ALARA - The Unwritten One
Sore itu, taman rumah sakit jiwa terasa jauh lebih tenang daripada yang Alara bayangkan. Beberapa pohon tua berdiri di sepanjang jalan setapak, menaungi bangku-bangku kayu yang mulai pudar warnanya. Di sudut lain, beberapa pasien duduk bersama perawat yang mengawasi dari jarak dekat. Ada yang berbicara pelan, ada yang memandangi bunga, dan ada pula yang hanya duduk diam dengan tatapan yang entah tertuju ke mana.
Alara duduk di sebuah bangku di bawah pohon bersama Ratna.
Dua perawat berada beberapa meter dari mereka. Mereka tidak ikut campur, tetapi sesekali memperhatikan keadaan Ratna. Alara merasa aneh melihatnya. Selama ini ia mengenal ibunya melalui potongan-potongan cerita, catatan, foto lama, dan ingatan yang baru mulai kembali. Namun perempuan yang duduk di sampingnya sekarang terlihat begitu berbeda dari sosok yang selama berbulan-bulan memenuhi pikirannya.
Ratna tampak tua.
Rambutnya telah memutih hampir seluruhnya, tubuhnya kurus, dan wajahnya menyimpan ketenangan yang sulit ditebak. Tidak ada kegelisahan yang biasanya muncul ketika Alara membayangkan masa lalu ibunya. Tidak ada kemarahan. Tidak ada rasa takut.
Hanya kosong.
Alara sudah diberi tahu bahwa kondisi Ratna tidak memungkinkan dirinya mengingat orang secara konsisten. Kadang ia mengenali nama tertentu, tetapi beberapa menit kemudian lupa. Kadang ia bisa mengingat sesuatu yang terjadi puluhan tahun lalu, tetapi tidak tahu siapa yang baru saja duduk di sampingnya.
Alara juga sudah tahu bahwa Rendra mengalami hal yang sama.
Ratna tidak selalu mengenali anak laki-lakinya sendiri.
Mungkin itu sebabnya Alara tidak lagi datang dengan harapan bahwa ibunya akan menatapnya dan berkata, Aku ingat kamu.
Ia sudah terlalu lama menunggu jawaban dari seseorang yang bahkan mungkin tidak lagi memiliki kemampuan untuk memberikannya.
Ratna menoleh kepadanya.
“Kamu siapa?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi tetap terasa seperti sesuatu yang jatuh tepat di tengah dada Alara.
Ia tersenyum.
“Alara.”
Ratna mengulanginya perlahan.
“Alara.”
Seolah nama itu pernah disimpan di suatu tempat yang jauh di dalam pikirannya, tetapi pintu menuju tempat itu sudah tidak dapat dibuka.
“Nama yang bagus,” katanya.
“Terima kasih, Bu.”
Ratna tersenyum kecil, lalu kembali memandang taman.
Alara tidak membetulkan apa pun. Ia tidak berkata bahwa ia adalah anaknya. Tidak menjelaskan siapa Rendra. Tidak mengingatkan tentang rumah yang pernah mereka tinggali atau tentang kehidupan yang pernah mereka jalani.
Untuk apa?
Ia tidak ingin memaksa seseorang yang sudah kehilangan sebagian besar dirinya untuk mengembalikan sesuatu yang mungkin memang sudah tidak bisa kembali.
Jadi ia hanya duduk di sana.
Menemani.
Beberapa saat kemudian, Alara mengeluarkan buku tipis dari tasnya.
Ratna melirik.
“Itu apa?”
“Buku.”
“Kamu suka membaca?”
“Dulu Ibu yang membuatku suka membaca.”
Ratna menatapnya dengan sedikit kebingungan.
“Aku?”
Alara tersenyum kecil.
“Iya.”
Ratna tidak mengatakan apa-apa lagi.
Alara membuka buku itu, tetapi tidak mulai membaca. Di dalamnya terdapat sebelas nama yang selama beberapa waktu terakhir telah menjadi bagian dari hidupnya.
Dulu, setiap nama terasa seperti pintu menuju sebuah misteri. Alara membaca kisah mereka dengan keyakinan bahwa di balik kematian dan kehancuran itu terdapat jawaban yang sedang menunggunya. Ia mencari hubungan, mencari pola, mencari seseorang yang mungkin berada di belakang semuanya.
Sekarang, setelah mengetahui sebagian dari kebenaran, ia melihat nama-nama itu dengan cara berbeda.
Ia tidak lagi melihat sebelas perempuan yang harus ia pecahkan.
Ia melihat manusia.
Mereka memiliki kehidupan masing-masing, ketakutan masing-masing, dan pilihan yang pada awalnya mungkin terlihat kecil. Tidak ada seorang pun yang bangun pada suatu pagi dan memutuskan untuk menghancurkan hidupnya sendiri.
Kehancuran biasanya datang melalui sesuatu yang lebih sederhana. Sebuah keputusan yang dianggap tidak terlalu penting. Sebuah ketakutan yang dibiarkan terlalu lama. Seseorang yang terlalu dipercaya. Sesuatu yang seharusnya ditinggalkan tetapi terus dipertahankan.
Kemudian pilihan itu diikuti pilihan lain, sampai seseorang berdiri terlalu jauh dari dirinya sendiri dan tidak lagi tahu bagaimana cara kembali.
Itulah yang paling melekat dalam diri Alara setelah membaca semuanya.
Bukan kematian mereka.
Melainkan proses sebelum kematian itu terjadi.
Lima perempuan berakhir dengan kehilangan hidup mereka, sementara enam lainnya kehilangan sesuatu yang mungkin tidak terlihat oleh siapa pun dari luar. Mereka kehilangan suara sendiri, batas diri, keberanian, atau kemampuan untuk percaya bahwa hidup mereka masih bisa menjadi milik mereka.
Dan semakin Alara memikirkannya, semakin ia sadar bahwa kedua hal itu tidak pernah benar-benar terpisah.
Seseorang tidak harus mati untuk kehilangan hidupnya.
Seseorang juga bisa tetap bernapas bertahun-tahun setelah dirinya sendiri berhenti merasa hidup.
Alara menutup buku itu.
Ia tidak perlu membaca ulang kisah mereka.
Ia sudah membawa sebagian dari mereka di dalam dirinya.
“Bu,” katanya pelan.
Ratna menoleh.
“Dulu Ibu suka menulis?”
Ratna tampak berpikir.
“Menulis?”
“Iya.”
“Kadang.”
“Apa yang Ibu tulis?”
Ratna mengangkat bahu.
“Banyak hal.”
Alara tersenyum kecil.
“Benar.”
Ratna kembali melihat bunga di dekat pagar.
“Dulu aku suka cerita.”
Alara mengangguk.
“Iya.”
Ratna memandangnya.
“Kamu suka?”
“Suka.”
“Kenapa?”
Alara terdiam sejenak.
“Karena cerita membuat kita bisa melihat kehidupan orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri.”
Ratna tersenyum, seolah jawaban itu cukup. Namun bagi Alara, kalimat tersebut terasa seperti kesimpulan dari semua yang telah ia jalani. Selama ini ia mengira sedang membaca kehidupan orang lain. Padahal perlahan ia sedang belajar memahami dirinya sendiri.
Angin bergerak melewati taman. Beberapa daun jatuh di dekat kaki mereka. Alara memandang wajah Ratna lagi. Dulu ia membayangkan pertemuan ini akan terasa seperti akhir dari sebuah perjalanan panjang. Ia membayangkan dirinya akan datang dengan semua pertanyaan yang sudah disiapkan, kemudian Ratna akan menjawabnya satu per satu.
Tetapi tidak ada akhir seperti itu.
Ratna tidak bisa menjelaskan apa pun.
Tidak bisa meminta maaf.