“Gala berangkat ke dojo dulu, Bunda.”
Meja makan telah kosong kembali. Sepulang sekolah dan selepas makan siang, Gala berganti pakaian ke seragam putih khas Judo, dengan sabuk warna sama di pinggang. Ayana sedang bermain bersama, sebentar lagi adiknya pasti akan mengantuk, lalu tidur siang.
Hari senada dengan hari-hari lain. Kecuali, suara anak itu berbeda dari biasa, sudah tidak ada semangat di sana.
Gala tidak mengambil jalan menuju dojo, melainkan berbelok untuk memasuki jalanan kecil di belakang pemukiman penduduk Desa Candala, yang hampir tak pernah dilalui oleh seorang pun. Dia mengambil jalur memutar untuk mencapai taman bunga di ujung desa, jauh dari bangunan-bangunan, apalagi rumah orang.
Dia diam di sana, seorang diri.
Jauh dari sana, dojo ramai oleh seruan lantang anak-anak bersahut-sahutan dan sesekali suara tegas sang sensei. Persis seperti hari lain. Gala tidak hadir—Juan menyadari. Anak yang selalu diandalkan oleh bunda dan adiknya, sangat memungkinkan untuk tiba-tiba sibuk sehingga untuk sementara ini, Juan merasa tidak perlu tergesa untuk khawatir—walau tetap saja ada sedikit rasa tidak tenang saat dia memikirkannya.
“Sekali lagi!” seru Juan kembali. Dia perlu lebih fokus kepada tanggung jawab lebih jelas di depan mata saat ini, melatih anak-anak. Dia beranjak untuk memutari matras tempat mereka berbaris. “Lebih keras! Kerahkan semua tenaga!”
“Baik, Sensei!” seru mereka bersamaan.
Separuh waktu latihan berlalu, Juan berdiri di dekat ambang pintu dojo, melirik keluar. Langit tiba-tiba sudah mendung begitu gelap. Semenjak datang ke desa, memang beberapa kali hujan. Namun, baru kali ini dia melihat awan-awan tebal, rata, dan hitam sepekat ini.
“Boleh istirahat, Sensei?” Danu menyeru dari tengah dojo.
“Biasanya kami istirahat di jam segini, kan?” Nehan menambahi.
Agaknya, Juan tak punya pilihan. Dia menoleh untuk menatap anak-anak kembali. “Kalian pulang lebih awal hari ini. Cuacanya sedang sangat buruk. Ingat, jangan pergi ke mana pun dan langsung kembali ke rumah. Akan sangat berbahaya apabila hujan lebat turun ketika kalian masih berada di luar, apalagi sebentar lagi sudah sore.”
Sorak-sorak kegirangan langsung memenuhi dojo, sebagian bahkan melompat kegirangan. Di pikiran mereka, pulang awal adalah menyenangkan. Ketika Sensei khawatir soal keselamatan mereka, anak-anak girang karena dapat pulang lebih awal.
“Terima kasih banyak, Sensei!”
Mereka kompak membungkuk sebentar untuk memberikan rei, lalu beranjak meninggalkan dojo. Semangat mereka masih menyala—memang selalu—tanpa ada titik-titik lelah. Judogi mereka belum terlalu basah oleh keringat. Cukup berbeda dibandingkan pemandangan biasa tiap kali Juan mengawasi mereka sepanjang jalan utama sepulang dari dojo.
Selepas anak-anak menghilang dari pandangan, Juan beranjak dari pinggir jalan untuk kembali ke dalam dojo. Membersihkan dan membereskan tempat itu sekaligus beberapa urusan, dengan sedikit lebih tergesa dari biasa. Kemudian, buru-buru keluar untuk kembali menuju tempat tinggalnya, tak jauh dari sana.
Benar saja, tepat setelah Juan memasuki tempat tinggalnya, hujan langsung turun begitu deras. Atap bergemelontang akibat tetesan-tetesan besar air turun banyak-banyak menghantamnya. Dari ujung, air mengalir deras ke tanah, menjadikan basah dan pelan-pelan membentuk genangan tipis.
Juan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan sampai segar, lalu berganti ke pakaian biasa. Handuk digantung begitu, lalu beranjak menuju meja kecil dengan sebuah laci di dekat kamarnya. Hendak mengambil sesuatu biasa ada di sana dan sangat dibutuhkan olehnya, tetapi tidak ada.
Menggerutu tipis, mau tak mau Juan mengambil payung, lalu meninggalkan tempat tinggalnya. Deru hujan terdengar makin deras saat dia melangkah menyusuri jalan Desa Candala, akibat tetesan-tetesan air kini menghantam kencang ke permukaan payung, hanya beberapa sentimeter di atas kepala. Kemudian, baru berangsur agak lirih saat dia memasuki warung dan meletakkan payung di dekat pintu.