13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #1

01: Gala dan Sensei

Burung kecil melesat dari cabang pohon, sambil berkicau, terbang makin tinggi. Dedaunan bergesekan oleh hembusan angin, segar seperti membawa serta aroma tanaman-tanaman di ladang dan serpihan sayap kupu-kupu dari kebun. Cahaya sedang hangat sekarang, oranye menghias setiap titik pada deretan bangunan sederhana dari kayu, terpisah jauh-jauh jaraknya di antara halaman luas, hijau dipenuhi rumput.

Desa Candala. Sebuah pemukiman penduduk kecil dan sederhana. Satu-satunya di kaki gunung, dikelilingi oleh hutan luas, sehingga terpencil dan terpelosok. Ada satu jalan kecil menghubungkan dengan pemukiman utama, yang akan membutuhkan sekitar dua jam perjalanan dan hanya bisa dilalui oleh truk kecil.

Pendidikan di sini hampir tidak ada. Anak-anak diajar oleh orang tua mereka sendiri untuk membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Namun, sopan santun diwariskan turun-temurun dengan sangat baik. Para penduduk Desa Candala begitu beradab, ramah, dan senang untuk saling menolong.

Tempat tinggal, makanan, dan pakaian mereka termasuk layak dan bersih. Kebun dan ladang terhampar luas-luas milik para penduduk. Rumah produksi kain dan baju ada di sudut desa, dikelola oleh dan kepada warga-warganya.

Baru sebulan lalu, relawan-relawan datang dari kota. Tiga dokter, delapan guru, dan seorang pelatih bela diri. Beberapa gedung pendukung dibangun. Sederhana, tetapi fungsional. Klinik Umum, Sekolah Rakyat, dan Dojo Judo. Kedatangan mereka membawa banyak hal baru ke Desa Candala. Tentu saja, menjadi sesuatu yang sangat disambut dan dihargai oleh seluruh penduduk.

Sekarang anak-anak tidak lagi belajar di rumah dengan seadanya bersama orang tua. Mereka akan pergi ke Sekolah Rakyat setiap pagi hingga siang hari. Kemudian, pulang supaya bisa makan siang. Sisanya, dihabiskan untuk bermain, kecuali bagi sebagian anak yang mengikuti bela diri Judo, hari mereka dilanjutkan dengan pergi ke dojo untuk latihan hingga sore hari.

Kebanyakan siswa di dojo adalah laki-laki, sedangkan perempuan hanya kurang dari lima. Para orang dewasa tahu bahwa pelatih Judo, Hasta Juan—nama Jepang: Handa Kyuuen—pria usia tiga puluh lima tahun, merupakan orang yang baik dan perhatian. Namun, pembawaan luarnya memang dingin, kurang ekspresi, serius, dan cukup galak, sehingga beberapa anak bilang ketakutan untuk berlatih dengannya.

“Lebih kuat! Jangan lemah!” Juan berjalan mengelilingi tepian dojo. Mengenakan atasan dan bawahan panjang khas seragam bela diri Judo, judogi namanya. Berwarna putih atau biru tua. Kali ini, dia mengenakan yang putih. Di pinggang, sabuk hitam melilit erat seperti sebuah kebanggan dan dedikasi bertahun-tahun.

Dojo berupa satu ruangan luas. Lantai dilapisi matras sebagai keamanan selama latihan. Dilengkapi beberapa jendela untuk sirkulasi udara dan empat buah kipas. Salah satu sisi dinding lebar ditempel cermin besar. Di dinding seberangnya, terdapat banner bertulis identitas terpampang besar tinggi-tinggi menggunakan dua bahasa.

Seishinkai, Pelatihan Seni Beladiri Judo Desa Candala

Seishinkai Candala-mura Jūdō Kyōshitsu

Dojo Judo Milik Juan-Sensei dari Seishinkai

Seishinkai Kyuuen Dōjō

“Baik, Sensei!” teriak anak-anak bersamaan. Mereka diajarkan memanggil dengan lebih tepat selaku siswa dojo kepada pelatih, yaitu sensei yang berarti pengajar, meski orang-orang di desa lebih akrab memanggil pria itu dengan Mas Juan.  

Ini adalah sesi terakhir dari serangkaian latihan Judo hari ini. Anak-anak sudah penuh keringat, napas menderu. Judogi alias seragam Judo mereka berantakan. Namun, seruan Juan mendorong adrenalin mereka untuk terpompa kembali.

Di Kyuuen Dojo, hari ini adalah kelas untuk anak-anak usia lima hingga delapan tahun. Di hari berbeda, kelas dibuka untuk anak-anak usia sembilan hingga dua belas tahun, dan hari lain lagi untuk siswa usia tiga belas tahun ke atas. Juan mengatur pemisahan sedemikian rupa karena setiap jenjang membutuhkan intensitas dan cara latihan berbeda.

Setidaknya, setelah satu bulan melatih mereka, Juan mulai bisa menilai performa masing-masing. Di kelas ini, kebanyakan berada di posisi rata-rata, sebagian kecil agak kurang, dan ada satu anak laki-laki cukup unggul. Jenggala namanya, dipanggil Gala. Umur tujuh tahun dan dikenal sebagai anak nakal di desa.

Juan bukan tipe orang yang suka ikut-ikut melabeli anak kecil, tetapi juga tidak bisa semata-mata meminta semua orang untuk berhenti menyebut Gala demikian. Toh, dia baru tinggal di Desa Candala selama sebulan, sekadar pendatang yang belum tahu apa-apa.

Lihat selengkapnya