13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #14

14: Bonceng Sepeda

Anak-anak di atas sepeda mereka tidak terlalu oleh terik siang hari sama sekali. Sedikit keringat membasahi tepian rambut dengan dahi, tetapi mereka masih bersemangat. Dojo kebetulan libur hari ini sehingga mereka bebas bermain sepulang sekolah.

Danu memegang erat setang sepedanya, sudah bersemangat. “Mau lewat depan rumahnya Pak Kepala Desa?”

“Setuju!” seru Nehan.

“Ayo!” Danu tahu-tahu sudah mengayuh sepeda. Diikuti oleh Nehan di belakang. Menyusuri jalanan Desa Candala selepas keluar dari sepetak tanah kosong dengan ayunan, tempat mereka biasa berkumpul untuk bermain.

Albian masih belum beranjak. “Hei! Sebaiknya kalian melambat untuk menunggu Gala!”

Ayana tidur siang lebih awal sehingga ketika Gala hendak meninggalkan rumah untuk bermain bersama anak-anak lain, dia telah terbangun dan tentu saja meminta ikut.

Gala duduk di sadel sepeda. Kedua kaki menyangga ke tanah. Setang dipegang menggunakan satu tangan, sedangkan satunya turun di sebelah tubuh untuk memberikan ruang kepada Ayana agar bisa naik ke pipa atas sepedanya—kebetulan berbentuk horizontal—sehingga bisa diduduki.

“Ayo, Albian!” seru Gala, langsung mengayuh sepeda untuk menyusul Danu dan Nehan yang sudah melaju lebih dulu. Tak tubuh waktu lama, keempatnya sudah berkumpul kembali. Canda tawa mereka pecah lagi, selalu ada saja yang menyenangkan.

“Oh, Sensei!” Nehan menoleh saat mereka melewati depan tempat tinggal pria itu. Kegirangan saat melihat seseorang yang dimaksud ada di depan halaman, duduk santai menikmati ketenangan siang hari.

“Benar, ada Sensei di sana!” Danu menambahkan, ikut tertawa riang.

“Halo, Sensei!” Albian menambahkan, menyapa.

“Sensei!” Ayana ikut memanggil. Suaranya tenggelam di antara para anak laki-laki berteriak lantang, tetapi pasti menggemaskan dengan sebuah cekikikan lembut dan manis.

“Selamat siang, Sensei!” Gala dengan adiknya berlalu paling belakang dalam rombongan mereka. Anak itu sudah ceria dan penuh tenaga kembali, seakan-akan peristiwa kemarin petang di dojo tidaklah pernah terjadi.

Di beranda tempat tinggalnya, Juan tersenyum tipis sambil melambai. Di matanya, anak-anak itu tampak lebih berwarna ketika sedang mengenakan pakaian biasa alih-alih seragam bela diri. Mungkin, sama seperti momen dirinya mendorong gerobak untuk mereka, ketika tidak berada dalam ikatan sensei dan siswa, jarak tak kasat mata menghilang, menyisakan anak-anak dan pria dewasa di sebuah desa yang ikut mengamati pertumbuhan mereka. Lebih lagi, melihat Gala sudah bisa tertawa kembali, membuatnya sedikit lebih tenang.

“Nehan, ayo satu tim denganku!” seru Danu, paling depan dari rombongan sepeda mereka, menoleh ke belakang kepada temannya. Mereka memasuki lapangan dengan rumput luas membentang.

Tempat ini macam-macam fungsinya bagi penduduk Desa Candala. Hewan-hewan biasa dibawa kemari untuk mencari makan. Remaja-remaja biasa menggunakannya untuk bermain sepak bola. Beberapa pertunjukkan atau acara besar terkadang juga diadakan di sini.

Anak-anak kecil juga tak mau kalah, bermain bola. Walau masing-masing tim hanya berisi dua orang tanpa kiper—Ayana dianggap anak bawang alias ikut-ikutan saja supaya senang karena kemampuannya belum seimbang dengan para anak laki-laki lebih tua.

Lihat selengkapnya