencoba memahami bahasa asing tanpa kamus.
Aku tidak hanya mendengar apa yang mereka katakan. Aku memperhatikan jeda sebelum mereka menjawab. Aku memperhatikan cara mata mereka menghindar. Aku memperhatikan bagaimana seseorang bisa berubah hanya karena dicintai, ditolak, diancam, atau diberi sedikit kendali atas orang lain.
Dari situ semuanya dimulai.
Bukan dari sebelas perempuan itu.
Bukan dari kematian.
Tapi dari satu pertanyaan yang tidak pernah benar-benar meninggalkanku sebagai seorang ibu:
Bagaimana aku bisa mengajarkan hidup kepada anakku, jika aku sendiri tidak yakin sedang hidup dengan benar?
Rendra lahir ketika aku masih percaya bahwa aku cukup kuat untuk mengatur segalanya. Lalu Alara datang lima tahun kemudian, dan pada saat itu aku masih percaya bahwa cinta adalah sesuatu yang cukup untuk menjaga semuanya tetap utuh.
Aku tidak tahu bahwa cinta juga bisa menjadi alasan seseorang bertahan terlalu lama di tempat yang salah. Aku tidak tahu bahwa seseorang bisa mencintai anak-anaknya dengan sangat dalam, dan tetap—tanpa sadar—meninggalkan luka di dalam mereka.
Dan aku tidak tahu bahwa suatu hari aku akan takut… bukan pada dunia, tapi pada kemungkinan bahwa anak-anakku akan tumbuh menjadi versi diriku yang paling tidak stabil.
Ketika pikiranku mulai tidak bisa dipercaya, aku menemukan satu hal yang masih bisa aku kendalikan.
Menulis.
Awalnya hanya beberapa halaman.
Lalu menjadi puluhan.
Lalu menjadi tumpukan yang tidak pernah aku berani hitung dengan jujur.
Aku tidak memberi judul pada sebagian besar tulisan itu. Aku hanya memberi mereka nama perempuan. Dan setelah itu… aku membiarkan mereka hidup sendiri di dalam halaman-halaman itu.
Atau mati.
Atau sesuatu di antara keduanya.
Lima perempuan pertama mati.
Aku tahu itu terdengar seperti keputusan yang kejam. Tapi aku tidak menulis mereka untuk menjadi kejam. Aku menulis mereka sebagai peringatan.
Tentang apa yang terjadi ketika seseorang membiarkan satu hal kecil tumbuh tanpa disentuh: satu kebohongan, satu ketakutan, satu hubungan yang salah, satu keputusan yang terus ditunda, satu luka yang tidak pernah diberi nama.
Aku tidak percaya kematian itu indah.
Aku tidak pernah percaya itu.
Lima kematian itu adalah cara paling jujur yang aku tahu untuk mengatakan: ada titik di mana sesuatu tidak bisa diperbaiki lagi.
Dan aku ingin Alara mengerti itu. Bukan untuk membuatnya takut. Tapi untuk membuatnya sadar bahwa tidak semua hal bisa “nanti saja”.
Enam perempuan berikutnya tidak mati. Dan justru itu yang paling membuatku tidak nyaman saat menulisnya. Karena mereka terlihat hidup.
Mereka bangun pagi.
Mereka bekerja.
Mereka mencintai.
Mereka tertawa.
Mereka bahkan terlihat baik-baik saja.
Tapi aku tahu sesuatu yang tidak mereka sadari.
Mereka sedang menghilang.
Sedikit demi sedikit.
Belle kehilangan dirinya karena ia percaya cinta selalu akan kembali ke bentuk yang ia inginkan. Asha kehilangan dirinya karena ia mengira bertahan adalah bentuk kesetiaan.
Liora kehilangan dirinya karena ia percaya menyelamatkan orang lain adalah cara untuk menebus dirinya sendiri.
Dan sisanya… aku bahkan tidak selalu bisa membedakan mana yang berdasarkan orang nyata, mana yang lahir dari ketakutanku sendiri.
Itulah bagian yang tidak pernah aku akui dengan jujur kepada siapa pun:
Beberapa dari mereka adalah cermin.
Bukan orang.
Awalnya ini hanya tempat aku menyimpan diriku yang tidak bisa aku ucapkan. Tapi ketika Alara masih kecil, aku mulai membacakan sebagian kisah itu sebelum tidur.
Aku tidak menyebutnya tragedi.
Aku tidak menyebutnya peringatan.