“Aku kira kamu tidak datang hari ini.” Danu menghampiri saat Gala menginjakkan kaki di dojo. Anak-anak lain sudah ada sejak beberapa menit lalu, anak itu agaknya yang terakhir.
“Bunda hanya mengurus keperluan di kebun sampai siang hari. Sekarang, Ayaya sedang bersama Bunda. Jadi, aku bisa pergi ke dojo.” Gala berjalan menyusuri matras ke arah temannya sambil merapikan sabuk putih di pinggang.
Juan ada di sudut ruang. Memang datang lebih awal untuk mencatat laporan perkembangan kemampuan anak-anak. Obrolan-obrolan dan canda tawa anak-anak memenuhi ruang. Bersahut-sahutan, tetapi tak ada yang terlewat, meski sibuk dengan pekerjaan sendiri, termasuk obrolan Gala dan Danu.
Selang sebentar, catatan di tangan Juan disingkirkan juga. Dia berdiri, lalu beranjak ke tengah matras. “Perhatian, Anak-anak. Semua berbaris. Kita buka sesi latihan Judo hari ini.”
Dibuka dengan berdoa dan memberi rei atau sapaan hormat, latihan hari ini dimulai. Awal-awal, pemanasan dahulu untuk mempersiapkan kerja tubuh mereka untuk menghindari cedera. Kemudian, barulah serangkaian drill dan latihan teknik-teknik Judo dimulai.
Juan mengawasi dengan teliti, memberi contoh dan memperbaiki gerakan anak-anak yang masih kurang tepat. Dia memperhatikan satu persatu muridnya, performa, kekuatan, terkadang ekspresi dan sikap mereka. Salah satunya Gala.
Saat sempat obrolan dengan orang dewasa lain di desa, Juan menjadi tahu bahwa Aruna memang kadang kala sibuk di kebun hingga setengah bahkan satu hari penuh sehingga anak-anaknya harus ditinggalkan selama itu. Kemudian, dari obrolan Gala dan Danu barusan, dia bisa mengasumsikan bahwa anak itu lagi-lagi harus merawat adik—sekaligus diri sendiri—karena bundanya sedang pergi untuk waktu lama.
“Kalian boleh istirahat sebentar. Setelah itu, siap-siap untuk mempraktekkan teknik tadi kepada teman secara berpasangan,” seru Juan. Disusul oleh helaan napas lega dan obrolan anak-anak yang langsung bersahutan sambil mereka mencari tempat masing-masing untuk istirahat di dojo. Sementara Juan menepi untuk duduk di sudut.
Gala memang anak yang kuat, Juan sudah beberapa kali melihatnya sendiri. Namun, kuat juga ada batasannya. Jangankan anak kecil, Juan sendiri saja terkadang masih membutuhkan waktu untuk istirahat sejenak dari beban berat kehidupan, apalagi anak kecil yang kuatnya hanya pura-pura, seperti Gala.
Juan mengamati, kali ini anak itu lebih tidak bertingkah daripada biasa. Gala memang sangat serius dan disiplin selama sesi latihan. Namun, saat istirahat serta sebelum dan sesudah latihan, biasanya masih terlihat bercanda tawa dengan caranya yang dominan dan tidak mau kalah. Namun, saat ini, Gala benar-benar sangat kalem. Terlalu kalem.
Saat ini, ketika istirahat dia bukan ikut mengobrol atau tertawa dengan anak-anak lain. Dia justru duduk membelakangi dan menyandarkan punggung kepada Danu. Gestur sepele di antara anak-anak—Gala sendiri bahkan mungkin tidak tahu mengapa dirinya reflek melakukan itu—tetapi tidak bagi orang dewasa yang lebih peka terhadap bahasa tubuh, seperti Juan, bahkan dengan anak itu membelakangi sehingga dia tak tahu seperti apa ekspresinya saat ini.
Gala itu seorang kakak dan putra pertama. Namun, dia juga anak, bukan seseorang yang bertanggung jawab mengurus dan merawat adiknya, apalagi dalam waktu lama tanpa kehadiran orang dewasa di sekitar. Mau dipaksa untuk berpura-pura sekuat apa pun, ujung-ujung dia tetaplah seorang anak kecil.
Ada kalanya, kuatnya bisa habis dan yang dia butuhkan adalah menyandar. Sayangnya, sandaran itu tak ada. Gala mana mungkin berkata tidak kepada Bunda, Gaal mana mungkin merepotkan bunda, Gala mana mungkin tidak membantu bunda.