“Aku hampir mengejarmu, lho, Ayaya.” Gala tertawa, tak selantang saat bersama teman-teman sesama anak kecil, justru lebih lembut. Hampir bersamaan, cekikikan menggemaskan adiknya juga terdengar.
Hari ini Sekolah Rakyat sedang libur. Para wanita sedang bekerja di kebun, termasuk Bunda sehingga mereka ikut kemari. Pria-pria dewasa juga ada di sekitar, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih berat. Beberapa relawan juga terlihat di sekitar, membantu sebisa mungkin.
Di antara mereka, Gala dan Ayana sejak tadi berlarian sambil tertawa bersama. Begitu girang sampai-sampai deretan bunga, dedaunan, dan angin segar yang melintas di atas kedamaian kebun, ikut tersenyum bersama mereka. Keduanya bermain bersama penuh gembira dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh sepasang saudara.
“Aku bisa berlari lebih cepat,” seru Ayana.
Kaki-kaki kecil mereka menyusuri sepanjang kebun. Di antara rumput-rumput tinggi menggelitik kulit. Cahaya sejuk pagi hari memeluk mereka seperti dewa-dewa yang sedang memberikan berkah kepada makhluk-makhluk kecil dan lugu.
“Bunga!” seru Gala.
Langkah mereka berhenti dengan sebuah lompatan kecil penuh semangat di depan segerombolan bunga dandelion, tumbuh liar di tepian kebun. Mereka sama-sama mengambil satu. Berdiri berhadapan jarak dua meter, lalu meniup bersamaan sehingga setiap butir bunga betertangan di sekitar mereka. Bagai peri-peri kecil sedang membagikan cinta, kasih sayang, dan tawa-tawa riang anak kecil.
“Indah, ya, Kak?” Ayana cekikikan.
“Benar!” seru Gala. “Namun, Ayaya lebih cantik dari bunga dandelion. Lebih cantik dari semua bunga-bunga yang ada di dunia! Bahkan bila aku mengumpulkan semua bunga di dunia, Ayaya masih lebih cantik!”
Adiknya terkekeh. “Kalau Kakak?”
“Kalau Kakak tampan!” katanya, bangga kepada diri sendiri.
Ayana mengambil bunga dandelion lagi, lalu meniupnya sambil mencondongkan tubuh sedikit kepada kakaknya. Butiran-butiran bunga beterbangan di sekitar wajah Gala, menjadikannya seakan-akan berkilauan oleh alam. Lagi-lagi, mereka tertawa bersama penuh riang.
Tahu-tahu, sebuah suara panjang, lembut, dan merdu terdengar dari belakang, menyerupai terompet. Menyenangkan dan membuat hati berdegup kencang akibat antusias. Saat berbalik, Juan ada di sana sambil meniup tangkai daun pepaya. “Sensei!” seru mereka bersamaan.
Juan menurunkan tangkai daun pepaya di tangannya sambil tersenyum saat kedua anak itu akhirnya menyadari keberadaannya. Ekspresi pria itu lebih hidup daripada muka datar minim ekspresi di hari biasa, mungkin terbawa oleh tawa dua anak itu yang tiada henti dan membuat hatinya ikut berseri. “Kalian menginginkannya juga? Sensei bisa menunjukkan caranya dan membuatkan untuk kalian.”
Mereka kompak mengangguk.
Juan beranjak lalu memetik dua tangkai daun pepaya dari dari pohon. “Perhatikan.” Mula-mula, bagian daun dipotong supaya tidak terasa berat saat diangkat. Tangkainya berbentuk pipa sehingga saat proses ini perlu dipastikan bahwa bagian ujung yang berbatasan dengan daun tetaplah utuh dan tertutup. Selanjutnya, dia merapikan potongan pada pangkal—kalau bagian ini memang terbuka sehingga terlihat lubang di dalamnya—menggunakan pisau kecil supaya rata, lalu membersihkan getah menggunakan tepian pakaian.
Terakhir, belah bagian badan tangkai dari dekat ujung sampai sekitar tengah mendekati pangkal. Ini adalah kuncinya. Bila sayatan tidak pas, maka tangkai tidak akan menghasilkan bunyi saat ditiup.
“Cobalah.” Juan memberikan masing-masing kepada mereka.