“Kakak!” seru lembut, tetapi ceria Ayana dari dalam kamarnya. Dia keluar sambil membawa dua boneka berbentuk gadis kecil, satunya dengan rambut merah gelap, satunya perak. Diletakkan di kursi, berjajar dengan tempat Gala berada. “Kakak duduk di sebelah Scarlett dan Harper.” Kemudian, dia mengambil posisi di kursi lain, di samping sebuah boneka lain lain berbentuk serupa dengan rambut warna hijau cerah. “Aku, di sini bersama Ophelia.”
Hari ini, Sekolah Rakyat libur. Bunda di halaman depan sedang menyiram tanaman. Ayana agaknya tidak sedang ingin bermain di luar sehingga selepas sarapan, mereka tetap rumah.
“Oh, akhirnya perjumpaan manis kita berikutnya. Sudah saatnya saling berbagi kisah terbaru,” Ayana berbicara seolah-olah mereka ada sekumpulan sahabat dekat, para elegan, berkelas, dan beretika, sedang berkumpul lagi setelah kesibukan-kesibukan mereka. Dia kemudian pura-pura berbicara untuk boneka di sebelahnya. “Kalian harus mendengar ini, sebuah kabar yang belum sampai di telinga tuan-tuan muda.”
Gala sudah tidak lagi pingsan semenjak semalam. Dia juga tidur cukup. Lebih tepatnya, tidur lebih lama dari waktu istirahat yang dibutuhkan oleh manusia. Toh, dia benar-benar hanya ingin tidur.
Segala permainan manis dan menggemaskan—berbanding terbalik degan ketika dia bersama teman-teman sesama anak lelaki—masihlah dituruti dan diikuti oleh Gala dengan sangat baik. Namun, dia tidak terlalu bersemangat. Senyumnya ada, tetapi hanya tipis—nyaris tanpa makna—dan terasa berbeda dibandingkan biasa.
“Ah, agaknya aku menjadi tuan muda pertama yang secara terhormat mendengar kisah tersebut darimu, Nona.” Gala mengikuti alur permainan. Ini bukan pertama kalinya Ayana mengajak bermain peran dengan boneka-boneka, dia sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat permainan tetap menyenangkan. Akting anak itu di depan adiknya masihlah sempurna, masihlah bagian dari segala hal yang dia lakukan untuk adiknya apa pun taruhannya.
“Luar biasa, Tuan Muda Gallagher,” itu nama peran untuk Gala dalam permainan mereka bersama para boneka. “Mari, mari, nona-nona pula, dengarkanlah kisahku.” Dia menggerak-gerakkan boneka, seolah itulah yang sedang berbicara.
“Suatu waktu, seorang peri sedang melukis hewan-hewan kecil di tengah hutan yang berirama. Setelah selesai, lukisan-lukisan itu dibawa ke tempat para manusia. Orang-orang bertanya bagaimana bisa lukisan ini begitu penuh warna, penuh emosi, seakan-akan sungguh hidup di dalam sana. Peri tersenyum. Ini adalah karya, katanya. Lukisan-lukisan itu kemudian disimpan rapi-rapi. Abadi dalam waktu. Peri kembali ke tengah hutan. Sekarang hutan menjadi menjadi tenang, tidak ada irama, tidak ada hewan-hewan kecil. Saat malam turun, langit berkata kepadanya, sudah siapkah untuk melepaskan sayapmu, untuk kembali kepada kenyataan dan berhenti memperdaya hatimu akan semua keindahan palsu itu? Semua yang keji telah tersampaikan kepada lukisan-lukisan, sekarang tidurlah dengan tenang.”
Kalau peri ada di sana bersama dua anak itu, dia pasti akan mendengarkan baik-baik seluruh kisah dari awal hingga akhir. Terkadang menangis, terkadang tersenyum. Kemudian, dia akan berkomentar dengan satu kata. Sempurna.
“Kisah yang menarik bukan, Tuan Muda Gallagher?”
Gala mengangguk-angguk sambil bertepuk tangan ala seorang pria berkelas, sebagai bagian dari permainan peran. “Memuaskan. Kisah-kisah darimu selalu terasa nyata, Ophelia. Sekilas terkesan seperti misteri, padahal begitu lugas.”
“Ah, bukankah sudah terlalu larut?” Kali ini Ayana berbicara untuk perannya sendiri. “Mari, aku sudah menyiapkan kediamanku dengan sepenuh hati untuk menerima kalian sebagai tamu selama semalam.”
“Tentu, aku sangat mengapresiasinya. Bukankah begitu, Nona-nona?” Gala bangkit lalu meraih masing-masing lengan dari kedua boneka di sampingnya, seolah sedang berjalan sambil menggandeng tangan mereka. “Tunjukkan jalannya, Nona Ainsley,” panggilnya menggunakan nama peran adiknya.