13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #20

20: Hari Memancing

“Kalau sudah kelas satu nanti, aku juga akan diajar oleh Bu Kirana?” Tas di punggung Ayana nyaris lebih besar dari badan gadis kecil itu sendiri. Berayun-ayun sepanjang langkah menuju Sekolah Rakyat.

“Benar!” Danu sesekali membungkuk sedikit di supaya bisa lebih mendekat kepada gadis kecil itu. Gemas olehnya. “Kamu akan belajar lebih banyak hal! Tentang pohon, tentang hewan-hewan, tentang langit!”

Nehan tertawa melihat mereka. “Kelas A pasti juga menyenangkan, Ayaya!”

“Apa yang paling kamu sukai di sekolah?” Albian tersenyum sambil menambahkan.

Ayana melompat kecil. “Aku paling suka saat membaca buku cerita!”

Pagi ini, Gala dan Ayana berangkat sekolah bersama seperti biasa. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Danu, Nehan, dan Albian sehingga menjadi ramai seperti ini. Mau dibilang kebetulan, tetapi hampir setiap hari selalu bertemu dengan mereka bertiga tanpa perlu janjian terlebih dahulu.

Gala baru hendak ingin mengobrol, saat dia menyadari sesuatu di pinggir jalan. Desa Candala masih memiliki banyak tanah-tanah kosong di antara rumah-rumah, bisa berupa tanah lapang hanya dengan rumput, terkadang ada pohon-pohon, baik kecil, sedang, maupun tinggi.

Saat ini, salah satu dari beberapa tanah kosong, penuh oleh pria-pria dengan berpakaian agak kotor. Di sudut ada tumpukan pasir dan batu bata. Tahu-tahu, tanahnya sudah digali untuk membuat pondasi. Padahal, kemarin, seingat Gala tempat itu masihlah penuh oleh rumput dan pohon-pohon kayu putih setinggi satu sampai dua meter.

“Gala,” seru Danu, membuyarkan lamunan temannya. “Tugas rumah yang diberikan oleh Bu Kirana kemarin, sudah kamu kerjakan? Kalau aku sudah! Agak sulit, tetapi aku bisa.”

Gala menoleh padanya. “Tentu! Kalau buatku, tidak sulit,” katanya, membuat temannya langsung sebal.

Mereka sampai di Sekolah Rakyat tak lama kemudian. Pembelajaran dimulai, kali ini anak-anak kelas satu belajar mengenai kelinci; kebiasaan, makanan dan cara mendapatkannya, habitat, serta predator yang mengincarnya.

Hari terasa cepat bagi anak-anak. Tahu-tahu, kelas sudah berakhir dan anak-anak kembali ke rumah masing-masing. Gala makan siang bersama bunda dan Ayana, lalu berganti ke pakaian santai alih-alih judogi. Siang hari ini, dojo libur. Sensei sedang rapat rutin dengan para relawan, katanya.

“Gala bermain dahulu, Bunda!” seru anak itu sambil meninggalkan rumah.

“Iya, Nak. Hati-hati,” kata bundanya dari dapur, bersama putri kecilnya. Ayana bilang ingin memasak—sungguhan bukan bermain—dengan bunda sehingga dia tidak mengekor kakaknya untuk bermain di luar rumah.

Gala menyusuri jalanan Desa Candala. Bila dojo sedang libur, teman-teman biasanya sudah berkeliaran di sekitar. Berlarian-larian, memanjat pohon untuk mengambil buah, mengejar kambing dan domba milik penduduk yang sedang makan di rumput di lapangan, dan macam-macam.

Namun, kali ini, sejauh apa pun Gala berkeliling, dia tidak melihat satu pun anak kecil, paling-paling hanya satu dua bayi yang digendong ibu mereka di depan rumah sambil disuapi makan atau sedang berusaha ditidurkan.

Langkah anak itu melambat saat dia melewati beberapa wanita paruh baya berkumpul di kursi panjang depan salah satu rumah, asik mengobrol dengan tawa khas dan topik yang hanya menarik bagi wanita paruh baya. “Gala, tidak latihan? Apa itu namanya, Judo?” kata salah satu dari mereka, basa-basi, saat dia melintas.

“Hari ini libur, Bu. Sensei sedang rapat,” jawab singkat anak itu, kemudian berlalu meninggalkan mereka dengan sebuah langkah pelan menyusuri jalan. Samar-samar dia masih bisa mendengarkan pembicaraan wanita-wanita paruh baya di belakang.

“Kukira Mas Juan ikut memancing juga. Haduh, haduh, suamiku sejak pagi semangat sekali menyiapkan umpan. Beginilah kalau hari baik buat memancing, setahun sekali pula, semangatnya sudah seperti hendak memenangkan seratus juta uang.”

Wanita lain terkekeh, terdengar berbinar. “Penasaran juga sebenarnya, seperti apa melihat Mas Juan memancing.”

Wanita satunya lain menyenggol dengan jahil, ikut tertawa kecil dengan cara sama. “Memang mau seperti apa? Ya sama saja seperti bapak-bapak lain. Jangan mentang-mentang masih muda dan tampan, lalu kalau memancing sambil bergaya? Di mana-mana, orang memancing caranya sama.”

Lihat selengkapnya