13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #16

16: Tak Pernah Meminta Dilahirkan

“Danu! Ibu atau bapakmu yang datang?”

“Bapakku! Kalau kamu, Nehan?”

“Ibuku. Ayo kita masuk ke dalam kelas, anak-anak lain sudah duduk bersama orang tua mereka. Bu Kirana sebentar lagi akan datang, lho. Nanti bisa-bisa kamu ditegur lagi karena masih berada di luar kelas saat lonceng berbunyi.”

Hari ini, Sekolah Rakyat mengadakan pembagian rapor tengah semester untuk semua kelas. Orang tua diharapkan hadir—tidak memaksa bagi yang tidak memungkinkan dan rapor dapat diambil menyusul—supaya guru bisa menyampaikan langsung perkembangan putra-putri mereka selama sekolah. 

Gala berdiri di beranda gedung sekolah. Di dalam ruangan Kelas Satu, anak-anak duduk di setiap meja, bersebelahan dengan salah satu orang tua. Namun, meja ujung kiri—tempat anak itu biasa duduk—masih kosong.

Bunda hari ini datang, tetapi berada di kelasnya Ayana. Katanya, nanti akan ke kelasnya setelah setelah pembagian rapor selesai. Milik Gala akan diambil menyusul. Lagi pula, hal ini memang jelas-jelas telah diizinkan dan menjadi cara para guru untuk tidak memberatkan para orang tua siswa.

Gala tidak mempermasalahkannya. Dia memahami keadaan bunda. Namun, rasanya tetap menyakitkan untuk tidak bisa duduk di kelas seperti anak-anak lain. Beberapa temannya juga memiliki adik atau kakak, dan itulah keuntungan memiliki sepasang orang tua.

Namun, di mana Pangestu sekarang berada? Di saat seharusnya hadir di sini untuk putranya?

Di kejauhan, Kirana muncul dari ruang guru, berjalan menuju kelas, bersamaan dengan lonceng berbunyi. Alih-alih memasuki kelas, Gala justru berlari pergi. Membolos. Wajahnya tak terlalu terlihat karena agak menunduk, tetapi jelas-jelas bukan ekspresi yang menyenangkan.

Di tepi kelas, bapaknya Albian tersenyum tipis, sedikit merasa tak enak. “Maaf, Bu Kirana. Gala memang sejak dulu agak nakal. Mungkin karena tidak ada orang tua yang menemani, dia menjadi tidak suka.”

Kirana berhenti di dekat ambang pintu kelas. Dia ikut tersenyum memahami. “Tak apa, Pak. Kasihan juga kalau dipaksa ikut di kelas, tetapi sendirian. Khawatirnya, dia justru akan semakin minder.”

Langkah berat, cepat, dan agak terburu-buru terdengar dari belakang. Seorang pria tahu-tahu menyusul ke dekat pintu kelas. “Mbak—maksudnya Bu Kirana,” dia memperbaiki panggilan seketika, akibat masih terbawa kebiasaan selama mengobrol santai di antara sesama relawan. “Maaf, terlambat, tadi habis bantuin sapinya Pak Mahadi lepas.”

Kirana justru kebingungan. “Loh? Mengapa di sini Mas Juan?”

“Tadi aku sedang dalam perjalanan pulang dari warung setelah sarapan, tak sengaja berpapasan dengan Mbak Aruna. Lalu tiba-tiba dimintai tolong menjadi wali murid Gala untuk mengambil rapor tengah semester, karena dia harus ke kelas anaknya yang kecil. Agak panik dan bingung wajahnya Mbak Aruna tadi, mungkin benar-benar tidak ingin membuat Gala sedih. Setahuku, dia bertetangga dengan Mas Aris. Masih lajang, jadi tidak mungkin sibuk menghadiri untuk siapa pun. Namun, tidak mungkin dimintai tolong juga akibat masa lalu mereka. Sudah begitu, Gala tidak suka Mas Aris. Jadi, mengapa juga aku harus menolak?” terang Juan. “Aku hendak tetap pulang dahulu sebentar untuk mengganti pakaian ke setelan lebih rapi. Namun, saat dalam perjalanan kemari, aku melihat Pak Mahadi kesusahan mengejar sapinya yang lepas. Jadi, aku membantunya dahulu.”

Kirana terkekeh. “Pagimu hari ini sibuk sekali.”

Juan tak tertawa, masih dengan ekspresi agak datar, serius, dan sedikit-sedikit galak. “Di mana Gala?”

Lihat selengkapnya