13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #9

09: Aris dan Aruna

Dojo sepi sejak siang hingga menjelang sore. Juan meliburkan latihan karena dia dan para relawan sedang ada rapat rutin bulanan. Dia tak bisa memastikan pukul berapa akan selesai sehingga lebih baik mentiada kegiatan daripada membuat anak-anak menunggu di dojo hingga waktu tidak pasti.

Nyatanya, sekarang, kira-kira setara setengah sesi latihan di dojo, barulah dia kembali dari rapat. Sepanjang jalan menuju tempat tinggalnya, anak-anak bermain di sekitar. Kebanyakan sedang berlarian atau kejar-kejaran. Sementara beberapa anak perempuan sedang berpura-pura berjualan seperti di warung.

Juan mengamati mereka. Sebagai memanggil kencang-kencang, terutama mereka yang berlatih di dojo-nya. Anak yang lain sekadar tersenyum atau mengangguk. Sisanya malu-malu, bahkan ada yang menciut ketakutan. Citranya sebagai pria galak sepertinya masih saja lebih menempel bagi sedikit anak-anak kecil.

Memandang arah lain kembali, perhatian kali ini langsung tertuju kepada satu anak lelaki di bangku panjang pinggir jalan, Gala—di depan rumahnya sendiri. Satu tangan terangkat canggung, sedangkan tangan lainnya berusaha melilitkan perban baru, setelah melepaskan yang lama—masih tergeletak di sampingnya dengan kondisi telah agak kotor.

“Gala, ikut tidak?!” seru Danu dari seberang jalan.

“Ikut!” sahut anak itu, tak kalah lantang. “Tunggu sebentar!” Matanya tidak beralih dari tangan yang sibuk mengatur lilian berikutnya sedemikian rupa agar tepat sehingga rapat menutup luka. Setidaknya, sampai seorang pria menghampiri. Gala mengangkat kepala, menatapnya. Juan.

Pria itu duduk di sebelah. Sedikit memiringkan tubuh agar menghadap anak itu. “Biarkan Sensei membantumu,” katanya, cukup tegas, menunjukkan kesungguhannya, tetapi juga tidak lancang untuk langsung mengintervensi.

“Tidak perlu,” kata Gala segera. Terlalu cepat untuk seseorang yang benar-benar mempertimbangkan dahulu, sebelum menjawab. “Aku bisa sendiri. Dokter sudah mengajarkan.”

“Mengajarkanmu untuk mengganti perban sendiri?” Nadanya bukan menggurui, lebih tepatnya menunjuk fakta yang berusaha disembunyikan. “Sensei meragukannya.” 

“Mengajarkan Bunda supaya bisa mengganti perban apabila tidak sempat berkunjung ke Pak Dokter,” koreksi Gala sendiri, sambil menggerutu. “Namun, bukan berarti aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku melakukan seperti pesan Dokter Marchie. Jadi, Sensei tidak perlu ikut campur urusanku.”

Juan terdiam, meski dari luar pria itu tetaplah terlihat tenang seperti biasa. Dia bisa merasakan nada defensif Gala kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Dia yakin, hal yang menahan anak itu untuk tidak benar-benar mengusirnya adalah menjaga sopan santun, termasuk dalam hal pilihan kata, kepada seseorang lebih tua; serta sesuatu jauh di dalam diri anak itu—tenggelam terlalu lama, tersembunyi, dan tidak bersahabat untuk ditengok—yang masih saja sulit ditebak dan diterka harus dihadapi dengan seperti apa.

Artinya, Juan harus sangat berhati-hati dalam mendekati anak itu. Setidaknya sampai dia benar-benar bisa memastikan—mungkin dengan momentum dan titik kepercayaan tertentu—apa yang harus dilakukan. Satu kesalahan saja, sangat mungkin untuk menghancurkan segalanya.

Gala mengikat perban erat-erat. Kemudian, beranjak turun dari kursi panjang. “Aku hendak bermain dengan teman-teman, Sensei,” katanya singkat, lalu langsung berlari pergi.

“Mas Juan.”

Juan baru ingin mengamati anak itu sedikit lebih lama, saat kepala desa menghampiri dari sisi lain jalan. Memasang ekspresi yang menyiratkan sesuatu seperti, mari kita mengobrol sebentar.

Lihat selengkapnya