“Ayaya mau ikut…!”
“Tidak bisa. Ayaya belum boleh ikut latihan di dojo.” Gala melepaskan tangan adiknya dari ujung judogi yang dikenakannya, tetapi itu sia-sia karena gadis kecil itu langsung meraihnya kembali. Gala kebingungan sambil menatap sekitar, memanggil-manggil, “Bunda!”
Pagi ini, bundanya pergi untuk keperluan di kebun. Katanya, siang hari sepulang mereka sekolah, sudah akan pulang. Namun, sampai setelah makan siang—Gala tadi menyiapkan sendiri untuk dia dan adiknya dari bahan makan seadanya di dapur—bundanya masih belum pulang juga. Namun, Gala yakin bundanya seharusnya akan pulang sesegera mungkin. Dia memanggil sekali lagi, “Bunda!”
“Maaf, Nak.” Sebuah suara seorang wanita akhirnya terdengar dari arah halaman. Seseorang membuka pintu masuk. Bunda mereka, masih mengenakan pakaian panjang-panjang berbahan kaos dan sebah topi lebar, sedikit kotor oleh tanah dan getah pohon. Baru kembali dari kebun. “Tadi keperluannya lebih banyak dari yang Bunda kita sehingga pulang terlambat.”
“Tak masalah, Bunda,” kata Gala singkat, benar-benar terdengar tidak mempermasalahkannya. Kemudian, dia buru-buru mengadu, “Lihat, Ayaya memaksa ingin ikut ke dojo.” Di saat itu, adiknya masih memegang ujung seragam Judo yang dikenakannya, bahkan malah makin kencang sambil merengek.
Bundanya menatap mereka berdua dan jam di dinding secara bergantian. “Sekarang sudah lewat tiga puluh menit dari waktu dimulainya latihan, kalau mau izin saja tidak apa-apa, Nak. Bunda akan menyampaikannya sekarang kepada Sensei.”
Gala berusaha melepaskan Ayana darinya, tetapi kali ini lebih susah—dan dia tidak mau mengeluarkan lebih banyak tenaga dan berpotensi melukai adiknya sendiri. “Gala harus tetap berangkat, Bunda. Kemarin, Sensei membuat Gala untuk berjanji akan datang ke dojo hari ini, kalau tidak, Sensei akan marah.”
“Begitu, ya.” Bundanya mendekat untuk pelan-pelan menarik Ayana dari Gala, lalu diangkat dalam gendongannya. “Sudah, sudah, Ayaya. Kakak harus pergi ke dojo. Ayaya bersama Bunda, ya?”
Untuk sesaat, gadis kecil itu masih mengerek, tetapi kemudian menurut. Justru menyandarkan kepala di pundak bundanya, sudah tidak lagi berusaha memberontak ingin turun.
Bunda mereka tersenyum kepada Gala. “Kalau begitu, segeralah berangkat. Hati-hati di jalan. Nanti apabila dimarahi Sensei karena terlambat, bilang saja karena Gala harus menemami Ayaya sebentar sampai Bunda pulang dari kebun.”
“Iya, Bunda. Gala pergi ke dojo dahulu, Bunda!” seru anak itu sambil berlari meninggalkan rumah.
Langkahnya cekatan menyusuri jalanan Desa Candala. Dia buru-buru, tetapi tetap menjaga untuk berada di pinggir agar lebih aman, bukan melewati tengah-tengah jalan. Cahaya matahari dari atas begitu terik, tetapi itu tak mengurangi tenaga.
Jalan menuju dojo hampir sama untuk ke Sekolah Rakyat. Dia melewati tanah kosong waktu itu. Tempat sepetak pohon-pohon kayu putih pernah tumbuh liar, tetapi sekarang ramai oleh para pria mengaduk semen, menata batu bata, mengukur tanah, dan sesekali seperti bersiap untuk memasang kayu-kayu.
Salah satu seseorang di sana memakai setelan rapi alih-alih kaos kotor dengan tanah, juga tidak memegang sekop, batu bata, atau lainnya. Bersih, bukan seperti sedang bekerja di sana. Dia terlihat mengobrol dengan para pria lain, menanyakan sesuatu mengenai perkembangan proses pembangunan.
Gala berniat untuk melintas begitu saja. Dia harus sampai di dojo sesegera mungkin, sebelum Sensei akan makin marah—dia mengingat pesan bundanya tetapi dia tak merasa itu akan bekerja.
Namun, langkah anak itu terhenti juga, saat orang itu menoleh, memanggilnya. Pelan, hanya sekali, tetapi dengan cara yang Gala sangat familiar seperti sesuatu yang pernah menjadi hal yang lebih dari kebiasaan. “Gala.”
Gala mematung. Gala tak tahu harus bagaimana. Ada satu yang secara logika—entah logika milik siapa—paling tepat untuk diucapkan sebagai balasan. Ayah. Namun, kata itu sulit untuk keluar dari lidahnya. Rasanya seperti sebuah gelas kering, agak kotor, ditinggalkan, dan telah kosong. Sudah asing, dan seperti tidak cocok lagi.
Saat mata mereka bertemu, setiap bagian-bagian dari tubuhnya terasa seperti bergejolak. Dia tak bisa mengalihkan, tatapan mata itu masih familiar, masih sama. Yang dahulu pernah memberikannya kehangatan dan sesuatu yang mirip dengan rasa sebuah ketulusan, kasih sayang, dan menganggap keberadaannya.
Namun, tubuhnya bereaksi sebaliknya, dengan tidak nyaman; jantung berdetak agak kencang dengan tidak nyaman, rasanya ingin lari, rasanya ingin memegang kepala. Rasanya dingin, jauh, dan asing.