Gala kecil tak pernah tahu apa yang sebenarnya dimaksud dari kata-kata bahwa ayahnya tak akan pernah kembali. Namun, semenjak malam itu saat bundanya berkata demikian, rumah menjadi berubah.
Pangestu tak pernah lagi terlihat. Padahal, terakhir kali Gala kecil melihatnya, orang itu masihlah tersenyum hangat, bermain dengannya, berlarian bersama, menggendongnya, mengajarkan tentang lebih banyak hewan, bunga-bunga, pohon di setiap pinggir jalanan Desa Candala.
Bunda sekarang menjadi sendirian. Aruna dan Pangestu sering masak bersama, tetapi sekarang bunda sendirian. Aruna biasanya menyapu rumah dan Pangestu membersihkan jendela serta perabotan-perabotan, tetapi sekarang bundanya sendirian. Aruna biasanya tertawa bersama Pangestu di ruang tengah, tetapi sekarang bundanya sendirian.
Bunda tidak lagi tertawa, tersenyum sedikit saja tidak. Malam telah datang lagi. Televisi tabung di ruang tengah menyala, suara sayup-sayup. Bunda duduk sayu di depannya. Matanya tidak menatap ke arah layar. Bibirnya tetap sendu, padahal orang-orang di acara televisi sedang tertawa lantang bersama-sama. Gala kecil tahu, bunda sedang bersedih.
“Bunda,” panggilnya pelan, lembut, seperti bagaimana Pangestu pernah mengajarkan. Dia ikut duduk di kursi panjang, tepat di sebelahnya. Dia mengulurkan tangan di sekitar pundak, lengannya belum terlalu panjang dan lebar dan untuk dapat memeluk dengan cara yang sama seperti bunda memeluknya—membuatnya bisa tenggelam sepenuhnya dalam dekapan bunda yang selalu mengingatnya akan sesuatu yang begitu hangat dan familiar yang pernah dirasakan begitu lama sekali mungkin saat dia masih berada di dalam perut sama seperti adiknya saat ini.
Di saat itu, Gala kecil melihat bundanya menangis. Sepasang mata cantik yang biasa menatapnya dengan lembut, sekarang berkaca, pipi yang biasa menghias senyuman hangat, kali ini basah dan lembab oleh air mata.
Bundanya menangis nyaris tanpa suara, berbeda dengan Gala kecil yang menderu kencang tiap kali menangis. Gala merasakan kepala bundanya menopang pada badannya yang masih mungil, lugu, tak tahu apa-apa. Gala tak paham apa yang terjadi, dia masih tak paham akan apa yang terjadi. Namun, dia tahu, bunda menangis kepadanya, seperti halnya Gala kecil menangis kepada bunda ketika dia jatuh kesakitan atau dikejar oleh hewan-hewan kecil yang menurutnya menakutkan.
Adiknya lahir hanya selang kurang dari satu minggu kemudian. Ayana, namanya. Dipanggil dengan Ayaya oleh Gala, menurutnya lebih menggemaskan. Adiknya begitu mirip dengan bunda; mata alis, hidung, bibir, hingga telinga. Cukup kontras dengan Gala yang kata orang-orang salinan versi mini dari Pangestu.
Wanita-wanita datang untuk membantu; menjaga Gala, memasakannya makanan, mencuci pakaian, terkadang juga bergantian menggendong bayi. Mereka di sana setidaknya tiga pekan, sampai bunda bersikeras mengatakan sudah bisa mengurus semua seorang diri, toh Gala anak yang baik. Gala kecil bisa melihat keraguan di muka wanita-wanita, tetapi mereka pergi juga meski terlihat sangat khawatir dan seperti ingin menangis.
Sejak saat itu, lagi-lagi bunda melakukan semua hal seorang diri. Memasak, menyapu, mencuci pakaian, menggendong bayi. Rumput di halaman depan dan belakang rumah terlihat tinggi, tidak ada seorang pun yang memotongnya rutin setiap minggu seperti saat Pangestu masih ada di rumah.
“Gala, Bunda minta tolong kepadamu untuk menutup pintu, Nak. Sebentar lagi sudah petang. Pintunya sudah mulai berat lagi sehingga memerlukan dua tangan untuk menutup dan menguncinya. Bunda tidak bisa karena Ayaya sedang tidak mau diturunkan dari gendongan.”
Gala kecil mengangguk. “Tentu, Bunda.”
Bundanya tersenyum. “Anak pintar.”
Gala menggunakan dua tangan untuk mendorong pintu, lalu menggeser grendel supaya terkunci. Pintu di rumah mereka memang sudah sering kasar dari dulu. Bisa sudah demikian, biasanya Pangestu yang akan menutup pintu.
Kali ini Gala yang melakukannya.
Setelah itu, Pangestu akan memeriksa sesuatu di antara masing-masing daun pintu dan kusen, lalu meneteskan sesuatu di sana. Gala terdiam, mengamati dengan teliti sambil memikirkan apa yang salah dan perlu dia lakukan seperti halnya Pangestu dulu.
Sudah berapa lama ya semenjak Pangestu pergi?