Asti menatap lurus ke arah cangkir tehnya yang masih berasap, lalu menarik napas panjang.
"Aku tuh pengen tetep berbakti, Ray, pengen ketemu mereka. Tapi jujur, tiap kali abis pulang, rasanya capek banget nguras mental. Makanya buat sekarang, aku cuma pengen rehat dulu..."
Asti mendongak, lalu terkekeh pelan melihat ekspresi tegang di wajah temannya. "Eh? Enggak apa-apa, Ray. Santai aja. Muka kamu jangan kayak habis ketahuan maling jemuran gitu dong."
Asti membenarkan posisi duduk, lalu menatap kembali cangkir teh di depannya dengan senyum tipis yang sarat arti. "Tapi, karena kamu udah telanjur nanya dan kita baru pertama kali sedekat ini... kamu harus siap-siap, ya. Ceritaku agak panjang, dan mungkin gak seceria yang kamu bayangkan.”
“Masih mau denger?"
Raya sempat tertegun, namun kemudian ia mengangguk pelan. Ia memposisikan diri untuk menyimak dengan sungguh-sungguh.
"Ingatan aku tentang orang tua itu sedikit banget," lanjut Asti. Nadanya kembali melandai, matanya mulai menatap kosong ke depan. "Aku cuma... sering inget satu momen pas sekolah SD dulu. Dulu pas SD, aku tergolong anak yang cerdas dan berbakat. Dari kelas satu sampai kelas enam, aku selalu dapet peringkat satu. Gak pernah turun."
Raya mendengarkan dalam diam.
"Dan satu-satunya hal yang paling aku inginkan waktu itu sederhana banget, Ray. Aku cuma pengen dapet ucapan selamat langsung dari orang tuaku. Atau dibilang 'kamu hebat'. Cuma itu." Suara Asti bergetar sesaat, namun ia cepat-cepat menguasai diri kembali. "Tapi ucapan itu gak pernah kunjung aku dapatkan. Sampai aku lulus."
Asti menoleh ke arah Raya. Senyum kecut menghiasi wajahnya yang kelihatan lelah. "Lama-lama aku berhenti nunggu ucapan itu datang."
Raya membeku. Tangannya yang sejak tadi diam di atas punggung Luvi mendadak kaku di udara.
Seolah bisa merasakan perubahan emosi di ruangan itu, si anggora putih mendongak sebentar, lalu melompat turun dari pangkuan Raya. Kucing itu berjalan menghampiri Asti, menyandarkan kepalanya di kaki pemiliknya dengan manja. Suasana di dalam ruangan terasa begitu padat dan mengimpit.