13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #26

26: Katakan Kepada Anakmu Bahwa Akulah Anakmu

“Ayo kita balapan lari!” Matahari terik menyengat kulit, khas jam-jam anak-anak pulang dari Sekolah Rakyat. Di kelas tadi, mereka belajar dengan penuh riang dan semangat. Sekarang pun, menyusuri jalanan Desa Candala dangan tas di punggung dan seragam berantakan, tenaga mereka masih belum habis.

“Ayo!” seru Albian, menimpali Nehan. “Nanti, siapa pun yang kalah tidak boleh menangis.”

Danu langsung menggerutu kesal. Sementara itu, Nehan tertawa, paham bahwa Albian menyinggung soal simulasi shiai terakhir kali di dojo, ketika Danu menangis akibat kesal karena dikalahkan oleh Gala dua kali.

Kemudian, Danu menoleh belakang. “Gala, ikut balapan lari bersama kami atau tidak?”

“Kalian saja, aku tidak ikut,” balas Gala, suaranya agak lemah. Dia juga ada di pinggir jalan. Menyusuri, tetapi dengan langkah pelan, bahkan dia cukup tertinggal dari tiga temannya.

“Baiklah.” Danu menatap depan kembali, menyeru kencang-kencang penuh semangat dan ambisi berapi khasnya. “Kita bertiga berlomba lari! Tidak boleh mendorong, menarik, menghalau jalur lawan. Satu, dua, tiga!”

Tawa kencang tiga temannya langsung bersahutan, dengan cepat berangsur makin lirih seiring mereka menghilang di kejauhan dalam waktu singkat. Meninggalkan Gala masih berjalan dengan langkah pelan.

Dia sedang tidak merasakan semangat seperti hari lain, padahal sewaktu belajar di Sekolah Rakyat tadi, dia biasa-biasa saja. Mungkin karena sepulang sekolah mengingatkannya kepada dojo, dan dojo mengingatkannya kepada Juan.

Kata-katanya kepada pria itu hari lalu, masih seperti memori segar di kepala. Dia tak ingin melihat Juan, mungkin takut apabila dia akan melihat ekspresi terluka yang sama seperti terakhir kali. Dan, sekali lagi, bohong apabila Gala tidak merasa bersalah.

Namun, bagaimana cara pria itu terasa sangat menenangkan tiap kali berada di dekatnya, membuat Gala juga takut. Dan dia sama sekali tak ingin untuk jatuh ke dalam luka yang sama, yang akan menggilas dan menghacurkannya berkeping-keping, tak peduli berapa kali dia memelas untuk dilepaskan. Lagi, lagi, dan lagi.

Semuanya bercampur aduk, sedih, sakit, menjadikannya gusar.

Tahu-tahu, Gala melihat seseorang di kejauhan. Pangestu, sedang mengobrol dengan beberapa orang dewasa lain di desa. Orang itu datang lagi, kali ini bersama seorang wanita dan anak lelaki kecil, tingginya sedikit lebih pendek dari Ayana, mungkin masih usia tiga tahun.

Langkah Gala melambat. Hidung dan telinga anak itu mirip dengan wanita di sebelahnya. Sementara mata dan bibirnya, bahkan caranya tersenyum dan tertawa, persis sedang Pangestu. Dengan kata lain, juga persis seperti Gala. Cara Pangestu menggandeng tangan anak itu, persis seperti cara orang itu menggandengnya dahulu.

Gala memaksa langkahnya untuk sedikit lebih cepat kembali, mejadi kecepatan normal kembali. Dia membuang muka saat melewati Pangestu dan anak lelaki itu, juga saat tawa mereka berdua terdengar olehnya. Gala tidak lagi berhenti, dia tidak boleh berhenti, apalagi berbalik untuk menoleh belakang menatap mereka. Gala bersumpah—lebih tepatnya ingin bersumpah dan meyakinkan dirinya—bahwa dirinya tidaklah peduli.

Lihat selengkapnya