13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #24

24: Gala Kecil

“Bermain! Bermain!” Waktu itu, Gala masih usia tiga tahun. Dia anak penuh tenaga, selalu gemar mengeksplor, penasaran atas segala hal di dunia. Tidak ada waktu untuk duduk tenang, dia harus bergerak, dia harus berlari.

“Tentu, setelah Gala memakai baju.” Aruna, bundanya, sedikit lebih muda waktu itu. Wajahnya cerah, bersinar, berseri-seri seperti bunga mekar yang sedang indah-indahnya.

Gala kecil baru selesai mandi sore itu. Sepasang kaki mungil pasti sudah berlari meninggalkan kamar andai Aruna kurang cepat dalam mengeluarkan dua pasang setelan pakaian kegemaran anak itu dari lemari kayu di sisi ranjang, warna hijau putih dan warna oranye kuning.

“Gala mau yang oranye, Bunda!”

Aruna terkekeh. Mau seberapa besar energi tiada habis putranya, dia tak pernah kewalahan untuk menghadapi. Gala menggemaskan, dan itu justru menjadikan setiap detik dari hidupnya terasa begitu hidup. Sudah begitu, tanpa menunggu Aruna sampai lelah sekali pun, akan selalu ada orang yang selalu menemami, bekerja sama, dan saling berbagi tugas dalam mengurus Gala maupun rumah. Pangestu.

“Sekarang, Gala bisa bermain dengan Ayah,” kata Aruna dengan lembut setelah memakai baju pilihan anak itu dan mengoleskan minyak zaitun untuk menjaga kelembapan dan melembutkan kulit.

Gala kecil bersorak girang sambil berlari meninggalkan kamar. Melewati ruang keluarga, ruang tamu, dan pintu depan untuk menghampiri seseorang di halaman depan yang selalu menantinya seperti kebiasaan mereka setiap sore. “Ayah!”

Gala kecil masih berusia tiga tahun. Ayana belum lahir. Kata bundanya, Gala harus menunggu sekitar enam bulan lagi untuk dapat bertemu dengan adiknya. Gala tidak pernah tidak sabar, tetapi dia selalu menunggu. Setiap malam, dia akan mencium perut bundanya, sama seperti yang dilakukan ayahnya. Gala melihat perut bundanya masih sama seperti bulan-bulan lalu, tetapi kata ayahnya, perut bunda sudah mulai agak buncit.

Hari-hari itu adalah hari-hari ketika Pangestu masih hadir dalam keluarga kecil mereka. Pernikahan di antara Pangestu dan Aruna sudah berjalan lima tahun, tetapi kata orang-orang di Desa Cendala, mereka masih persis seperti pengantin baru. Masih sama romantis, gembira, dan penuh suka cita setiap hari.

Semua orang di desa tahu bahwa Gala beruntung untuk tumbuh di antara dua orang tua luar biasa. Menyayanginya dengan sepenuh hati, memerankan masing-masing peran dengan sempurna, membesarkan dan mengajarkannya berbagai hal dengan baik dan lembut; baik Aruna maupun Pangestu.

“Ayah, aku ingin berlari!” seru Gala kecil sambil menuju Pangestu di halaman depan rumah, sedang berdiri sambil mengamati buah-buah mangga di atas pohon, sebagian sebentar lagi matang, sebagian masih mentah.

Pangestu menoleh ke arah putranya datang. Kemudian tersenyum. Dia terlihat teduh, menenangkan, bagai hembusan angin sejuk setiap fajar datang. “Tentu, Ayah akan berlari bersamamu.”

Gala kecil menyeru lagi, kali ini sambil berlarian sepanjang halaman depan. Sepasang kaki kecil menapak, penuh gembira dan energi, di atas rumput-rumput liar. Tawanya riang, renyah, dan segar, yang tanpa anak itu tahu selalu menjadi sesuatu yang paling senang didengar oleh Pangestu.

Pangestu di sampingnya. Hanya perlu berlari kecil untuk menyeimbangkan kecepatan dengan anak itu. Sesekali, dia akan mengingatnya untuk melihat ke bawah ketika ada batu di sekitar, supaya anak itu waspada sehingga tidak tersandung dan terjatuh.

Lihat selengkapnya