Gala marah. Apaan-apaan kemarin itu. Hari baik untuk memancing, semua anak pergi bersama bapak mereka, sedangkan dia tak memiliki siapa pun. Setelah kesal sendiri, ternyata ayahnya datang. Namun, untuk mengurus proses pembangunan, bukan untuknya—walau dia juga tidak berharap bahwa orang itu masih cukup waras untuk memikirkan putranya.
Langit seperti hanya sedang menarik-ulur perasaannya.
“Bunda, Gala berangkat ke dojo!” Cara anak itu menyeru tidak jauh berbeda dari biasa. Judogi warna putih terpasang rapi dengan sabuk putih di pinggang. Dia meninggalkan rumah.
Namun, dia berbelok di pertengahan jalan menuju dojo. Sejak awal, dia memang tidak berniat untuk benar-benar datang ke dojo. Gala pergi ke bantaran sungai. Di sisi persis seperti kemarin saat para pria dewasa memancing bersama anak-anak mereka. Lurus dengan bangunan kayu tua tempatnya bersembunyi sendirian kemarin.
Saat ini, Gala juga sendirian, tetapi bukan untuk bersembunyi di balik bangunnan kayu tua. Dia justru masuk ke sana, mengambil cadangan peralatan memancing yang memang disiapkan dan disediakan untuk siapa pun yang ingin memancing.
Joran atau tongkat pancing, kail, senar, reel alias penggulung senar, umpan buatan dari logam dan plastik. Semuanya masih terpisah-pisah. Gala belum pernah memancing, tetapi setidaknya dia ingat seperti apa rupa alat pancing ketika semua bagian telah terpasang.
Duduk di lantai beralas kayu bangunan itu, dia mulai berusaha merakit. Tangannya terasa canggung dan asing memegang alat-alat itu. Rupanya, ini lebih sulit dari dugaan. Senar tak mau terpasang, penggulung lagi-lagi terlepas dari joran, dia kesulitan memasang umpan pada kail, tangannya nyaris terluka sendiri, jenis umpan pun dipilih dengan asal.
Namun, Gala terus mencoba. Dia tidak mau, lebih tepatnya tidak ingin menyerah. Dia juga ingin memancing seperti anak-anak kemarin bersama bapak mereka. Dia juga pasti akan bisa mendapatkan ikan seperti mereka.
Gala sudah bisa memperbaiki sepeda, pintu, jendela, dan lainnya di rumah yang rusak. Semua murni berkat mengamati dan mencoba-coba berbagai cara sendirian hingga akhirnya berhasil. Menarik pancing seharusnya tidak akan menjadi pekerjaan mustahil.
Setelah waktu cukup lama dan betapa keras kepalanya anak itu, alat pancing akhirnya jadi juga. Di beberapa bagian mungkin tidak terpasang dengan sempurna, tetapi setidaknya sudah bisa berfungsi cukup baik saat Gala mencoba mengulur dan menarik senar menggunakan gulungan.
Gala mengambil satu timba kosong—untuk menyimpan ikan hasil tangkapannya nanti—lalu melangkah keluar dari bangunan kayu ke bantaran sungai. Sesaat, dia terdiam sesaat menatap kanan-kiri. Dari sisi sungai seluas mata memandang, di mana dia harus duduk untuk mendapatkan tempat terbaik, atau setidaknya tepat, untuk memancing?
Lagi-lagi, Gala dibuat bingung dan gusar. Semua tempat terlihat sama, tetapi mengapa terkadang dia mendengar pria-pria dewasa di desa mendebatkan tentang tempat terbaik untuk memancing?
Pada akhirnya, anak itu asal duduk di bantaran sungai tak terlalu jauh dari bangunan kayu tua. Dia mengulur senar, lalu melemparkan pancingan ke air. Kemudian, duduk di atas rumput—semoga judogi putihnya tidak kotor atau bunda pasti akan mengomel nanti.
Gala menunggu.
Masih menunggu.
Ujung senar pancingan tetap tenang.