Sebuah tawa renyah pecah dari balik punggung mereka. Susan, rekan sekantor dari divisi sebelah, sudah berdiri di sana sambil memegangi perutnya yang kaku karena puas menjahili Asti. Wajahnya tanpa dosa sama sekali.
"Dasar! Kebiasaan banget deh kamu, San!" omel Asti sambil mengelus dada, memasang raut muka bersungut-sungut yang justru kelihatan konyol. "Untung jantungku gak pindah ke lambung!"
Susan hanya menjulurkan lidah, lalu mencondongkan tubuhnya ke meja dengan mata berbinar jahil. "Nanti sore ya, As! Rujak... rujak! Jangan lupa, awas aja kalau kabur duluan."
Asti yang sisa kagetnya belum hilang sepenuhnya, akhirnya hanya bisa mendengus pasrah. Ia mengangkat tangan kiri, mengacungkan ibu jari mantap ke udara. "Siap!" sahutnya pendek.
Susan mengedipkan sebelah mata dengan puas, lalu melenggang pergi meninggalkan sudut kantin sekencang kedatangannya tadi.
Begitu suasana kembali tenang, Asti kembali menggeser ponselnya ke samping, lalu menatap Raya lebih langsung. “Eh iya… kamu belum pernah mampir ke kontrakan aku, ya?”
Raya membuka mulut sedikit, tetapi belum sempat menyusun jawaban.
“Padahal teman-teman dari divisi lain aja sudah pernah mampir, bahkan ada yang nginep,” lanjut Asti ringan. Ia memberikan atensi penuh pada rekan kerjanya itu. “Gimana kalau sore ini kamu mampir ke kontrakan aku?”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa aba-aba. Raya terdiam sejenak.
“Ada acara gak?” tanya Asti cepat, memotong keraguan Raya.
“Enggak ada sih, Mbak,” jawab Raya akhirnya.
“Kalau gitu fix, ya,” kata Asti langsung. Nada suaranya terdengar tegas, seolah keputusan itu sudah mutlak diambil. “Nanti aku kenalin sama anak-anak aku. Luvi, Tom, sama Luna.”