13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #27

27: Kau Anakku

“Ibu, aku ingin membeli itu!”

“Ibu, bolehkah aku membeli ini?”

Malam ini, lapangan Desa Candala ramai oleh deretan gerobak jualan, sebagian sambil disertai sebuah  papan bertuliskan barang yang dijual, sebagian juga diberikan tenda sederhana berupa atap dengan empat kaki menyangga.

Festival Musim Panen. Acara ini digelar setiap beberapa bulan sekali pada momen panen raya tumbuhan-tumbuhan utama di desa, seperti padi atau jagung. Orang-orang akan menjual berbagai olahan makanan dan minum dari tanaman yang panen. Satu dua juga menjual mainan dari kayu atau kain perca supaya anak-anak yang datang tidak merasa bosan.

Kali ini, bertepatan dengan panen padi. Gerobak-gerobak menjual berbagai olahan nasi; digoreng, direbus, dengan berbagai bentuk dan bumbu. Ada pula kue yang dibuat dari tepung yang dibuat dari kulit padi. Minuman seperti air nasi atau tajin, susu manis diberi isi olahan ketan, juga dijual di beberapa gerobak.

“Kira-kira ada nasi goreng atau tidak, ya?” Marchie terkekeh, bercanda.

Kirana menyenggolnya. “Yang benar saja kamu mencari nasi goreng. Ini bukan di kota. Lagi pula, selama di sini, lebih baik cari makanan khas daerah saja.”

“Aku tak menyangka semua orang di desa akan seantusias ini. Kupikir tidak akan jauh berbeda dari acara makan malam bersama waktu itu,” tambah Juan. “Ini benar-benar seperti namanya, sebuah festival.”

Setiap gerobak dihias dengan lampu ukuran secukupnya di ujung atas sebagai penerangan. Langit malam dengan bintang-bintang masih gemerlap di atas Desa Candala. Namun, lapangan luas malam ini gemerlapan oleh setiap gerobak yang terkesan menyala di antara pohon-pohon tinggi di sekitar, terasa ramai dan hangat pula oleh tawa-tawa dan obrolan hangat seluruh penduduk di sekitar. Semua orang ada di sini, para pria dewasa, wanita, pemuda-pemudi, juga anak-anak kecil bahkan beberapa bayi diajak untuk datang. Sebagian untuk berjualan, sisanya ramai-ramai membeli.

Semua orang riang gembira, kecuali satu anak. Bunda berjalan di depan sambil menggandeng Ayana, sedangkan Gala mengekor beberapa langkah di belakang. Semula, dia pikir festival akan membuatnya merasa sedikit lebih baik, melihat adik dan bundanya tertawa, bertemu teman-teman, membeli camilan dan mainan. Sayangnya, belum-belum, dia sudah melihat sesuatu sebaliknya.

Pangestu rupanya belum pergi. Di ujung sana, Gala bisa melihat orang itu menggendong anak lelaki kecil di atas kedua pundak. Mereka tertawa bersama, sambil orang itu membelikannya makanan manis dan mengajak untuk memilih mainan-mainan di gerobak lain.

Gala juga pernah berada di posisi itu, ketika dia dahulu sama-sama masih tiga tahun, dengan cara tertawa yang sama, dengan tatapan Pangestu yang masih sama. Sayangnya, Gala saat ini, tak lagi bisa merasakan sedikit pun dari semua itu.

Padahal, Pangestu harusnya masihlah ayahnya.

Pelan-pelan, Gala berbalik, melangkah menjauh. Kemudian, dia berlari menyusup meninggalkan deretan gerobak-gerobak penjual, meninggalkan lapangan yang ramai, hangat, penuh oleh canda tawa, tetapi terasa begitu dingin dan menyesakkan baginya.

“Juan, ayo ke sana. Aku dan Marchie hendak membeli makanan itu, terlihat enak.”

Pria itu menggeser pandangan dari tempat terakhir Gala terlihat di antara sekumpulan orang—sejak tadi diam-diam mengawasi anak itu—menatap Kirana sebentar. “Kalian duluan saja. Aku hendak menemui seseorang.”

Marchie langsung tersenyum jahil. “Kencan, ya? Kamu seharusnya bilang dari awal, kawan. Tenang saja, aku dan Kirana tak akan mengganggu. Ayo.” Tahu-tahu, Marchie menarik tangan Kirana untuk meninggalkan sisi Juan.

Juan langsung menyahut, “Hei! Bukan begitu! Kalian salah paham—” Dia menghela napas gusar. Di luar profesi mereka dan peran sebagai relawan yang kata orang-orang Desa Candala begitu dihargai dan dihormati, bagi Juan mereka tidak lebih dari teman yang selalu ada saja cara untuk membuatnya kesal—walau dia tahu mereka tidak sedikit pun bermaksud buruk.

Lihat selengkapnya