13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #23

23: Rasa Dilindungi

Ayana telah tertidur siang ini, Gala melihatnya barusan dari celah pintu kamar. Setidaknya, tak akan ada lagi drama ditarik-tarik akibat adiknya memaksa ingin ikut berangkat ke dojo. Dia kemudian berlalu menuju pintu depan rumah sambil melilitkan sabuk putih di pinggang untuk mengikat judogi-nya supaya rapi.

“Gala….” Bundanya memanggil dari ruang tamu, dengan cara berbeda dari biasa yang hampir belum pernah didengar olehnya, sambil berjalan mendekat unuk menghampiri. “Bunda ingin bertanya, Nak. Semenjak ayahmu mulai sering terlihat lagi di desa, apakah kalian pernah bertemu?”

Gala berhenti di ambang pintu, merapikan sabuk putih setelah selesai diikat, lalu menatap bundanya sambil menjawab dengan lembut, “Waktu itu, Gala sempat disapa sekali, Bunda. Namun, Gala langsung pergi karena sudah terlambat pergi ke dojo.”

“Nak, tidak usah berbicara dengannya lagi, ya?”

Gala memandang bundanya sedikit lebih lama. Permintaan itu terasa seperti memohon dan tersakiti. Aneh, pikir Gala, harusnya dia yang memohon seperti itu kepada bunda, bukan bunda kepadanya. 

Namun, bila bunda sampai berbuat sejauh ini, maka tak ada kemungkinan—walau bunda tak mengatakan langsung—selain bahwa semua antara bunda dan Pangestu memang telah seburuk itu, setidak mungkin itu untuk kembali seperti dahulu.

Pada akhirnya, Gala mangangguk menurut. “Gala berangkat ke dojo dahulu, Bunda.” 

“Iya, Nak. Hati-hati.”

Suara lembut bunda masih menggema di kepala sampai beberapa meter dia menyusuri jalan Desa Candala setelah meninggalkan rumah. Dojo masih jauh, dan yang lebih dekat, adalah sepetak tanah di pinggir jalan yang sedang dalam proses pembangunan.

Gala tak ingin memikirkannya sejak tadi, tetapi angan ini datang lagi. Terlepas dari menurut sebagai putra yang menyayangi bundanya dengan sepuluh hidup dan nyawa, sesungguhnya permintaan bundanya tadi menyakitkan untuknya. Dari semua orang, dia dilarang berbicara kepada Pangestu, yang terlepas dari segala, tetaplah ayah kandungnya sendiri.

Namun, bila Gala melakukan sebaliknya, bunda yang akan tersakiti—makin tersakiti lebih tepatnya karena sekarang saja bunda sudah tersakiti. Gala tahu bahwa situasi sekarang begitu menyakitkan bagi mereka berdua, dan dia hanya memiliki pilihan untuk memaksakan diri untuk bisa paham dan menurut. Meski itu bukan sesuatu yang menyenangkan.

Lagi-lagi, Gala menjadi murung.

“Perhatian, Anak-anak! Latihan hari ini, kalian akan….” Gala menoleh untuk menatapnya ketika Sensei bicara. Mereka baru selesai pemanasan, dia mengikuti dengan baik sejak awal kegiatan di dojo hari ini, tetapi memang kurangnya ambisi di wajahnya tidak bisa ditutupi. “Simulasi shiai.”

Simulasi shiai? Dadakan?

Anak-anak langsung menyeru bersahut-sahutan, memprotes dan mengeluh. Gala diam. Dia tahu dirinya masihlah murid unggul di antara para teman. Sekian randori sudah pernah dilalui dan dia bisa merasakan sendiri perbedaan kemampuan di antara mereka.

“Tidak boleh mengeluh!” seru Sensei lantang, membuat anak-anak terdiam. “Seorang pejudo yang tangguh tak akan pernah takut kapan pun harus menghadapi lawan! Saat sewaktu-waktu bertemu orang jahat, mereka tidak mungkin akan mengabari kalian dahulu, bukan?”

Konsep mempertaruhkan menang dan kalah, membuat Gala perlahan mulai gugup. Lagi, seperti dahulu, walau ini akan menjadi kedua kalinya melaksanakan simulasi shiai. Dia mulai tenggelam dalam angan ini, saat tiba-tiba Juan—kebetulan Gala memang berdiri di barisan paling depan dekat dengan posisi Sensei berada—menepuk kencang pundaknya.

Seketika, Gala tersadar ke kenyataan. Bisikan-bisikan menghantui tentang kalah, surut dengan cepat. Dia menatap atas kepada Juan. “Sensei?”

“Kali ini tidak ada tim, hanya pertandingan individu. Peserta pertama, Gala melawan Danu.”

Pertama? Langsung? Saat ini juga? Gala bersiap di sisi matras saat anak-anak lain beranjak ke sisi dojo, memberikan ruang matras untuk dua anak yang sedang bertandingan dan Sensei yang berperan sebagai wasit. 

Gala menarik napas, memaksakan konsentrasi tertuju kepada pertandingan. Tatapannya tertuju kepada Danu di ujung lain matras, sedang memandangnya dengan kesal. Gala bisa merasakan temannya tidak melupakan hasil dari simulasi shiai terakhir mereka—sempat diungguli Danu nyaris sepanjang pertandingan, tetapi dimenangkan oleh Gala dengan sebuah ippon di detik-detik terakhir.

Gala tak memasang ekspresi serupa, dia sedang terlalu lelah untuk repot-repot membuat ekspresi tertentu. Namun, dia juga tidak ingin dipandang rendah. Mempertahnakan kemenangan juga sama susahnya, terasa seperti sesuatu yang mengintimidasinya dengan sebuah cemoohan kencang dan tanpa henti menanti andai dia kalah. Tatapan tetap kuat, tetapi tak memungkiri ada sesuatu yang membuatnya gemetar, bukan oleh lawan, tetapi dirinya sendirian—bisikan-bisikan keraguan.

Dua anak itu sama-sama membungkuk sebentar, memberikan rei, lalu berjalan lebih dekat dengan bagian tengah matras. Juan memandang mereka bergantian. Kemudian, setelah beberapa detik jeda dirasa cukup, dia memberikan aba-aba agar pertandingan dimulai, “Hajime!”

Reaksi Gala untuk meraih dan menarik judogi Danu lebih cepat daripada datangnya bisikan-bisikan berikutnya. Saat ini masih terasa tipis, tetapi Gala bisa merasakannya mulai menghantui dirinya, mengalahkan keteguhannya. Setidaknya, sampai tatapan Gala bergeser sedikit.

Juan berada di seberang matras, sebagai wasit yang mengawasi dengan detail jalannya pertandingan—Gala tahu. Namun, kehadiran pria itu di sana, menjadikan dirinya sedikit lebih tenang. Menetralisir sesuatu yang mengganggunya dengan tarikan menjatuhkan sejak tadi.

Lihat selengkapnya