"Lho, Raya, kok gelap banget kamarnya? Kamu sudah tidur? Gini amat muka anak Mamah, kucel banget," suara renyah ibunya terdengar dari speaker, menampilkan wajah paruh baya yang menatap penuh selidik dari balik layar.
"Belum, Mah. Ini baru mau rebahan aja, capek habis beres-beres kamar," jawab Raya pelan, mencoba menahan dada yang mendadak kembali sesak. "Mamah kenapa belum tidur?"
"Mamah cuma kangen. Soalnya udah dua hari kamu gak chat Mamah,” ucap ibunya dengan raut khawatir.
“Oh ya, gimana Dika belakangan ini? Dia juga sama, jarang nelpon Mamah. Biasanya seminggu sekali pasti nanyain kabar Mamah."
Mata Raya refleks melirik ke arah kardus di sudut kamar—tempat boneka dan jurnal lama teronggok diam dalam gelap.
Tangannya yang memegang ponsel kembali dingin. Raya menelan ludah yang rasanya menyangkut di tenggorokan. Ada jeda yang menyiksa.
"Dika... dia baik-baik aja kok, Mah. Akhir-akhir ini kerjanya lagi padat banget, makanya agak sibuk." Kalimat Raya tercekat di sana.
"Oh, pantesan. Ya sudah, nanti kalau kamu kontak dia, bilangin jangan lupa istirahat, ya.”
Raya menjawab satu per satu dengan kalimat-kalimat pendek. Ia berusaha keras menjaga agar suaranya tidak terdengar bergetar atau sengau. Di layar, wajah ibunya baru tampak lega setelah melihat Raya tersenyum.