“Di pertemuan berikutnya, kalian akan melaksanakan latihan dengan tipe berbeda. Akan ada beberapa aturan dalam shiai yang digunakan dalam randori nanti, yaitu batas waktu dan skor. Artinya, akan ada yang menang dan kalah. Supaya mudah, kita sebut saja sebagai simulasi shiai. Jadi, kalian sebaiknya mempersiapkan diri.”
Setelah sepekan, Gala akhirnya sembuh dari luka gigitan biawak. Dia kembali ke dojo dan itulah yang dikatakan Sensei di penghujung latihan. Dojo langsung sepi waktu itu, sebagian tertantang dengan membara, sebagian gugup. Dalam randori biasa, Gala pasti akan bersorak-sorak dalam hati, tak sabar menjatuhkan rekan latihannya. Namun, bila ada taruhan menang dan kalah, Gala tiba-tiba menjadi tidak tenang.
Bagaimana bila dia kalah?
Tahu-tahu, hari ini akhirnya telah datang. Anak-anak di dojo bercanda tawa seperti biasa, seakan-akan tak akan ada hal besar akan terjadi dalam latihan kali ini. Sementara Gala memasuki dojo dengan langkah keraguan. Dia jauh gontai dibandingkan pembawaan mantap biasanya.
Anak-anak kompak menyapa saat Sensei akhirnya datang, sambil memasuki barisan masing-masing. Mereka berdoa dan membungkuk sebentar, memberikan rei, sebagai pembuka serangkaian latihan. Kemudian, disusul oleh pemanasan rutin yang gerakan dan urutannya telah dihafal oleh mereka.
Setelah itu, simulasi shiai dipersiapkan. “Anak-anak, perhatian!” Juan berdiri di depan, sedangkan para siswa duduk berbaris. Mula-mula, dia menjelaskan lebih detail dulu tentang kegiatan ini.
Hari-hari, anak-anak mengenakan judogi dengan dua warna berbeda. Separuh memakai putih, sisanya biru. Artinya, mereka dibagi menjadi dua tim sama rata, sesuai warna seragam. Masing-masing anak dari setiap tim akan bertanding secara bergantian, satu lawan satu. Di akhir, tim dengan lebih banyak anggota menang, akan dinyatakan sebagai tim pemenang.
Lama waktu setiap pertandingan, maksimal adalah tiga menit—untuk anak-anak, sedangkan remaja dan dewasa memiliki waktu lebih lama. Selama itu, mereka harus mencetak skor sebanyak mungkin. Skor dalam pertandingan Judo dihitung dalam bentuk poin yang disebut ippon, waza-ari, dan yuko.
Ippon adalah skor tertinggi dan akan langsung mengakhiri pertandingan. Ippon diberikan apabila berhasil membanting lawan dengan keras, cepat, dan kontrol penuh terhadap lawan; atau mengunci lawan selama lebih dari 25 detik—atau sampai lawan menyerah.
Waza-ari bernilai setengah ippon. Bila penjudo dapat mencetak waza-ari dua kali, maka akan dianggap setara ippon dan langsung mengakhiri pertandingan. Waza-ari diberikan apabila membanting lawan, tetapi terdapat satu dari tiga kriteria untuk ippon tidak terpenuhi; atau berhasil mengunci lawan selama 20-24 detik.
Yuko adalah skor paling kecil dalam pertandingan Judo. Diberikan ketika berhasil mengontrol dan membanting lawan, tetapi hanya mendarat di sisi tubuh; atau mengunci lawan selama 15-19 detik. Yuko dinilai satu poin. Waza-ari akan selalu dianggap lebih tinggi dari sebanyak apa pun poin yuko yang diperoleh seseorang dalam suatu pertandingan.
Skor yuko meskipun terdengar sepele, tetaplah esensial. Dalam pertandingan Judo realistis, waza-ari tidaklah semudah itu dicapai, apalagi ippon. Dalam skenario tak seorang pun berhasil mendapatkan ippon atau waza-ari, maka jumlah poin yuko yang berhasil diperoleh akan menjadi penentu kemenangan.
“Dipahami?” tanya Sensei dengan tegas. Setelah anak-anak kompak mengangguk, dia melanjutkan, “Tim putih menepi ke kanan, tim biru menepi ke kiri. Pemain pertama masing-masing tim silakan memasuki matras.”
Lawan dari masing-masing anak telah ditentukan oleh Sensei, berdasarkan tinggi, berat badan, dan tingkat kemampuan, untuk memastikan setiap pertandingan akan seimbang. Giliran pertama adalah Gala dari tim putih melawan Danu dari tim biru.
Langkah kaki Gala terasa berat saat memasuki matras. Di seberang, Danu menatapnya serius sambil mengerutkan alis, tak mengalihkan mata darinya. Gala tak pernah takut dengannya selama ini. Begitu pun kali ini. Apa yang membuat gentar anak itu sekarang adalah dirinya sendiri.
Juan berdiri di tepian, sebagai wasit. Mula-mula Gala dan Danu saling membungkuk, memberikan rei. Setelah jeda satu dua detik yang dianggap cukup, Juan menyerukan aba-aba agar pertandingan dimulai, “Hajime!”
Bagaimana bila dia kalah? Lagi-lagi, pertanyaan itu menghantui. Gala maju. Meraih, menepis, dan begitu terus berulang. Detak jantungnya berdegup kencang dengan tidak nyaman. Tahu-tahu, Gala nyaris terjatuh.