13 Bagian yang Hilang

Adinda Amalia
Chapter #28

28: Jingga untuk Menyapa Fajar Baru

“Gala.” 

Latihan Judo hari ini baru selesai. Anak-anak lain meninggalkan dojo setelah berpamitan, tetapi Gala—yang kebetulan juga berjalan di paling belakang di antara teman-temannya—berhenti untuk berbalik, menatap pria di tepi ruang.

“Bolehkah apabila Sensei menginginkanmu untuk berada di sini lebih lama?”

Gala merasakan otot-otot di wajahnya menegang. Jantungnya berdegup kencang, kalau boleh jujur. Bila dia tidak pandai menahan diri, mungkin pipinya sudah merona sedikit sambil dia tersenyum kegirangan dan melompat-lompat. 

Kalimat Juan barusan sederhana, tetapi nadanya berbeda, benar-benar berbeda dari biasa. Tidak ada dingin, galak, tegas khas sensei di dojo. Dia lebih mirip Juan versi berusaha menawarinya bantuan untuk memasang perban saat tangannya terluka oleh gigitan biawak, atau saat menemaninya di gerobak ketika teman-temannya sedang menghabiskan waktu dengan Aris di dekat danau. Hangat tertahan, tetapi kali ini versi yang tidak ditahan.

Alias, Juan benar-benar terdengar seperti bagaimana andai pria itu adalah seseorang yang dilihatnya di rumah alih-alih Pangestu.

Gala bukan bermaksud tidak menghargai Juan. Dia ingin menarik kata-katanya waktu itu saat Juan membantunya mengambil bola yang tersangkut di atap bangunan, tentang dia tak menginginkan pria itu ikut campur kehidupannya—kalau bisa dia ingin berteriak kencang-kencang bahwa dia menginginkan hal sebaliknya. Hanya saja, dia masih bingung cara untuk menunjukkannya. Alhasil, anak itu mengangguk.

“Sensei akan menyimpan buku catatan perkembangan kalian ke dalam dahulu, setelah itu kita bisa mengobrol.” Juan beranjak menuju ruang kecil di sisi dojo, dipisahkan dari ruang utama oleh sebuah pintu kecil.

Mengobrol.

Sekali lagi, Gala menahan supaya dia tidak tersenyum kegirangan. Dia memandang sekeliling, berusaha mengalihkan perhatian. Tahu-tahu, matanya tertuju kepada pohon besar di halaman dojo. Berbuah mangga, sebagian sudah matang. Sensei pernah bilang bahwa itu adalah sebuah kebetulan yang sangat dia syukuri karena dia sangat menyukai mangga.

Gala beranjak meninggalkan ruang. Melewati pintu utama yang terbuka lebar, melompat dari beranda ke tanah di halaman depan, lalu meraih sisi-sisi pohon untuk dipegang erat, sedangkan sebagian menjadi pijakan kaki. Dia ingin mengambil sebagian, memilihkan yang matang sempurna, untuk Sensei.

Gala menemukan satu, kebetulan cukup tinggi, tetapi itu sama sekali bukan masalah. Dia memanjat lebih tinggi, nyaris mencapai puncak. Saat telah berada cukup dekat dan sebelah lengannya yang terulur baru saja berhasil memetik buah, tahu-tahu kedua kakinya terpeleset di saat bersamaan dan pegangan tangannya juga terlepas. 

Gala terjatuh.

Gala sudah sering terjatuh dari pohon, tetapi dia tak pernah suka perasaan itu. Hal itu selalu mengingatkannya kepada momen ketika dia menyadari bahwa kalimat tenang, ada ayah dari Pangestu sudah tidak lagi berlaku, bahwa orang itu sudah entah di mana alih-alih menangkapnya. Dan, hantaman kencang di punggung atau sisi badan saat dia akhirnya menghantam saja, selalu menguatkan fakta akan hal itu.

Namun, kali ini Gala tidak menghantam tanah. Juan tahu-tahu sudah ada di sana, menahan belakang judogi-nya sehingga dia tergantung di udara. Tak ada marah, kasal, menggelengkan kepala keheranan, bertanya dengan penuh penghakiman atas apa yang dilakukan; pria itu semata-mata meletakannya agar duduk di cabang terpendek pohon mangga.

Lihat selengkapnya