Persiapan kegiatan makan bersama di Desa Candala, berjalan lancar. Saat siang tiba, rumput-rumput di halaman sudah pendek dengan rata, bangunan aula bersih, meja siap dengan piring dan sendok tertata rapi. Saat ini mulai siang, para pria beristirahat di depan rumah masing-masing, sedangkan wanita-wanita mulai datang untuk memasak bersama.
Di samping bangunan aula, ada dapur sederhana, tetapi lebar. Memang dibuat agar dapat menampung orang dan peralatan memasak sebanyak mungkin, untuk persiapan kegiatan makan bersama seperti sekarang. Sebagian memotong-motong bahan, ada yang mencuci nasi, dan salah satu mengatur agar semua berjalan dengan tepat dan sesuai.
Anak-anak sudah kembali ke rumah masing-masing untuk tidur siang, dijaga oleh bapak mereka. Namun, Gala dan Ayana masih berada di bangunan aula. Bundanya hadir untuk memasak bersama sehingga tidak ada seorang pun di rumah dapat menjaga apabila mereka pulang untuk tidur siang.
“Ayaya, lihat, lihat. Ada capung.” Gala menunjuk salah satu sisi rumput di halaman, sambil menoleh kepada adiknya dengan ekspresi berusaha meyakinkan yang sedikit berlebihan. “Ayo, ke sana? Kita melihat capung?”
Gala langsung menggendong adiknya di punggung, harus memastikan gadis mungil itu benar-benar pas di punggung dan genggaman telah erat sebelum bangkit, untuk memastikannya tak akan terjatuh. Mau bagaimana tidak, Gala juga sama-sama masih anak kecil.
“Nah, lihat.” Gala berjongkok lagi setelah mereka cukup dekat dengan sebuah capung. Di dekat juga ada bunga-bunga liar tumbuh sehingga sebuah kupu-kupu kebetulan terbang mendekat. “Oh, bahkan ada kupu-kupu juga, lho. Kesukaanmu.”
Gala berusaha keras bukan tanpa alasan. Sekarang sudah memasuki waktu biasanya Ayana tidur siang sehingga rewel, sedikit-sedikit merengek, terlihat tidak nyaman, dan sangat manja. Gala tidak boleh membiarkan menangis karena akan mengganggu bunda yang sedang memasak bersama para wanita.
Tahun lalu, Gala tidak berhasil sehingga bunda harus memasak sambil menggendong Ayana yang terlelap. Bunda selalu bilang tidak masalah dan tetap berterima kasih karena Gala sempat menemami adiknya. Namun, Gala tentu saja sedikit pun tidak merasa senang akan hal itu. Dia paling benci melihat bundanya kerepotan. Maka karena itu, kali ini, dia tidak boleh gagal lagi.
Ayana akhirnya tenang sebentar. Dia tidak terlihat ingin beranjak dari punggung sang kakak, justru meletakkan kepala di pundaknya. Mata sayu memandang sayap capung dan kupu-kupu. Sayangnya, angin cukup kencang berhembus sehingga hewan kecil cantik itu tiba-tiba terbang tinggi entah ke mana.
Gala sudah buru-buru berusaha mencari hal lain untuk mengalihkan perhatian, tetapi adiknya lebih dulu merengek kembali. Dia bergegas beranjak kembali, masih menggendongnya di punggung sambil diayun pelan, menyusuri halaman sekitar bangunan aula.
Makin kencang rengekan adiknya, kian jauh Gala membawanya dari dapur besar di samping aula. Berharap bundanya tidak menyadari sehingga tidak akan menghampiri untuk mengambil Ayana darinya—dan artinya budanyalah yang kemudian akan kerepotan. Sampai-sampai, Gala memetik satu daun lebar untuk digunakan sebagai payung guna melindungi mereka—terutama adiknya—dari terik matahari siang bolong.
Tahu-tahu, hanya beberapa menit setelah itu, akhirnya sekitar bangunan aula sudah tenang dari suara-suara anak kecil. Ayana tertidur menyandar sang kakak, sedangkan Gala duduk dengan punggung bersangga di salah satu tiang aula. Tangan adiknya masih memegang buah belimbing muda.
Buah itu tadi ditemukan Gala sudah berada di bawah pohon, mungkin terjatuh akibat ulah hewan-hewan liar. Siapa sangka, satu buah itu membuat Ayana benar-benar tersedot perhatiannya, tenang tanpa merengek sedikit pun, sibuk memutar-mutar sambil jemari merasakan setiap sisi. Gala menggendongnya kembali ke aula. Lalu, di sinilah mereka sekarang, sama-sama tertidur akibat kelelahan.
Di dapur besar, Aruna, ibu mereka, sedang membersihkan bahan-bahan masakan sambil melirik belakang ke arah aula. Sudut bibirnya terangkat—senyuman manis yang juga dimiliki oleh Ayana. Dia tahu, anak-anaknya kuat, meski memiliki takdir berbeda dengan anak lain. Mereka pintar dan pengertian, meski dia tahu, satu atau dua luka mungkin sama-sama sedang disembunyikan dari satu sama lain, terutama antara Aruna dengan putranya—Gala.