Di meja sudut itu, Asti membuka kotak makan plastik berwarna pastel dengan motif kucing. Rapi dan sederhana. Sangat kontras dengan menu makanan kantin pada umumnya yang cenderung seragam. Raya melirik sekilas, lalu kembali menatap mangkuk sotonya sendiri.
Keheningan sempat menggantung di antara mereka. Hanya ada suara sendok yang beradu dengan mangkuk, diselingi kunyahan pelan yang nyaris serempak.
Asti menjadi yang pertama memecah sunyi. “Tumben, Ray. Biasanya makan di dalam.”
Raya mendongak sebentar, lalu menjawab tanpa banyak jeda. “Lagi pengen aja, Mbak Asti. Pengen nyobain soto kantin. Katanya anak-anak enak, tapi… biasa aja sih menurut aku. Apa mulut aku yang lagi aneh, ya?”
Asti mengangguk kecil. “Ya namanya juga makanan kantin, Ray. Selera orang beda-beda.”
Ia menggeser sedikit wadah bekalnya, gerakan itu membuat layar ponsel di sebelahnya menyala, menampilkan wallpaper foto Asti yang sedang tersenyum lebar sambil memeluk seekor kucing anggora putih, dengan dua kucing lain di sisi kanan dan kirinya.
Raya tanpa sadar tersenyum kecil melihatnya. “Wah, lucu banget, Mbak. Kucingnya?”
Ekspresi Asti berubah cerah dalam sepersekian detik. “Yang putih ini namanya Luvi,” katanya tiba-tiba sambil menunjuk layar. “Yang abu-abu namanya Tom, terus yang warna krem ini… Luna.”
Ia menggeser layar ponselnya pelan, memperlihatkan foto peliharannya satu per satu dengan antusiasme yang tidak pernah ia tunjukkan selama berada di area kerja.
“Punya kucing juga di rumah?” tanya Asti kemudian.
Raya menggeleng kecil. “Enggak. Tapi aku suka, Mbak.”
“Emang nggak repot kalau ngurus tiga sekaligus, Mbak?” tanya Raya lagi, memancing obrolan sambil menyuap sotonya. “Kayanya aku piara satu aja udah kewalahan deh.”
Asti tertawa pelan. “Hehe… ribet sih. Tapi ya… kesenangannya sebanding kok.”
Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi, menatap layar ponselnya lagi sejenak sebelum melanjutkan.