“Gala.”
“Iya, Bunda?” Anak itu baru keluar dari kamar kamar. Mengucek mata, berusaha mengumpulkan sisa nyawa sebangun dari tidur. Matahari di luar masih malu-malu menampakkan diri. Sedikit cahaya hangat mulai menembus udara dingin sisa malam hari.
“Bunda hari ini ada urusan di kebun dari pagi sampai sore. Sarapan dan makan siang sudah siap. Maaf, ya, Nak, tolong jaga Ayaya sampai Bunda pulang nanti.” Wanita itu meraih jaket rajut untuk dikenakan.
Gala mengangguk. “Iya, Bunda. Tidak perlu khawatir.”
Begitulah, pagi ini dia menjadi lebih sibuk daripada biasa. Selepas melambai kepada bundanya yang pergi, Gala berjalan menuju kamar adiknya. Membangunkan Ayana. Gadis kecil itu terkadang sulit dibangunkan ketika suasana hati senang tidak baik. Namun, Gala selalu punya segala cara untuk menghiburnya. Mengajak bercanda, memeluk dahulu, menawari kue atau teh.
“Ayaya mandi dahulu. Setelah itu, bergantian dengan Kakak.”
Selagi menunggu. Dia menyapu rumah dan membersihkan kedua kamar; melipat selimut, menata boneka-boneka kecil milik sang adik di tepi ranjang. Tas sekolah disiapkan, memastikan buku-buku dan alat tulis telah lengkap dan siap, baik miliknya maupun Ayana.
Setelah adiknya selesai mandi, dia membantunya memasang seragam sekolah. Memastikan seluruh kancing kemeja terpasang, dimasukkan ke dalam rok dengan rapi. Kemudian, dia memasangkan sepasang sepatu.
“Ayaya tunggu di sebentar, Kakak juga hendak mandi dan berganti ke seragam sekolah.” Kali ini, Gala mandi lebih cepat dari biasa, tetapi juga tetap memastikan dirinya bersih. Bukan hanya tak ingin membuat adiknya menunggu terlalu lama, dia juga tidak suka dengan skenario Ayana berada di luar pengawasannya ketika tak ada orang lain lagi di rumah.
Syukurlah, saat dia keluar dari kamar mandi, segar dan rapi dengan seragam sekolah, Ayana sedang bermain seorang diri di ruang tengah. Dia memanggilnya untuk sarapan, lalu membantunya supaya bisa naik ke kursi ruang makan. Gala duduk tepat di sebelah, supaya mudah untuk menyendok makanan, lalu menyuapi adiknya.
Setelah itu, mereka berangkat bersama menuju Sekolah Rakyat. Di sana ada Kelas A, B, 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Ayana masih kelas A, sedangkan Gala kelas 1. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan beberapa anak lain yang juga hendak berangkat sekolah. Ramai-ramai mereka berjalan bersama, sambil bercanda tawa dan mengobrol.
Seorang Rakyat hari ini berjalan lancar seperti biasa. Guru-guru mengajar dengan ceria, anak-anak belajar penuh semangat. Kelas selalu menyenangkan. Berbagai pengetahuan baru tak pernah habis untuk mereka pelajari. Mulai dari hal-hal di sekitar, seperti mempelajari tentang pohon, sampai yang jauh di atas sana seperti bulan dan bintang-bintang.
“Ayaya!” Kelas 1 selesai satu jam lebih lama daripada kelas A. Gala tadi sudah bercerita kepada Guru dan meminta tolong untuk menjaga adiknya sebentar, sehingga dia yakin Ayana pasti ada di ruang guru sekarang. Dan dugaannya benar. Dia langsung tersenyum. “Ayaya, ayo pulang. Terima kasih, Bu Guru!”
Mereka berdua kembali ke rumah. Dia meletakkan tas di kamar masing-masing, lalu membantu adiknya berganti ke pakaian biasa, begitu pula dirinya. Setelah itu, dia membuka tudung saji tempat bundanya menyimpan makan siang yang telah siap.
Hidangan itu masih sempurna, terlihat enak dan beraroma sedap, meskipun sudah tidak hangat. Gala dan Ayana tak pernah mengeluh. Toh ini bukan pertama kalinya mereka ditinggal berdua di rumah seperti ini. Bunda mereka memang beberapa kali sangat sibuk di kebun.