“Terima kasih banyak, Sensei!”
Anak-anak membungkuk sebentar untuk memberikan rei. Kemudian satu persatu meninggalkan dojo. Bersamaan tawa-tawa mereka bersahutan dan rombongan langkah kaki perlahan terdengar menjauh.
“Gala.” Juan menatap anak paling terakhir yang masih tersisa di dojo, menahannya agar tidak beranjak dahulu. “Duduk sebentar,” katanya, mengajaknya untuk bergabung dengannya di tepian ruang, menghadap pintu dengan sepasang daun pintu terbuka yang menunjukkan beranda, halaman depan dengan sebuah pohon besar, dan jalanan Desa Candala.
Gala berbalik untuk menatapnya, berhenti hanya satu meter dari ambang pintu. Dia sambil merapikan atasan judogi yang nyaris terangkat dari lilitan sabuk putih di pinggang akibat berulang kali ditarik oleh temannya dalam randori selama latihan tadi.
“Keberatan kalau Sensei ingin tahu perasaanmu?” Suara pria itu berubah dari aksen tegas khas seorang pelatih beladiri, menjadi seseorang yang lebih ingin saling berbagi bagian-bagian dalam jiwa mereka supaya saling memahami. “Kamu mungkin sudah menduga, Sensei memang sudah mendengar apa yang terjadi. Namun, Sensei belum mendengar perasaanmu.”
Gala sudah nyaris menolak. Namun, dia teringat hari lalu, saat Juan menemukannya di taman bunga di tengah hujan deras, membangunkan dari pingsan, bahkan mengantarnya ke rumah. Gala bukan anak tak tahu diri—tidak pernah benar-benar demikian. Kali ini, dia memilih untuk menurut. Dia akan mengikuti keinginan pria itu, bila itulah yang bisa dilakukan sebagai gantinya.
Lebih lagi, peristiwa itu juga pasti sangat merepotkan Juan—meski pria itu berkata sebaliknya di depan bundanya. Sekarang, bila pria itu sekadar berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, mana mungkin Gala bisa diam lebih lama lagi.
Dengan kenangan sore itu yang enggan diingat oleh Gala, cukup masuk akal bila pria itu sudah tidak mungkin lagi tidak menyadari sebagian kecil atau besar yang Gala selalu sembunyikan. Bila dipikir, agaknya pria itu pantas untuk mendengar lebih banyak.
“Nanti, kalau Bunda mengomel dan khawatir karena aku pulang terlambat, itu salahmu, Sensei.” Gala berjalan mendekat ke sudut dojo. Bangunan itu menjadi temaram, sebagian agak terang oranye, akibat matahari telah turun menjadi sore. Dia ikut duduk di sana, terlihat kecil di samping sensei-nya.
Juan terkekeh. “Tenang saja, Sensei tak akan menahanmu terlalu lama.”
Juan sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi, dari cerita Pak Mahadi saat mereka di warung. Dua kali, malam hari dan siang menjelang sore. Tentang kenyataan bahwa ayah dari anak itu meninggalkannya, dan kandidat calon suami baru bundanya yang justru mengkhianatinya.
Namun, itu baru fakta yang terjadi, dari sudut pandang orang ketiga. Sementara bagi anak itu, Juan belum mendengarnya. Gala selalu menghindar selama ini, setiap kali dia bertanya atau berusaha ikut menopang sebagian dari jiwa-jiwa anak itu yang mungkin terlalu rapuh.
Sesungguhnya, dari cerita itu dan bagaimana sikap Gala selama ini, Juan sudah bisa mengetahui perasaannya. Namun, bukan itu yang dibutuhkan Gala saat ini. Seberapa banyak Juan memahaminya, bahkan lebih dari yang anak itu pahami dari dirinya sendiri, tidak akan banyak berarti bagi Gala.
Maka karena itu, Juan tetap menginginkan anak itu untuk bercerita langsung kepada. Kadang kala, memikirkan dan secara tidak langsung berusaha memahami diri sendiri, lalu menyampaikannya melalui kata-kata, bisa membuat perasaan itu ikut mengalir keluar. Di saat itu ketenangan bisa menggantikan untuk hadir di sana.
Gala, dengan segala luka yang sudah terlalu banyak, bagai belati-belati tertancap tanpa pernah terlepas sehingga membuat darah mengalir tanpa henti dan mengoyak setiap bagian dirinya menjadi lebih dan lebih hancur, mungkin hanya akan mendapatkan ketenangan sebentar. Meski begitu, setelah obrolan dari hati ke hati di antara dua lelaki, setidaknya mereka bisa menjadi sedikit lebih dekat—meski Juan tahu anak itu tak akan langsung mau menunjukkannya.
Duduk bersebelahan di sudut dojo, Juan meliriknya dari sudut pandangan mata tanpa perlu menoleh. Dia bisa melihat bahwa anak itu benar-benar mempertimbangkan pertanyaan, berniat untuk menjawab. Namun, tatapan gelisah dan wajah yang sedikit kurang tenang, cukup untuk menunjukkan bahwa anak itu kesulitan untuk memulai dari mana. Tentu saja hal ini berat, tidak mudah setelah begitu besar dan lama anak itu selalu berusaha menyembunyikan dan memendam dalam-dalam semua itu, bukan dari orang lain, bahkan dari dirinya sendiri
“Kamu tahu,” kata Juan, memulai lebih dulu.
Setelah nanti suasana yang digerakkan olehnya telah mengalir, pintu untuk masuk telah disiapkan, dan tersisa satu dari dua lelaki ini untuk melayarkan perasaan mereka seperti sebuah kapal di atas arus sungai, Gala pasti akan lebih mudah untuk bercerita.