“Jangan berhenti, Sensei! Semangat, Sensei!” Cekikikan anak-anak kecil memenuhi minggu pagi di sepanjang jalan Desa Candala. Mereka naik di atas gerobak kayu, didorong pelan oleh Juan.
Tadi, gerobak kayu pengangkut padi milik kepala desa baru selesai dibersihkan, saat anak-anak melintas. Muncullah ide mereka untuk meminjam. Mahadi semula menolak karena dikhawatirkan tidak kuat mendorongnya. Kebetulan, Juan juga melintas tak lama kemudian. Tak tega melihat wajah kecewa anak-anak, pria itu akhirnya mengajukan diri untuk menemani bermain menggunakan gerobak.
Juan mengajak mereka berkeliling desa. Melalui sawah, ladang, rumah-rumah penduduk. Anak-anak melambai setiap kali ada orang lain melintas, membuat mereka tertawa terhibur, sedangkan Juan juga ikut menyapa dengan tersenyum tipis, mengangguk kecil, dan basa-basi singkat.
Gerobak terus melaju. Jarang-jarang mereka menghabiskan waktu dengan Sensei selain ketika latihan di dojo. Rasanya menyenangkan, bagi anak-anak itu, maupun Juan. Jarak tak kasat mata di antara mereka menghilang begitu saja. Walau tetap dipanggil dengan sebutan sensei, kali ini Juan lebih terasa seperti teman akrab bagi anak-anak.
Kalau dibilang merepotkan, tidak juga. Juan, terlepas dari perawakan luar kurang ekspresif dan agak galak, sesungguhnya sangat baik dalam menghadapi anak-anak kecil. Mendorong gerobak berisi empat serangkai anak lelaki juga bukan pekerjaan sulit bagi seorang pejudo veteran sepertinya yang tentu saja sangat tangguh.
“Sensei! Sensei! Berhenti sebentar di situ!” seru Danu saat gerobak mendekati deretan pohon dengan buah lebat, sebagian telah matang. “Kata Pak Kepala Desa, kita selalu boleh mengambil jambu air, asal setiap anak satu saja.”
“Aku akan mengambil satu!” seru lainnya bersahutan.
“Aku mengambil dua, akan kuberikan kepada Sensei satu,” kata Albian.
Juan tersenyum tipis sebentar mendengarnya. Gerobak dihentikan di pinggir jalan, dekat deretan pohon jambu air. “Jangan berebut saat turun,” katanya, saat anak-anak bergantian turun satu persatu.
Gala tahu-tahu langsung memanjat pohon, diikuti Danu dari belakang, meraih cabang berbeda dari temannya. Nehan dan Albian berdiri di bawah, menunggu mereka mengambil buah.
Di dekat gerobak, Juan menunggu sambil mengawasi. Dia sudah melihat mereka hampir setiap hari di dojo. Tak perlu berteriak meminta mereka untuk berhati-hati, apalagi turun. Dia sudah lebih dari memahami kemampuan mereka yang cukup pasti telah mampu untuk mengendalikan tubuh di atas pohon.
“Ambil sebelah sana, Danu! Pilih yang paling matang!” seru Gala. Menepis tangan temannya yang hendak memetik salah satu buah, lalu menunjuk sisi cabang yang lain.