Di atas tanah-tanah bumi yang menguar sebuah bisikan untuk istirahat, cahaya senja memeluk hangat setiap atap bangunan dan pepohonan tinggi, sebuah lagu menjemput menuju rumah.
Serangkaian latihan di dojo hari ini berakhir dengan tidak biasa, Juan menyadarinya. Bukan sekadar karena sebagian anak-anak dijemput oleh orang tua mereka, tetapi juga ekspresi tak biasa—setidaknya Juan belum pernah melihatnya—satu-satunya siswa yang masih tertinggal di ruang saat lainnya telah pergi.
“Gala,” panggilnya. Tajam, tegas, galak, tidak ramah, khas Juan seorang pelatih Judo yang dikenal orang-orang dengan tidak ekspresif dan terlalu serius, walau sebenarnya dia baik.
Anak itu hendak beranjak meninggalkan dojo, tetapi kemudian menoleh. “Ada apa, Sensei?”
Ekspresi anak itu tahu-tahu sudah berubah kembali seperti semula, dan hal tersebut mengganggu Juan. Dia tahu ada banyak hal disembunyikan di sana, seakan-akan tak ada masalah apa pun. Namun, apa yang terlihat dari anak itu beberapa saat lalu, sudah lebih dari jelas.
Juan bangkit dari duduk di tepian, lalu berjalan ke sisi tengah dojo. “Kamu belum bisa pulang dahulu. Ada latihan tambahan untukmu.” Dia mengencangkan sabuk hitam di pinggang.
“Hah?!” Gala langsung mengerutkan alis tak suka. “Mengapa? Sejak tadi, Sensei tidak mengatakan apa pun soal latihan tambahan untukku!”
“Karena kamu tadi membanting Danu terlalu keras di luar sesi latihan,” kata Juan. Datar, tetapi tegas. “Kemarilah. Randori dengan Sensei supaya kamu tahu apa itu Judo sesungguhnya.”
Randori, sesi latihan bebas atau sparring untuk mensimulasikan pertandingan sesungguhnya. Dua pejudo dapat menerapkan berbagai teknik secara realistis, bukan seperti saat praktik yang setiap pejudo diberi kesempatan untuk mengeksekusi gerakan terhadap satu sama lain. Dalam randori, siapa yang lebih kuat, dia yang punya kesempatan untuk menyerang.
Gala tak pernah suka setiap kali Juan menghakimi perilakunya. Ini menyebalkan, cukup jelas dari cara anak itu mendengus. Namun, karena masih berkaitan dengan latihan, dan ini akan membuatnya lebih kuat seperti keinginannya, Gala menurut.
Dia melangkah ke hadapan Sensei, kemudian saling membungkuk untuk memberikan rei. Gala langsung bersiap, reflek cepat dan penuh antisipasi. Sekejap setelah itu, dia baru sadar Sensei belum bergerak sama sekali. Bukan sekadar perbedaan tinggi badan mereka, cara orang itu menatapnya, ke arah bawah—walau mungkin hanya karena dirinya lebih pendek—belum-belum sudah membuat Gala kesal bukan main.
Gala meraih kerah dan sisi samping seragam Juan, agak kesulitan karena perbedaan tinggi mereka. Dia berusaha menarik, tetapi sensei-nya itu tak berhasil digoyahkan sedikit pun. Ganti kaki berusaha menyapu untuk menjatuhkan. Namun, hasilnya sama, tak cukup kuat untuk merobohkan pertahanan Juan.
Akhirnya, Juan bergerak juga. Tangan mencengkram kerah dan lengan atas pakaian anak itu. Randori mulai terasa menegangkan. Dia bukan mengintimidasi, tetapi menunjukkan kekuatan yang sampai saat ini masihlah jauh dari kemampuan Gala untuk menembusnya.
Namun, Gala sendiri, juga bukan anak dengan kepala dingin yang mau mundur, meski tahu bahwa dia jauh dari kata menang. Dia masih berusaha mendorong, bahkan lebih kuat, selagi Sensei menahannya dengan mudah tanpa upaya.
Juan mengamatinya. Sejak awal, inilah tujuannya. Memecah fokus anak itu sambil membiarkan amarahnya terlampiaskan melalui randori, dia mungkin akan menjadi lebih mudah untuk menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya dan membiarkan emosi yang lain ikut larut.
Semenjak peristiwa di warung malam hari itu dan mengetahui bahwa Gala kehilangan ayahnya, Juan menjadi ingin mendekati anak itu. Inilah salah satu upayanya, dengan harapan Gala akan mau membuka hati padanya.
“Coba jawab pertanyaan Sensei.” Juan sengaja melonggarkan pertahankan sedikit, dan hanya untuk sedetik, menciptakan tarik ulur di antara mereka. “Apa yang membuatmu marah? Sensei menegurmu? Sensei mengunggulimu? Atau karena teman-temanmu kali ini pulang dengan dijemput?”