13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #6

06: Laki-laki Kepercayaan Bunda

“Gala saja, Bunda.” Kalimat itu selalu keluar mulut anak itu, tiap kali melihat bunda hendak mengerjakan sesuatu yang dahulu seingat Gala selalu dikerjakan oleh ayahnya. Memutar antena TV di atas atap yang kurang pas, membersihkan sarang tawon di belakang rumah, memperbaiki sepeda bunda, merapatkan jendela atau pintu kendor.

Gala tak pernah belajar dari siapa pun. Dia mengenal perkakas sejak kecil dan selalu penasaran. Bunda tak pernah melarangnya untuk bereksplor menggunakan peralatan tersebut, selagi dalam pengawasan. Alhasil, beginilah Gala sekarang. Tahu banyak hal, kritis mencari masalah dan menemukan solusi, serta tahu bagaimana cara mengatasinya.

Termasuk pagi ini, kayu-kayu bakar untuk memasak telah habis. Gala bisa saja menikmati waktu sebelum berangkat ke Sekolah Rakyat dengan belajar atau sekadar bermain bersama adiknya. Namun, dia memilih untuk pergi mengumpulkan stok baru kayu-kayu bakar.

Gala meninggalkan rumah dari pintu belakang. Hutan mulai membentang setelah beberapa meter melewati tanah lapang dengan rumput-rumput. Tepiannya masih ramah, hanya ada pohon-pohon besar. Tanah mulai dipenuhi oleh rumput tinggi dan sedikit batu-batu. Beberapa hewan kecil terkadang melintas. Kelinci, kucing liar, tupai. Mereka bersahabat selama tidak disakiti atau diganggu duluan.

Berbeda lagi ketika mencapai bagian tengah hutan. Gunung di belakang mereka termasuk jarang dijamah manusia. Lebih lagi, penduduk Desa Candala sudah mendapatkan cukup bahan makanan dari ladang dan kebun. Kebutuhan lain seperti kayu cukup didapat dari tepian hutan.

Gala paham untuk tidak pergi terlalu jauh. Toh, rutenya mengumpulkan kayu bakar selalu sama. Menyusuri sedikit, menemui hewan-hewan sama yang hampir selalu muncul serupa setiap kali dia datang. Tak butuh waktu lama, dia telah berhasil mengumpulkan cukup banyak dari ranting-ranting jatuh dan pohon-pohon kecil yang tumbang.

Kayu-kayu bakar diikat menggunakan tali, erat-erat, akan kacau dan sangat merepotkan apabila terlepas di tengah jalan. Kemudian, dia mengangkatnya ke belakang pundak. Tidak berat kok, Gala selalu meyakinkan dirinya. Punggung, leher, dan lengan tak jarang tertusuk oleh ujung ranting atau patahan kayu, tetapi dia tak pernah mengeluh.

Dia mulai melangkah meninggalkan hutan. Sialnya, karena terlalu fokus menahan beban kayu bakar di punggung, Gala kurang teliti dengan jalan di depan. Tak sengaja, kaki tersandung batu kecil. Dia kehilangan keseimbangan. Akibat beban berat di tubuh, dia langsung tersungkur ke tanah. Salah satu tangan reflek terjulur, berusaha menahan agar setidaknya wajahnya tidak menghantam tanah. Namun, satu tangan lain juga tidak cukup kuat dan mampu untuk menahan kayu bakar sebanyak itu, akibatnya menimpa sisi tubuhnya.

Pelan-pelan, Gala berusaha keluar dari tumpukan kayu bakar. Dia buru-buru membersihkan sisa tanah di baju dan kulit. Bunda pasti khawatir bila tahu dia sehabis jatuh, bahkan bisa-bisa tak diizinkan lagi untuk membantu mencari kayu bakar. Jadi, dia harus menutupi seluruh bukti ini serapi mungkin.

“Sudah, Bunda.” Selepas meletakkan kayu bakar di gudang rumah—sebagian dibawa masuk ke dapur—Gala langsung pergi menuju kamar mandi. Dia hanya mengiyakan singkat saat bundanya menawari hendak memasak menu tertentu pagi ini. Lebih cepat obrolan selesai, membersihkan badan dan pakaian, maka tak akan ketahuan bila sehabis jatuh.

Setelah mandi, Gala lebih segar. Telah berganti menggunakan seragam Sekolah Rakyat yang rapi dan bersih. Dia menuju meja makan bersamaan bundanya membawa tiga piring sarapan dari dapur.

“Terima kasih banyak, Gala.” Bunda menghampiri untuk mencium sebelah pipi. Lalu, membelai wajah dan rambut anaknya. “Anak hebat. Anak kuatnya Bunda. Sehat-sehat, ya, Nak. Bunda senang, kamu selalu membantu. Maaf, ya, kalau Bunda merepotkanmu.”

“Tidak merepotkan. Gala selalu senang membantu Bunda!” Tangan itu selalu lembut saat menyentuhnya. Persis dan tak pernah berubah semenjak dia masih kecil hingga saat ini. Masihlah bunda yang dikenal dan dicintai sejak momen-momen yang bahkan dia tak bisa mengingatnya karena terlalu belia. “Gala kan anak hebat. Anak hebat itu harus selalu bisa membantu Bunda!”

Lihat selengkapnya