13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #4

04: Mengapa Berbeda?

“Pagi, Mas Juan.”

“Pak Mahadi. Pagi, Pak.”

Senyuman tipis Juan kontras dengan sumringah lebar dan ramah di muka Mahadi, pria empat puluh lima tahun. Namun, pria itu maupun orang-orang di desa paham bahwa Juan adalah seseorang yang selalu bisa diandalkan dan peduli, hanya saja memang kurang ekspresif dan sering kali tak banyak bicara bila tidak diperlukan.

Juan mengenal Mahadi bukan hanya berkat jabatannya sebagai kepala desa sehingga sering ditemui untuk berbagai urusan, terutama ketika awal-awal rombongan relawan baru datang. Namun, dia juga mengingatnya berkat bocorkan diam-diam tentang kisah Gala. Malam itu saat di warung, Mahadi adalah orang yang meminta maaf sambil menyampaikan tentang perginya ayah kandung anak itu.

“Mohon bimbingannya, Pak. Kami, para relawan masih baru di sini. Jadi, belum terlalu paham harus membantu seperti apa,” tambah Juan.

Hari ini, Desa Candala mengadakan salah satu dari beberapa kegiatan rutin, yaitu makan bersama. Kegiatan akan dimulai dari pagi hari, para pria membersihkan dan menyiapkan sebuah tempat luas yang akan mereka digunakan sebagai lokasi makan-makan nanti. Sementara para wanita akan mulai memasak bersama-sama saat siang hari. Makanan ditargetkan selesai saat sore sehingga semua dapat melaksanakan makan bersama di malam harinya.

Maka karena itu, hari ini Sekolah Rakyat dan Judo Seishinkai libur. Klinik Umum juga, tetapi akan tetap melayani apabila ada keadaan tak terduga. Guru-guru, Sensei, dan para dokter ikut membantu mempersiapkan kegiatan seperti halnya semua orang dewasa di desa.

Pagi baru saja dimulai. Hembusan-hembusan angin tipis di Desa Candala begitu segar, sedikit agak dingin. Cahaya matahari hangat, menembus awan-awan dan pepohonan tinggi memenuhi sekitar. Satu dua burung kecil beterbangan dari ranting ke ranting.

Lokasi yang akan mereka gunakan untuk makan-makan nanti adalah sebuah bangunan aula terbuka. Lantai dan enam tiang penyangga terbuat dari kayu, dengan sebuah meja rendah sangat panjang di tengah, sebagai tempat meletakkan banyak sekali macam peralatan makan dan memasak khusus acara makan bersama. Keempat sisi tidak ada dinding. Di sekeliling, halaman luas terhampar, disusul oleh pohon-pohon ukuran sedang dan tinggi bagai pagar dari alam.

“Mas Juan sama teman-teman membantu memotong rumput saja.”

“Baik, Pak.”

Persiapan kegiatan dimulai juga. Sederhananya, para pria membersihkan bangunan aula dan area sekitarnya. Lantai, tiang, langit-langit, meja panjang, peralatan memasak dan makan; rumput-rumput di sekitar yang telah tinggi, pohon-pohon juga diperiksa untuk memastikan tidak ada hewan berbahaya sedang bersembunyi.

Gotong royong mereka penuh semangat di bawah cahaya pagi Desa Candala. Tenaga para pria seakan-akan sinkron satu sama lain, menularkan energi dan kebahagiaan. Toh, kesempatan berkumpul seluruh pria di desa seperti ini, akan selalu menyenangkan.

Obrolan-obrolan terdengar bersahut-sahutan, suara mereka lantang mengisi udara segar di sekitar. Satu candaan garing dilempar, semua akan ikut tertawa. Sebagian sambil membahas anak-anak mereka, keadaan ladang dan kebun yang dirawat sepenuh sepenuh hati, atau sekadar curhat soal omelan istri mereka.

“Betah di desa, Mas Juan?” Mahadi berjongkok tak jauh dari seseorang yang diajak bicara. Sabit di tangan lihai dan presisi memotong bagian-bagian rumput yang terlalu tinggi.

“Syukurlah, Pak.” Juan juga memotong rumput, seperti arahannya tadi. Namun, berbeda dengan pria paruh baya itu yang cekatan dan sangat natural dalam memegang dan mengayun sabit, Juan lebih lambat dan sesekali berhenti untuk memperbaiki posisi mata pisau atau dirinya agar tidak berpotensi terluka sendiri. “Kami justru khawatir merepotkan.”

Kepala Desa tersenyum, ramah dan bersahabat. “Setiap hari, saya sering berbincang dengan orang-orang. Mereka semua senang dengan kehadiran para relawan. Anak-anak sekarang pintar. Bukan hanya bisa baca tulis dan menghitung sederhana, tetapi menjadi tahu lebih banyak hal. Kalau anak saya cerita tentang apa yang dipelajari di Sekolah Rakyat, saya sampai kagum sendiri. Anak-anak di dojo juga saya lihat luar biasa, tidak pernah saya menyangka mereka akan bisa sehebat itu. Selain itu, sekarang kalau pegal-pegal karena terlalu banyak bekerja atau anak anak demam, bisa ke Klinik Umum, diberi obat langsung membaik. Dahulu, anak-anak kalau demam bisa sampai seminggu, kasihan sekali. Semuanya berterima kasih sama kalian, para relawan.”

Juan sengaja melambatkan proses memotong rumput untuk mendengarkan baik-baik. Setelah itu, dia mengangguk kecil. “Sudah menjadi tujuan kami untuk membantu desa. Syukurlah kalau terpenuhi. Kami juga berterima kasih karena diterima di sini. Saya dengar, beberapa rekan di daerah lain terkadang ditolak sampai disakiti dan diusir dengan tidak baik.”

Senyuman di bibir Mahadi melebar sedikit. Kerutan-kerutan di bawah mata pria paruh baya itu seperti saksi akan betapa sentosa dan hangatnya orang-orang yang dipimpinnya. “Di Desa Candala, selama memiliki hati baik dan mulia, siapa pun akan diterima.”

Lihat selengkapnya