Langkah kaki Asti mendadak melambat saat mereka baru saja melewati deretan ruko tua yang tutup. Trotoar sore itu cukup ramai oleh pekerja yang bergegas menuju halte, namun Asti tiba-tiba memotong jalur jalan kaki mereka, melipir ke sebuah sudut sempit di antara sela tembok beton pembatas jalan dan tiang listrik yang berkarat.
Raya menghentikan langkah, menatap Asti dengan dahi mengkerut. Tempat itu agak gelap, kotor, dan tertutup oleh juntaian tanaman liar. Orang yang berjalan normal di trotoar dijamin tidak akan pernah menyadari ada apa di balik celah sempit tersebut. Raya merasa aneh, mengira Asti mungkin menjatuhkan sesuatu.
Namun, Asti justru berjongkok tanpa ragu. Rok kerjanya yang span sedikit tersingkap saat tangannya yang ramping meraba ke dalam celah beton yang gelap.
Saat kembali berdiri, Asti sudah memegang sebuah wadah makanan plastik ceper berwarna pudar yang bagian sudutnya sudah agak pecah. Di dalam wadah itu, masih tersisa beberapa butir makanan kering kucing yang hancur bercampur debu jalanan.
Dengan gerakan yang sangat cekatan seolah sudah melakukannya ratusan kali, Asti merogoh kantong samping ranselnya, mengeluarkan sebuah kantong kresek hitam kecil. Ia menuangkan sisa makanan yang rusak itu ke dalam plastik, lalu mengelap wadah ceper tersebut dengan selembar tisu basah yang ia cabut dari saku kemejanya.
"Biasanya ada beberapa kucing kampung di sini kalau siang," ucap Asti tiba-tiba, memecah kebingungan Raya.
Ia memasukkan kembali wadah plastik yang sudah bersih itu ke dalam tas, lalu mengikat kantong kresek berisi sisa makanan tadi dengan rapi.
Di bawah temaram lampu jalanan kota yang baru menyala satu per satu, Asti sudah kembali berjalan santai memimpin di depan.
"Kasihan, mereka lapar," ujar Asti. Nada suaranya datar.