13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #11

11: Evaluasi dari Sensei

“Dalam simulasi shiai kemarin, Sensei memerhatikan gerakan-gerakan kalian, tetapi belum sempat memberikan komentar. Maka karena itu, hari ini Sensei akan mengevaluasi kalian satu persatu. Semuanya, duduk di pinggir dojo dahulu,” instruksi Juan setelah pemanasan siang ini. 

Gala menurut, beranjak untuk duduk di salah satu sudut ruang. Berjajar dengan anak-anak lain. Sebagian anak ada saja yang berdebat karena tidak mau bergeser sehingga sempit, padahal tempat masih sangat luas, sebagian seperti sengaja mengisi tempat sempit di antara temannya sehingga sesak. Namun, tak lama kemudian, semua telah duduk dengan rapi.

“Kalian akan randori melawan Sensei satu persatu. Jangan segan, takut, atau menahan diri. Tak perlu khawatir melukai Sensei, justru tunjukkanlah seluruh kekuatan dan kemampuan yang telah kalian pelajari selama di dojo. Sambil randori, Sensei akan menjelaskan apa yang telah baik dan kurang sehingga kalian bisa memperbaiki diri,” tambah Juan. “Paham?”

“Paham, Sensei!” jawab anak-anak bersamaan.

Juan menatap Albian, kebetulan paling depan dari deretan anak-anak di seberang sudut dojo tempat Gala berada. Memintanya maju. Serangkaian randori dimulai. Mula-mula, dia membiarkan anak itu berusaha menjatuhkan, tetapi Juan tidak bergeming sama sekali. Setelah beberapa kali cobaan, dia bergerak sedikit untuk menepis setiap upaya Albian, dengan cepat dan mulus.

Kemudian, barulah Juan mulai mengoreksi gerakan-gerakannya, sambil menginstruksikan anak itu untuk mempraktekkan langsung kepadanya sampai benar-benar tepat. Terakhir, setelah koreksi cukup, Juan menarik anak itu dengan salah satu teknik bantingan sehingga terlempar ke matras.

Cepat dan kencang. Albian langsung mengerang lantang, antara kesakitan dan sangat terkejut. Sampai-sampai, semua anak lain di pinggiran dojo mematung sesaat menyaksikan hal itu, ikut merasakan ngeri.

Randori dengan Sensei bukan kejam, tetapi mengajarkan kepada anak-anak bahwa akan selalu ada orang lebih kuat dan bisa menjatuhkan telak mereka kapan pun. 

Apa yang terjadi barusan persis seperti yang dialami Gala waktu itu, ketika Sensei mengatakan perlu memberikan latihan tambahan akibat bersikap buruk di warung—randori seperti itu pula. Tak sedikit pun bisa menggoyahkan Sensei dan berakhir dibanting mentah-mentah.

Namun, ada yang berbeda kali ini. Randori dengan Sensei waktu itu adalah murni latihan, untuk memperkuat kemampuan tanpa peduli seperti apa performanya saat itu. Sementara di sini, dia akan dinilai.

Berikutnya dan berikutnya anak dijatuhkan oleh Sensei dengan begitu mudah. Salah di sini, salah di sana. Selalu ada saja yang diekspos oleh Sensei. Pelan-pelan, anak yang berdiri untuk giliran randori mereka, makin dekat dengan Gala.

Bagaimana bila dia mengacaukan semuanya? Bagaimana bila cengkeramannya lemah? Bagaimana bila dia jatuh sendiri saat berusaha menyapu kaki Sensei? Bagaimana bila gerakannya masihlah tak kunjung membaik meski Sensei meminta mengulanginya berulang kali?

Lihat selengkapnya