13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #8

08: Gala Musuh Biawak

“Kenapa, Bunda?” Gala mengalihkan perhatian dari buku di pangkuan, masih tersisa satu jam sebelum dia harus mulai bersiap-siap berangkat sekolah. Mata mengikuti bunda berlari dari dapur, melalui ruang tengah tempatnya berada, menuju pintu depan rumah.

“Ada biawak masuk dapur, Nak. Bunda panggil Mas Aris dulu!” Wanita itu meninggalkan rumah.

Gala menutup buku. Diletakkan di meja, sambil bangkit. Alis berkerut dan bibir bertaut sebal. Dia melangkah menuju dapur. Tak peduli apa pun ditakuti bunda di sana, dia tak akan takut. Apalagi ketika nama itu disebut-sebut.

Aris adalah tetangga tepat samping rumah. Pria tiga puluh dua tahun, seumuran dengan bundanya. Masih lajang hingga sekarang. Tidak juga ada tanda-tanda sedang mendekati apalagi menjalin hubungan dengan siapa pun.

Biasanya, Gala selalu maju di setiap situasi saat bunda membutuhkan. Dia tak suka bila tiba-tiba nama itu muncul. Sudah begitu, untuk mengerjakan sesuatu yang Gala yakin dirinya juga bisa. Baginya, dia seharusnya yang lebih pantas turun untuk bundanya, daripada pria itu.

Tangan meraih sapu di sudut ruang. Memasuki dapur, dia langsung melihat ekor panjang berwarna hijau gelap, nyaris hitam dengan pola cincin-cincin berwarna kuning. Biawak. Kepala dan badan bersembunyi di bawah tungku masak—api telah mati. Kemungkinan secara insting mencari tempat sempit, gelap, dan hangat. Belum lagi, bisa jadi ada percikan bekas masakan ayam oleh bundanya saat fajar tadi, sehingga aromanya juga menarik.

Gala memegang sapu erat. Mendekat pelan-pelan dari belakang. Saat cukup dekat, dia cekatan menarik ekor. Rencananya, leher biawak akan dikunci menggunakan batang sapu. Namun, ternyata reflek biawak lebih cepat darinya. Lebih dulu berbalik untuk menggigit lengannya.

Aruna, bunda Gala, kembali ke rumah setelah sekitar lima menit pergi untuk memanggil Aris. Buru-buru menuju dapur dengan tetangganya itu untuk memimpin jalan sambil membawa tongkat dari kayu—memang telah dimiliki sejak dulu untuk mengatasi beberapa skenario, termasuk biawak masuk rumah.

Begitu mereka sampai di dapur, tungku masak telah kosong. Tak ada hewan apa pun di sana. Di ujung halaman belakang rumah, berbatasan dengan tepian hutan, putranya berdiri sambil memegang sebuah sapu. Wanita itu buru-buru menghampiri, Aris juga mengikuti di belakang.

Gala menoleh sebentar menyadari bundanya telah kembali. “Biawaknya sudah Gala usir, Bunda. Lari ke tengah hutan.”

Bundanya sempat lega. Namun, hanya sebentar. Saat kemudian memerhatikan putranya lebih detail, dia malah langsung khawatir karena melihat darah mengalir turun. “Nak, lengan kamu….”

Pagi itu, sambil menggendong Ayana yang baru saja bangun, Gala digandeng oleh ibunya ke Klinik Umum. Syukurlah dokter sudah ada di sana, walau belum bersiap-siap sama sekali. Masih memakai baju santai, bahkan baru saja membuka bungkusan nasi. “Pak Dokter, anak saya digigit biawak!”

Nasi langsung dibungkus kembali. Dokter menghimbau Gala untuk masuk ke ruang periksa, sedangkan Aruna bisa menunggu di luar, apalagi ada putri kecilnya yang berpotensi melakukan tingkah-tingkah tak terduga. Sambil menyiapkan beberapa peralatan, dokter meminta Gala menceritakan apa yang terjadi.

Lihat selengkapnya