13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #2

02: Muram

“Seperti ini, lihat! Seperti ini yang dicontohkan oleh Sensei!”

Sepanjang jalan Desa Candala, keberadaan orang-orang di depan rumah untuk mengobrol bersama sudah mulai berkurang. Matahari sedang terik-teriknya sekarang, tepat siang hari. Sekolah Rakyat baru selesai satu jam lalu, lebih sedikit. Anak-anak, selepas makan siang di rumah, sekarang sudah berkumpul di dojo. Menunggu sensei datang untuk memulai latihan.

Gala memegang kerah dan lengan dari seragam Danu. Salah satu tangan ganti meraih pinggangnya sambil berputar balik, lalu menggunakan panggul bagian bawah untuk membantu mengangkat dan melemparnya ke bawah. Sebuah bantingan kuat dan langsung. Salah satu teknik yang pernah diajarkan Juan.

Anak-anak lain tertawa. Bercanda, bukan dalam artian sesungguhnya. Dari tadi, Danu juga berusaha mengeksekusi gerakan tersebut kepada teman-teman, tetapi belum kunjung berhasil dengan sempurna. Sementara Gala berhasil dalam sekali cobaan—tentu berkat  latihan kerasnya selama ini.

“Lihat, lihat! Kalau aku bisa begini!” Beberapa anak berbeda bergantian unjuk kemampuan mereka akan berbagai teknik yang sudah pernah dipelajari, kepada para teman, bahkan hingga jatuh ke lantai beralaskan matras. Belum terlalu sempurna, tetapi asal sama-sama tertawa cekikikan dengan senang dan sedang berada di luar latihan sungguhan, maka tidak terlalu masalah.

“Sensei datang! Sensei datang!” seru anak lain dari ambang pintu.

Cepat-cepat mereka bangkit untuk berbaris di tengah dojo. Rapi dan tertata, sambil menoleh kanan kiri untuk memastikan diri sendiri maupun teman-temannya telah berada di posisi tepat.

“Selamat siang, Sensei!” seru mereka bersamaan.

“Siang.” Juan melangkah memasuki dojo. Seragam terpasang rapi seperti biasa, sabuk hitam tak pernah tertinggal. Dia berhenti untuk berdiri di hadapan barisan anak-anak. “Berdoa dahulu.”

Kebiasaan setiap awal tak pernah berubah. Berbaris di depan sensei, berdoa, membungkuk sebentar sebagai rei atau sapaan hormat. Setelah itu, barulah mereka bubar barisan untuk memulai rangkaian pemanasan.

Sesi pertama kali ini dimulai dengan drill terlebih dahulu. Latihan berulang untuk sebagai persiapan untuk mempelajari atau menguasai lebih baik terhadap teknik-teknik dalam Judo. Anak-anak sering mengeluh di kegiatan ini, katanya membosankan dan ingin buru-buru langsung belajar membanting-banting. Namun, tentu saja, Juan akan langsung menegur tegas-tegas dan dengan disiplin tetap melatih mereka untuk drill.

Selepas itu, barulah kegemaran anak-anak, praktek teknik-teknik dalam Judo. Hari ini, mereka masih berlatih teknik serupa seperti pertemuan sebelumnya, yang digunakan Gala untuk membanting Danu beberapa menit lalu. Supaya mereka semua benar-benar menguasai dengan sempurna.

“Semuanya berpasang-pasangan!” seru Juan.

Gala berpartner dengan Dalu, sama seperti pertemuan terakhir. Dua anak itu biasanya akrab-akrab saja, bahkan cenderung dekat karena sering bermain bersama dengan teman-teman lain juga. Namun, agaknya, Danu masih kesal setelah dibanting dengan mudah oleh Gala sebelum latihan dimulai tadi. Alhasil, dia menatap tajam kepada Gala dengan alis berkerut dan bibir terkatup erat, khas anak lelaki ketika berusaha mengintimidasi temannya.

Gala, anak dengan temperamen tinggi, tentu langsung ikut tersulut. Dia menggertak, nyaris menyenggol Danu untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul saat ini, andai saja mereka tidak sedang berada di tengah latihan Judo. Gala tak akan ragu untuk mendorong atau melempar orang yang membuatnya kesal. Namun, baginya, latihan adalah latihan.

Dia ingin menjadi lebih kuat.

Lihat selengkapnya